Artikel

SENI RUPA MURNI DAERAH

    Dibaca 1955 kali kesenian cirebon artikel

Boleh jadi tulisan ini semacam kerinduan penulis terhadap dunia seni rupa, karena pada dasarnya penulis memiliki basic seni rupa sejak dari kecil sampai dewasa yang kemudian penulis masuk ke ranah dunia jurnalistik menjadi salah satu ilustrasionis dalam cerita pendek yang dimuat di PR.Edisi Cirebon (sekarang Kabar Cirebon) pada era 1990-an termasuk menulis tentang artikel budaya, sebelum pada akhirnya penulis menemukan jati dirinya di dunia seni yang lain (teater dan tari) pada sebuah institusi kesenian formal di Bandung (STSI Bandung). Dari kerinduan ini penulis mencoba menuangkannya dalam bentuk tulisan setelah terinspirasi pelukis yang menganut  aliran Realis dan Naturalis, yaitu “Duki Jabrig “. Beliau sehari-harinya berkarya di Pasar Seni Sunyaragi Cirebon di bawah binaan Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon, yang secara kebetulan tempatnya ada di sebelah kantor / sebagai seniman binaan dimana penulis bekerja.

“ Seni rupa adalah gagasan manusia yang diekspresikan melalui pola kelakuan tertentu dengan media titik, garis, bidang, bentuk, warna, tekstur, dan gelap terang yang ditata dengan prinsip tertentu sehingga menghasilkan karya yang indah dan bermakna “ (Tim Abdi Guru, 2006-1)



Dari perspektif fungsi atau kegunaannya, karya seni rupa dibedakan menjadi dua yaitu, Seni Rupa Terapan dan Seni Rupa Murni. Seni Rupa Terapanmengutamakan fungsi pakainya dan dinikmati segi keindahan bentuknya. Sedangkan Seni Rupa Murni yang diutamakan adalah fungsi keindahannya.

Di  Indonesia Karya seni rupa murni banyak kita jumpai di daerah-daerah, misalnya seni lukis Jelekong Jawa Barat, dan Seni Patung Muntilan-Magelang Jawa Tengah. Seni Lukis Wayang dan Patung Keramik Bantul Yogyakarta, Seni Lukis dan Seni Patung Ubud Bali, Seni Patung Asmat Papua, dan masih banyak seni murni dari daerah lainnya. Dari berbagai jenis karya seni rupa murni di berbagai daerah tersebut masing-masing memiliki karakteristik atau cirri khas sendiri-sendiri (Local Collour). Adapun cirri khas yang membedakan karya seni rupa murni daerah satu dengan daerah lainnya adalah nilai-nilai budayanya (Local Genius).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seni rupa murni daerah adalah gagasan manusia yang berisi nilai-nilai budaya suatu daerah tertentu yang diekspresikan melalui pola kelakuan tertentu lewat media titik, garis, bidang, bentuk, warna, tekstur, dan gelap terang yang ditata dengan prinsip tertentu sehingga menghasilkan karya yang indah dan bermakna. Dengan perkataan lain seni rupa murni daerah adalah seni rupa murni yang berisi nilai-nilai budaya daerah tertentu dengan penyampaian pesan dan maknanya lewat sebuah gambar. Sedangkan seni rupa murni daerah yang berisikan nilai-nilai budaya daerah tersebut, paling tidak kitapun harus memahami pula mengenai  ragam seni rupa murni daerah itu sendiri yang diantaranya adalah :

-          Seni Lukis Daerah, yaitu merupakan salah satu cabang dari seni rupa yang berdimensi dua. Melukis adalah kegiatan membubuhkan cat (kental maupun cair) di atas bidang yang datar seperti pada kain kanvas, kaca, dan sebabaginya. Dari pembubuhan cat tersebut diharapkan dapat mengekspresikan berbagai makna atau nilai subjektif. Nilai-nilai yang  melekat pada lukisan dipengaruhi oleh budaya yang dimiliki pelukisnya, seni lukis daerah tentu mengandung nilai-nilai budaya daerah yang bersangkutan.

  1. A. Seni Patung Daerah, yaitu merupakan cabang dari karya seni rupa yang berdimensi  tiga sehingga    sering diucapkan orang Patung Tiga Dimensi. Membuat patung berarti membuat benda tiga dimensi   dengan bahan, alat, dan teknik tertentu sehingga menghasilkan karya yang indah dan bermakna. Patung sebagai karya seni rupa murni daerah tentu memiliki nilai-nilai budaya daerah contohnya Patung Asmat (Papua), Patung Suku Dayak (Kalimantan), Patung Yogyakarta, dan lain sebagainya.
  1. A. T E M A

Sedangkan sentuhan dari tema yang diangkat dalam dunia seni rupa murni, biasanya sangat erat sekali dengan hubungan manusia selaku makhluk sosial. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai makhluk sosial, manusia berinteraksi dengan manusia yang lain, kebutuhan hidup manusia dapat digolongkan menjadi tiga :

-          Kebutuhan Primer, yang berkaitan dengan kebutuhan sandang, pangan, dan papan ;

-          Kebutuhan Sosial, yang berkaitan dengan manusia yang lain, dan ;

-          Kebutuhan Integratif, yang berkaitan dengan citarasa keindahan.

UIntuk memenuhi kebutuhan akan citarasa keindahan tersebut, manusia berpikir dan membuat karya seni. Tema  itu sendiri sering muncul dalam karya seni rupa adalah hal seputar manusia dan hubungan dengan dunianya

  1. MANUSIA SEBAGAI INDIVIDU (Diri Sendiri)

Seni rupa sebagai ekspresi diri sendiri, sering dijadikan sarana pengungkapan gagasan. Dirinya sendiri dapat juga dijadikan objek perwujudan ungkapan citrasa  keindahan. Hal ini dapat dijumpai pada pelukis ekspresionis nusantara  “ Affandi “, yang beberapa kali membuat lukisan yang berjudul “ Potret Diri “. Hal ini juga dfitemui pada pelukis ekspresionis dari Belanda “ Vincent Van Gogh “, maupun pada pelukis lainnya.

-Hubungan Manusia Dengan Manusia Yang Lain

Manusia sebagai makhluk sosial senantiasa berhubungan dengan sesamanya, baik dalam rangka menjalin hubungan kekerabatan, persaudaraan, persahabatan, emosional, maupun hubungan sosial lainnya. Manusia dalam mengekspresikan citarasa keindahannya sering menjadikan orang-orang di sekitarnya sebagai objek lukisan. Misalnya istrinya, anak-anaknya, orang tuanya, saudaranya, temannya, tetangganya, kekasihnya, atau sahabatnya.

-Hubungan Manusia Dengan Alam Sekitarnya

Alam yang ada di sekitar manusia dapat juga dijadikan objek karya seni rupa. Misalnya binatang, tumbuh-tumbuhan, persawahan, pegunungan, sungai, danau, ngarai, hutan, pantai, awan, langit, bintang, bulan, dan matahari. Dan karya seni yang bertemakan alam disekitarnya itu dapat juga digunakan untuk mengekspresikan betapa besar-Nya Kekuasaan Tuhan.

-Manusia Dengan Kegiatannya

Manusia dalam kehidupan sehari-hari selalu melakukan aktivitas atau kegiatan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Ada yang bekerja di sawah ; seperti mencangkul, membajak, menanam padi, dan memanen padin. Ada juga kegiatan lain seperti nelayan menangkap ikan di laut, memancing ikan di sungai, memelihara ikan di kolam, memelihara ternak di belakang rumah, seorang kusir mengendalikan delman, pedagang menjajakan barang dagangannya, dan masih banyak kegiatan manusia yang lain. Dan kativitas seperti itupun sering dijadikan sebagai objek karya seni rupa.

-Manusia Dengan Alam Benda

Yang dimaksud dengan Alam Benda, yaitu, kehadiran benda-benda yang dapat diajdikan objek karya seni rupa dengan keanekaragamannya. Benda di sekitar kitapun bentuknya bermacam-macam, seperti benda dalam bentuk Kubistis, Silindris, atau bentuk bebas.

Bentuk silindris yaitu bentuk benda yang ada di sekitar kita (di rumah) misalnya ; Gelas, Cangkir, Kendi,Teko, Poci, Termos, Botol, Guci, Vas Bunga, Asbak, dan lain sebagainya.

Sedangkan alam benda yang berbetuk Kubistisris antara lain :

Bentuk Kubistis, yaitu bentuk benda yang ada di sekitar meja (di rumah) seperti ; Meja,Kursi, Lemari, Buffet, Pesawat TV, Kulkas, Rak Sepatu, Tempat Tidur, perangkat Audio, dan lain sebagainya.

Hubungan Manusia Dengan Alam Khayal

Di dalam pikiran manusia sering muncul gagasan-gagasan, imajinasi, atau khayalan khayalan. Bahkan khayalan-khayalan yang ada di benaknya sering muncul di alam mimpinya. Untuk mewujudkannya melalui karya seni rupa. Sehingga, kita sering melihat karya rupa yang menampilkan alam yang tidak pernah kita jumpai.

  1. C. GAYA SENI RUPA MURNI DAERAH

Globalisasi sangat kuat sekali pengaruhnya dalam perkembangan suatu kebudayaan, hal ini akan berpengaruh pula pada dunia seni rupa, antara lain ; corak, gaya, bahkan sampai berpengaruh pula pada keragaman aliran  seni rupa itu sendiri. Manusia yang hidup pada jaman yang masih sangat sederhana dengan sendirinya akan memiliki ekspresi/karya seni rupa yang sederhana pula, sedangkan manusia yang hidup pada jaman modern dengan sendirinya akan memiliki ekspres/karyai seni rupa yang modern.

Gaya seni rupa murni yang ada di daerah-daerah cenderung tradisional. Hal ini disebabkan oleh keinginan perupanya  yang mempertahankan nilai-nilai tradisi daerahnya. Gaya seni rupa tradisional  bersifat turun temurun, artinya karya seni rupa yang dicipta oleh masyarakat tidak mengalami perubahan dari masa ke masa. Gaya seni rupa tradisional dapat dibedakan menjadi dua gaya, yaitu gaya Primitif dan gaya Klasik.(penulis: Wahyoe Koesoemah, S.Sn)