Artikel

SUMBER-SUMBER KEARIFAN LOKAL DI CIREBON

    Dibaca 953 kali budaya kesenian cirebon

I. Pendahuluan

Nilai-nilai kearifan lokal di Cirebon sangat banyak jumlahnya ada yang masih setia diikuti dan ada yang sudah tidak diikuti lagi, bahkan ada masyarakat yang menilainya sebagai suatu hal yang takhayul, bid’ah dan khurofat. Namun ada juga masyarakat yang menilainya sebagai sebuah berkah. Apapun pandangan masyarakat terhadap nilai-nilai kearifan lokal yang ada di cirebon sebetulnya merupakan sebuah identitas dari jati diri orang cirebon (Local genius).

Sebetulnya nilai-nilai kearifan lokal ini jika kita memeliharanya dengan baik akan menjadi daya tarik tersendiri. Contohnya masyarakat Jepang yang selalu menghargai adat istiadat bangsanya. Mereka tidak pernah ketinggalan dari bangsa lain dalam pergaulan internasional. Film-film Italia pada dekade 1980an banyak yang mengangkat adegan nonton opera. Thailand juga banyak mempromosikan pesona wisatanya lewat film, misalnya salah satu pulaunya dipromosikan dalam salah satu film James Bond. Ada juga yang dijadikan latar belakang setting video klipnya Michele Jackson dalam lagu “Black or White”.

Masyarakat Cirebon termasuk masyarakat yang beruntung sebab ditengah-tengah kontraversi perlakuan terhadap nilai-nilai kearifan lokal, nenek moyangnya sudah menyiapkan suatu perangkat untuk menyimpan nilai-nilai luhur warisan orang tua yang memiliki sejarah panjang. Media penyimpanan itu berbentuk tradisi tulis (manuskrip) dan tradisi lisan. Tradisi tulis atau tradisi keberaksaraan sudah ada sejak lama, tidak jelas mana yang lebih dahulu antara tradisi lisan dengan tradisi tulisan, karena keduanya memiliki posisi yang saling mempengaruhi. Tidak semua tradisi tulis diturunkan dengan cara membuat salinan.

Adakalanya tradisi tulis diturunkan



dengan cara menghapal, begitu pula sebaliknya, tradisi lisan ada yang diturunkan dengan cara tertulis. Di lingkungan Kraton tradisi penyalinan naskah telah berlangsung secara turun temurun, terutama di lingkungan Kraton Kaprabon, penyalinan ini dilakukan sendiri oleh para rama guru dari satu generasi ke generasi berikutnya. Naskah-naskah yang disalin sendiri oleh rama guru tersebut adalah naskah tasawuf, naskah sejarah, atau naskah lainnya yang berhubungan dengan ilmu hikmah.

Mengapa naskah-naskah tersebut disalin sendiri oleh para rama guru tersebut? Karena kandungan isi naskah tersebut memuat substansi yang tabu bagi orang yang belum pernah bai’at tarekat, sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan dampak negatif apabila penyalinannya dipercayakan kepada sembarang orang. Menurut P. Herman Raja Kaprabon (alm) penyalinan (transliterasi) naskah Kraton Kaprabon dilakukan sejak pada masa Pangeran Adipati Arya Kaprabon (1698) yang menyalin naskah-naskah Sultan kanoman I, Abul Manahir Muhammad Badridin. Transliterasi dilakukan dengan cara mengganti aksara carakan dengan pegon. Namun pada masa Pangeran Raja Kaprabon (1946-1974) penyalinan/transliterasi sudah menggunakan aksara latin, dari carakan ke pegon dana dari pegon ke latin bahkan sudah ada naskah yang disalin ke dalam bahasa sunda dan bahasa melayu.

Berbeda dengan di Kraton, tradisi tulis dan tradisi lisan di pesantren berjalan hampir beriringan. Di pesantren penyalinan dilakukan bukan hanya untuk metode transformasi ilmu, tetapi juga sebagai teknik untuk menghapal ilmu yang diajarkan. Sehingga proses tradisi tulis dan trdisi lisan masih berlangsung sampai sekarang walaupun sudah banyak kitab yang diterbitkan dalam bentuk cetak (reproprint) upaya penyalinan yang dilakukan oleh para santri bertujuan untuk melatih ketrampilan menulis selain mengambil tabaruk dari upaya tersebut.

Di masyarakat yang berada pada lingkup seni, khususnya seni wayang dan macepat, tradisi pewarisaanya juga menggunakan cara lisan dan upaya pencatatan. Kader dalang muda banyak yang melakukan penyalinan dari dalang senior. Namun tidak sedikit kader-kader dalang muda yang mengalami proses transformasi ilmu tersebut dengan cara lisan, baik sengaja maupun tidak disengaja. Ada yang diberi ijazah lisan langsung oleh gurunya dan ada yang didapat dengan cara magang atau ngenger (mengikuti) dalang senior pagelaran sambil manjak (menjadi penabuh gamelan).

Artikel berikutnya… II. Tradisi Keberaksaraan (Manuskrip)