Artikel

” BUAYA PERUPA YANG MENGEJUTKAN “ ( Sebuah Catatan Kecil Tentang Perupa “ Dana Kartiman “ )

    Dibaca 243 kali artikel

“ Gambar merupakan bahasa yang universal dan telah berkembang sebelum ditemukannya bahasa tulisan. Sejak zaman prasejarah manusia primitif telah mengenal gambar sebagai bahasa rupa. Hal ini dibuktikan dengan banyak ditemukannya gambar dan lukisan di goa-goa tempat tinggal manusia saat itu “ ( Very Apriyatno, S.Sn, Cara Mudah Menggambar Dengan Pensil, Hal.41, Tahun2004, Kawanan Pustaka )

Dari gambar-gambar tersebut terdapat beberapa kesamaan tema dan objek gambar. Pada umumnya, tema yang diangkat adalah seputar kehidupan manusia sehari-hari pada zaman itu, seperti berburu binatang, benda-benda langit, dan ritual keagamaan yang berkembang saat itu (animisme dan dinamisme).

           Seiring dengan berkembangnya zaman dan peradaban manusia, seni menggambar juga mengalami perkembangan yang sangat pesat. Tiap suku etnis mempunyai ciri khas sendiri dalam hal motif atau gayanya. Gambar tidak hanya berfungsi sebagai hiasan semata tetapi lebih sarat dengan isi dan muatan filosofis yang dianggap memilikli kekuatan magis dan melukiskan mitologi yang dipercayai  manusia beribu-ribu tahun lamanya.

        Dewasa ini seni menggambar tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang sakral. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan gambar mengalami pergeseran fungsi dan makna. Saat ini menggambar sudah menjadi bidang keilmuan yang mempunyai banyak cabang dan turunan menurut fungsinya. Menyatu dengan perkembangan teknologi sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Menggambar adalah induk dari segala ilmu seni rupa, baik itu seni rupa murni (seperti seni lukis, seni patung, seni grafis, seni keramik) maupun seni rupa terapan (seperti desain dan arsitektur).

          Bagi seorang perupa, seperti seniman, desainer, arsitek, komikus, kartunis, ilustrator, dan drafter, keterampilan, pengetahuan, dan wawasan dalam menggambar teknik dasar mutlak harus dikuasai sebagai “ basic proses “ kreasinya. Pada intinya, menggambar adalah Perpaduan Keterampilan (Skill), Kepekaan Rasa (Teste), Kreativitas, Ide, Pengetahuan dan Wawasan.

 

Pengertian anatomi

           Setiap perupa mempunyai kecenderungan, cara, dan teknik yang berbeda-beda dalam menggambar anatomi. Teknik dan proporsi dalam sebuah media baik dalam bentuk kertas, kain kanvas, dan sebagainya, tidaklah mutlak dan bukan satu-satunya cara dalam menggambar anatomi. Hal terpenting yang harus diperhitungkan dalam menggambar anatomi adalah proporsi dan perbandingan antara besar kepala, badan, dan anggota badan. Metode yang paling efektif dalam menggambar anatomi adalah dengan cara melihat objek photo atau objek manusia secara langsung sebagai modelnya.

           Kaitannya dengan pemahaman di atas inilah yang penulis jadikan sebagai rujukan tentang profil seorang perupa “ Dana Kartiman “ yang menggelitik hati penulis tentang kekuatan hasil karya lukisnya dengan tingkat anatomi yang boleh dikatakan akurat bahkan nyaris sempurna.

Jika seseorang ditanya tentang figur eksistensi seorang “ Dana Kartiman “ di Kota Cirebon, maka banyak orang yang mengetahui dan menjawab ; beliau adalah seorang yang menjadi Komandannya di  Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon. Dari penampilannya yang sangat bersahaja bahkan terkesan egaliter  familier, wajar jika beliau banyak dikenal orang terutama di kalangan SKPD se-Kota Cirebon termasuk pula dari kerendahan hatinya yang selalu Well Come terhadap siapapun.

           Tapi banyakkah orang yang paham dan mengetahui tentang keterampilan beliau dan keahliannya sebagai Seniman Perupa ? penulis yakin pasti jawabannya banyak orang yang tidak mengetahuinya, hal ini dikarenakan beliau jika penulis kategorikan dengan Perupa-perupa lainnya beliau merupakan salah satu tifikal seorang  seniman Perupa yang defensif, tidak ngoyo terhadap popularitas, termasuk kurang produktif dalam mengapungkan karyanya kepada khalayak ramai---mengapa demikian ? ini bisa kita maklumi karena beliau  dalam kesehariannya lebih kental terhadap tugasnya sebagai pengabdi dan pelayan publik dimana beliau menjabat selaku Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sehingga kalau beliau mencoba berkarya, hal ini tidak lebih dari sekedar upaya Sublimasi (pencerahan) disela-sela kesibukannya bertugas. Dan yang lebih kental lagi beliau berkarya tergantung kepada situasi dan nalurinya (baca ; Mood atau sedang tidak Mood).

         Dalam tulisan ini penulis akan mencoba memanfaatkan pengalaman penulis sendiri yang secara tidak sengaja melihat hasil karya lukisnya dalam bentuk sketsa wajah profil-profil orang-orang terkenal di Cirebon yang diantara objeknya adalah para pejabat, seniman, budayawan, dan sebagainya. Mungkin penulis termasuk orang yang beruntung, karena dari pengalaman tersebut, tabir dari  Skill dan kredibilitas seorang  “ Dana Kartiman  sebagai seorang Perupa menjadi diketahui, dari ketidak sengajaan tersebut penulis mencoba mengapresiasi karya beliau—disitu ada nilai empati spontan penulis bahkan sampai tercetus ungkapan kata-kata “ Edan “ sebagai simbol pujian kejujuran penulis terhadap karya-karya beliau.

  

Contoh Karya  Lukisan Mang Dana

Contoh Karya Mang Dana

 

  Potensi Yang Tumbuh Di Belukar

           Dalam judul tulisan ini penulis berani  mengatakan bahwa beliau adalah “ Buaya Perupa “ yang mengejutkan, ini semata-mata ungkapan sebuah kejujuran penulis yang melihat  kekuatan “ “ Dana  Kartiman “ dalam memeluk naluri, imajinasi, serta keterampilannya dalam memberdayakan jari-jari dan tangannya di atas lembaran kertas sebagai medianya, sangat terjaga dan terpelihara. Kepekaan terhadap dimensi wajah dan anatomi objek yang dilukisnya sangat akurat bahkan nyaris sempurna, sehingga terpikirlah oleh penulis untuk menginventarisir karya-karyanya sebabagai sebuah catatan kecil.

            Ada sensasional yang tak bisa dipungkiri pada saat beliau mulai menggoreskan Krayon, Konte, Koas, atau apa saja pada media yang dijadikan subjek coretannya, terlihat jari-jemarinya yang garang dan beringas bak seeekor Buaya lapar yang mencari mangsa, seakan-akan jari-jari beliau sedang menggembala imajinasinya supaya tidak keluar dari sasaran dan target lukisannya. Hal ini sangat kontradiktif sekali jika dibandingkan dengan keseharian beliau yang Low Profil, tenang, dan selalu mengumbar senyum persahabatan terhadap siapa saja terutama yang dikenalnya.

            Dari faktanya yang seperti itu, penulis berani menganalogikan bahwa beliau adalah Potensi yang tumbuh di belukar, ada kekhawatiran dari perjalanan karirnya yang tidak hadir dalam forumnya secara proporsional mengingat Belukar itu sangat identik dengan binatang predator seperti ular, Kadal, atau Katak, maka jika ular tersebut mematuknya, maka akan  selesailah geliati potensi kekaryaannya.

              Dari perjalanan beliau dalam meniti karirnya sebagai seorang Perupa, sejatinya beliau adalah seniman perupa otodidak yang secara embrional berkarya dengan teman-teman se-profesinya di tanah kelahirannya di daerah Tasik Malaya, dan sekitar tahun 1970-an beliau mencoba membuat sebuah kelompok yang diberi nama “ Komunitas Perupa Jalanan Tasik Malaya “ (KPJTM) yang melukis di Sawah, Pasar, Emperan Toko, di bawah pohon rindang dengan tujuan lebih kepada kepuasan batin semata ketimbang lebih mengarah pada profit, meskipun jika karyanya ada yang membelinya itupun hanya sekedar untuk mengganti biaya operasional seperti mengganti Cat, Kanvas, dan Koas.

 

Rencana Pameran Tunggal.

              Meski agak terkesan ragu-ragu, berkat dorongan serta dukungan dari teman-teman seniman Perupa Cirebon termasuk rekan-rekan karyawan yang ada di Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata agar beliau berkeinginan untuk membuka ruang kepada masyarakat ramai sehingga karyanya bisa diapresiasi dan dinikmati secara utuh. Tentunya untuk mengimplementasikan karya-karya tangannya tersebut beliau berencana satu saat akan mengadakan  event Pameran Tunggal dengan tujuan antara lain ; untuk memberikan motivasi kepada para Perupa Cirebon untuk lebih giat lagi berkarya dan berpameran bersama, kebutuhan edukatif, bahkan tidak menutup kemungkinan untuk melakukan lelang lukisan juga.      

Dengan adanya upaya untuk melakukan Pameran Tunggal tersebut, tentunya diharapkan hingar bingarnya dunia lukis di  Cirebon akan semakin kental dalam habitatnya, bahwa Cirebon sebagai Kota Budaya dapat dijadikan sebuah referensi hakiki yang semakin meruang sekaligus akan memotivasi seorang “ Dana Kartiman “ sebagai  “ Buaya Perupa  “ yang selalu mengejutkan...Semoga.