Artikel

SULUK CERBON

    Dibaca 451 kali budaya kesenian cirebon sejarah

Pengertian Suluk

     Dalam buku “Sejarah Seni Budaya Jawa Barat I”, terbitan Proyek Pengembangan Media  Kebudayaan, Jakarta, Departemen Pedidikan dan Kebudayaan RI, JAKARTA 1977, dikatakan bahwa suluk adalah buku atau kitab yang menguraikan tentang tasawuf, yang di dalamnya diterangkan bagaimana cara manusia dapat bersatu dengan Tuhannya. Faham ini pada awalnya muncul di daerah Persia. Setelah melalui proses bertahun-tahun akhirnya pengaruh faham ini masuk juga ke Indonesia, khususnya melalui seni sastra.

Berdasarkan penelitian para ahli, suluk merupakan jenis kesusastraan periode Islam tertua di Indonesia.

 Jenis-jenis Suluk

     Dalam perkembangannya suluk di tanah Jawa , khususnya di Cirebon dikenal ada dua jenis suluk, yakni Suluk Petarekan dan Suluk Pedhalangan. Di bawah ini dijelaskan masing-masing jenis suluk dengan contoh-contohnya.

 

Suluk Petarekan

     Suluk Petarekan dikenal juga sebagai Suluk Ngelmu Ghaib. Suluk ini biasa digunakan untuk mendalami ketauhidan. Suluk jenis ini penyebarannya lebih banyak di pesantren-pesantren yang ada di tanah Jawa, khususnya di wilayah Cirebon. Dalam seni pertunjukan, Suluk Ngelmu Ghaib atau Suluk Petarekan digunakan untuk mengiringi atraksi rudat, debus dan gembyung.

Contoh:

  

SULUK KUNTUL MANGLAYANG

Munggah kang aran Pangeran iku,

Cap kang kena kinecap

Ora warna ora rupa

Ora lanang ora wadon

Ora mapan ora manggon

Langka nanging wajib ning anane

Kadya galihing kangkung

Tapaking kuntul manglayang

Yen pengen weruh maring Pangeran

Mangka kudu weruh maring awake

Yen wis weruh maring Pangeran

Deweke angrasa bodoh

(dari catatan: Kartani, mantan penilik kebudayaan Kab Cirebon)

 

SULUK MALANG SEMIRANG (Dandang Gula)

Dosa agung alit den singgahi

Ujar kupur-kapir kang denambah

Wis liwung pasikepane

Tan andulu dinulu

Tan angrasa tan angrasani

Wis tan ana pinaran

Pan jatining suwung

Ing suwunge iku ana

 Ing anane iku surasa sejati

Wis tan ana rinasan

 

Suluk Pedhalangan   

     Khazanah kebudayaan Cirebon menempatkan suluk berasal dari kata suluh yang sama maknanya dengan obor yang artinya menerangi.

Suluk dapat  diartikan sebagai tembang atau nyanyian yang diucapkan oleh dalang sebagai suatu isyarat yang menerang tokoh wayang yang akan dimainkan atau juga untuk menerangkan suatu tempat, keadaan dan waktu yang melatar belakangi adegan yang sedang atau akan berlangsung. Selanjutnya suluk jenis ini dikenal dengan istilah “Suluk Pedhalangan”.

     Suluk Pedhalangan sebenarnya tidak terikat oleh aturan-aturan tertentu. Akan tetapi karena fungsinya sebagai tembang, maka suluk jenis ini juga sering meminjam paugeran/patokan-patokan tertentu yang berlaku pada tembang, seperti Tembang Cilik. Walaupun demikian, biasanya oleh dalang  ditambah-tambah dengan berbagai variasi kata ataupun ungkapan sesuai selera dan kebutuhannya.

Kegunaan Suluk Pedhalangan

 

  1. Untuk menerangkan tokoh yang akan dan sedang dimunculkan
  2. Untuk menerangkan tempat dan suasana yang akan atau sedang menjadi latar adegan dan
  3. Untuk membangun suasana atau adegan yang sedang berlangsung

 

Contoh;

(tembang gedee)

Enjing budal gumuruh

Saking nagri wirata

Sakehing bala koswa

Abra busananira lir surya wedalira

Saking jalanidi

Arsa madangi jagad

Duk mungup-mungup aneng

Aneng puncaking wukir

Marbabak bang sumirat

Kenang soroting surya

Mega lan gunung-gunung

(Catatan: Dalang Askadi Sastrasuganda)

(oleh: Yatna Supriatna Wachid)