Artikel

PESONA SENI TOPENG : ADAT ISTIADAT DAN PERKEMBANGAN

    Dibaca 363 kali

 

 

            Dalam buletin berjudul ‘’Pesta Topeng Cirebon’’ Wangi Indra salah seorang penari topeng yang cukup yang dikenal di Cirebon dan Indramayu mengatakan bahwa, jika mendengar atau membaca sebuah kata ‘’topeng’’ kita akan langsung menembak artinya yaitu ‘’kedok’’ karena pengertian yang sering didengar kata bertopeng adalah diartikan memakai kedok. Namun di daerah cirebon pengertian topeng tidak demikian akan tetapi kata topeng itu adalah sebuah kata singkatan atau kependekan dari kata ‘’ketop-ketop gopeng’’ (bahasa jawa Cirebon) yaitu sebuah sebutan untuk menyebut suatu hiasan yang dipasang nempel pada bagian depan sorban (penutup kepala). Pengertian topeng in i tidak pada kedok, tetapi pada logam yang menempel ini. Namun bukan berarti istilah ini mutlak harus ditunjukan pada benda itu secara luasnya ungkapan dari wangi indria ini ternyata secara keseluruhan masyarakat seniman Cirebon menyebutkan demikian.

            Hingga saat ini belum ditemukan beberapa keterangan lain yang menunjukan terhadap pengertian lain dari istilah ‘topeng’ berdasarkan keterangan ini seluruh. Seniman di cirebon masih mengartikan pengertian ‘topeng’ dari kata ketop-ketop gepeng. Yang menempel pada bagian tutup kepala bagian depan.

 AWAL MULA KEMUNCULAN TOPENG CIREBON

            Kesenian topeng, khususnya di daerah cirebon mempunyai kedudukan sangat penting dalam kehidupan masyarakatnya. Pada massa awal kemunculan kesenian topeng cirebon masih sebagai sarana untuk menyebarkan agama islam. Menurut yusup dendrabrata bahwa kesenian topeng di cirebon masih ada kaitannya dengan kehidupan sunan gunung jati sebagai kepala pemerintahan di cirebon. Beliau adalah salah seorang penyebar agama islam yang sangat arif dan bijaksana. Pada saat penyebaran pun sangat mengerti bagaimana cara pendekatan terhadap situasi yang sedang dihadapi pada masyarakat.

            Toto Amsar Suanda mengemukakan bahwa pada massa Sunan Kali Jaga menyebarkan agama Islam, dibantu oleh Pangeran Panggung, selanjutnya kedua tokoh ini menyebarkan pada murid –muridnya di Cirebon, diantaranya : Pangeran Bagusan, dari Trusmi dan Losari. Dari tempat-tempat inilah topeng Cirebon menyebar ke daerah Indramayu, Majalengka, dan daerah lainnya di Jawa Barat. Penyebarannya itu kemudian makin berkembang menurut bentuk serta gaya tarinya.

 Di dalam kehidupan seni tradisional masyarakat Cirebon topeng masih dijadikan sebagai salah satu kelengkapan di dalam upacara yang berkaitan dengan kepercayaan religi. Di Cirebon dikenal ada beberapa bentuk upacara yang berhubungan dengan kesenian ini seperti ngarot, sedekah bumi, mapag sri, ngujung dan beberapa jenis upacara adat lainnya.

            Di dalam buku khasanah tari Jawa Barat, topeng Cirebon juga disebutkan bahwa, pada masa dahulu kesenian ini disebarkan melalui bebarang, hingga penyebarkan kesenian ini mencapai beberapa daerah seperti Betawi, Anyer, Serang, Pandeglang, Lebak, Bogor, Cicalengka, Tasikmalaya, dan Serang. Garis perjalanannya membekas dengan munculnya kesenian-kesenian topeng di masing-masing daerah ini, baik yang mengenal kedok, maupun yang tidak.

            Selanjutnya Toto menyebutkan bahwa peranan Ki Wetar dan Ki Koncar sebagai tokoh penyebar kesenian topeng dan tarian lainnya banyaknya mengilhami kreativitas seni tari di daerah priangan (sunda) hal ini muncul ketika orang-orang sunda ketika menggandrungi tarian. Ketika muncul beberapa orang yang bebarang yang dibawakan oleh tokoh wetar dan koncar ini kemudian memunculkan beberapa bentuk tarian sunda. Seperti tari keurseus, leunyep dan lain-lain. Pada tahun 1903-1904 salah satu seorang menak (kaum nungrat) bernama R.Gandakusuma dari Tasikmalaya pernah belajar tari dari salah seorang penari bernama Ki Wetar, disamping itu banyak pula beberapa priyai lain yang belajar seperti R. Sambas Wirakusumah , R.Cece Somantri, dan lain-lain. Tarian –tarian yang diajarkan ini kemudian di sunda makin berkembang menjadi beberapa bentuk tari wayang dan banyak lagi hingga saat ini banyak tarian-tarian sunda kemudian berkembang dan maju dari pada tarian asalnya didaerah Cirebon. Hal ini disebabkan di daerah sunda lebih dipelihara dan lebih banyak yang memperhatikan, serta memiliki lembaga-lembaga yang dapat melestarikannya.

 FUNGSI KESENIAN TOPENG CIREBON

            Untuk memberikanpenjelasan tentang fungsi seni topeng pada masa dahulu di Cirebon tidak lepas dari sejarah pertumbuhan dan perkembangan tari tersebut. Tari dalam peradaban manusia merupakan bahasa gerak yang paling sederhana, kemudian berkembang menjadi garapan seni yang lebih sempurna. Dilihat dari kehidupannya suatu jenis tari tidak terlepas dari saling mempengaruhi dari jenis tari yang sudah ada. Suatu tarian tidak akan lahir begitu saja melainkan saling terkait dengan hal yang sudah ada sebelumnya(Edi Sedyawati 1981:2).

            Tari tradisi umumnya  mempunyai gaya dan rasa yang khas karena dalam pengungkapannya, tari yang satu dengan yang lainnya akan berbeda.

 Demikian pula yang terjadi pada kesenian lainnya akan berbeda. Demikian pula yang terjadi pada kesenian Topeng Cirebon, antara lain gaya yang satu dengan yang lainnya akan berbeda. Demikian pula yang terjadi pada kesenian Topeng Cirebon, antara gaya satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Hal ini disebabkan pada kelompok-kelompok yang mulai menambah atau merubah struktur geraknya. Namun fungsinya pada masa dahulu hampir sama yaitu untuk sarana upacara adat yang berkaitan dengan kepercayaan semasa itu, seperti munjung, ngarot, kasinoman, dan lain-lain. Namun bukan berarti kesenian ini memiliki fungsi semata-mata untuk itu melainkan ada pula untuk pesta-pesta hiburan. Kesenian  ini sering dilakukan berikut perlengkapan-perlengkapan upacara-upacara adatnya.

            Berikut adalah uraian gambaran tentang peranan seni Topeng Cirebon dalam setiap upacara adat seperti upacara ngunjung, kasinoman, dan sarana hiburan untuk sarana hiburan atau hajatan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Cirebon dan sekitarnya hingga saat ini.

 Upacara ngunjung 

            Ngunjung adalah salah satu upacara tahunan yang diadakan disuatu makam keramat agar masyarakat bisa menjaga dan meningkatkan kehidupan yang lebih baik, baik secara spiritual maupun material (ekonomi, usaha, dan pertanian). Ngunjung bisa diprakarsai, diatur atau disponsori oleh kelompok keluarga, pengurus kampung, pengurus desa dan lain-lain. Orang-orang yang berpartisipasi dalam upacara ngunjung itu bisa puluhan bahkan hingga ratusan orang. Penyelenggaraannyapun macam-macam yang hanya mengadakan selamatan (do’a) dan sesaji makanan saja, ada pula yang mengadakan pertunjukan satu atau dua macam kesenian. Upacara ini terkadang ada yang dilakukan dengan acara arak-arakan (helaran) didiringi dengan beberapa aktraksi kesenian.

            Upacara ngunjung masih banyak dilakukan di desa-desa di wilayah Cirebon, mencakup tiga daerah yaitu dikawasan kabupaten Majalengka, kabupaten Cirebon, kabupaten Indramayu. Beberapa diantaranya hingga saat ini ada daerah ini memiliki hubungan dengan buyut  (keturunan) pada salah satu group Topeng, dan pementasan pun tidak boleh sembarangan atau harus dalang topeng tertentu saja. Upacara ngunjung besar biasanya hampir menyerahkan kesenian topeng, diantaranya adalah sebuah dea Astana,Serang,dan Kalianyar. Ngunjung tidak semata-matamerupakan suatu upacara religius akan tetapi upacara ini merupakan arena masyarakat multidimensional, juga memilki peran sebagai kegiatan sosial masyarakat seperti hidup masyarakat dan kegiatan sosial masyarakat seperti hidup bermasyarakat dan kegiatan kerohanian, kesenian, propaganda pembangunan, ekonomi, sampai pencopetan. Karena itu arena pertunjukan topeng pun bisa berupa panggung yang mengepresikan kemultidimensional ini. Baik atau buruk bukan hal yang penting, tapi tersalurkan ekspresi sosial ini.

Upacara Kasinoman

            Upacara kasinoman tahunan ini di wilayah cirebon masih terus berbudaya, upacara ini ada kaitannya dengan pertunjukan topeng, adapun hubungan sebagai berikut: upacara ini semacam pesta untuk remaja, yaitu upacara inisiasi bagi mereka yang telah cukup usia unutk berumah tangga, tapi belum memperoleh jodoh, atau pasangan. Untuk kasinoman wanita, dibeberapa daerah diadaklan pertunjukan topeng yang dalangnya(penarinya) adalah laki-laki. Upacara ini bisa diadakan secara besar-besaran termasuk pawai (arak-arakan) dengan cara mengililingi desa masyarakat setempat. Dilakukan dengan mengikutsertakan para seniman. Sekarang upacara kasinoman ini paling banyal dilakukan di kecamatan Lelea Indramayu, yang disana dikenal dengan sebutan ngarot sebagaimana di daerah lainnya di cirebon kasinoman ini pun seniman yang diundang dalam upacara ini dilakukan dengan berbeda-beda, ada yang diundang dengan kepercayaan spiritual, ada juga berdasarkan keinginan yang dipestakan. Diantaranya yang kedua itu yang dipestakan lebih mengutamakan untuk sarana liburan saja.

 Tanggap pada hajatan

            Pertunjukan topeng yang paling banyak dilakukan seperti juga pertunjukan kesenian lainnya adalah untuk perayaan hajat pada upacara pernikahan atau khitanan. Pertunjukan ini sengaja diundang pemangku hajat. Pemangku hajat mengundang kesenian ini umumnya berdasarkan atas pertimbangan kesukaan atau kecocokan harganya. Acara-acara tanggapan untuk upacara seperti in dijadikan ukuran tentang populer tidaknya group.

            Pada umumnya seni topeng pada acara ini dilakukan pada siang hari dan pada malam harinya dilakukan pertunjukan wayang kulit. Hal ini merupakan pola-pola yang lazim dilakukan oleh masyarakat cirebon, sering kali terjadi bahwa dalang wayang juga merangkap sebagai dalang topeng, bahkan anak cucu atau menantu turut pula berperan. Oleh karena itu kasus semacam ini sering pula disebut group yang terpadu yaitu group wayang dan topeng yang menyatu. Pertunjukan dalam pesta hajatan ini memang topeng selalujadi sarana liburan yang sangat diminati, sebagai sarana hiburan yang sekuler sifatnya. Akan tetapi seperti pada jenis kesenian lainnya, dalam topeng juga banyak terkandung unsur-unsur spiritual. Bukan saja dalam wujud sesaji dan mantra saja akan tetapi even pertunjukan itu sendiri dapat menjadi sebuah upacara ritual. Dalam suatu desa kadang-kadang masih percaya bahwa panggung topeng dan wayang itu punya makna atau kekuatan spiritual yang khusus , disamping sebagai sarana hiburan. 

( Oleh: WARYO. S.Sn.)