Artikel

“ UPACARA NADRAN “ Manifestasi Budaya Arkais yang Tegar dalam Kesetiaan Komunitasnya

    Dibaca 91 kali

 

 Masyarakat nelayan di beberapa titik pantai utara Cirebon bukanlah pecundang-pecundang yang mudah menyerah dalam menghadapi pengaruh budaya global, hal ini nampak dari upaya mereka dalam menjaga/memelihara serta melestarikan warisan budaya leluhurnya demikian kokoh meski secara parsial unsur penyangganya berubah-rubah dari waktu ke waktu.

Upacara Nadran yang diwariskan kepada mereka telah banyak memberikan suatu pembelajaran tentang bagaimana memaknai dinamika kehidupan yang demikian dilematisnya ; nilai kebersamaan, keja keras, pantang menyerah, kasih sayang, kedamaian. Dan bagi mereka sifat defensif (bertahan) merupakan jurus pamungkas dalam mengantisipasi cengkraman budaya global tadi yang telah melahirkan suatu pergeseran nilai yang sulit untuk dihindari.

Secara Holistik bahwa kegelisahan masyarakat yang senantiasa berdampingan dengan fenomena global, nampaknya patut disyukuri oleh kita semua, sehingga di tengah pergeseran nilai-nilai tadi, kita semua masih dapat menyaksikan kegiatan upacara ritual yang dilakukan masyarakat nelayan di pantai utara Cirebon. Adapun kegiatan upacara yang dimaksud adalah Nadran, Nadran artinya Nadar (syukuran) yaitu ungkapan rasa syukur yang mereka aplikasikan dalam bentuk hubungan supranatural dengan penguasa laut di pantai utara Pulau Jawa yang mereka percayai dapat memberikan keselamatan dan limpahan ikan yang banyak bagi kehidupan nelayan.

 Tentang Ritus

Sebagai masyarakat penghuni wilayah pesisir yang lebih dikenal dengan istilah perkampungan nelayan. Cara pandang tentang kehidupannya pada umumnya masih demikian bersahaja. Kesehajaan itu sendiri menjadi cermin kepribadian mereka, sebagaimana yang diungkapkan Sutan Takdir Alisyahbana dalam bukunya, Sejarah Kebudayaan indonesia dilihat dari Segi Nilai-Nilai (1982)....Seperti dalam kebudayaan bersahaja yang lain dalam sejarah, sebelum kebudayaan India masuk ke Indonesia, dapat dikatakan mempunyai cara berpikir yang kompleks yaitu bersifat keseluruhan dan emosional yang amat dikuasai oleh perasaan, berkaitan dengan itu dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan, kedudukan agama menjadi sangatlah penting. Kepercayaan kepada roh-roh dan tenaga-tenaga gaib meresapi seluruh kehidupan, baik kehidupan manusia secara perorangan maupun kehidupan masyarakat secara keseluruhan.

Kepercayaan terhadap hal-hal gaib seperti itu masih melekat sampai sekarang, seperti halnya di masyarakat nelayan itu sendiri, meskipun masyarakat nelayan secara mayoritas beragama Islam, tetapi kepercayaan terhadap roh yang dipujinya masih nampak, hal ini disebabkan dari latar yang dipujanya masih nampak, hal ini disebabkan dari latar belakang sistem kepercayaannya sangat erat sekali dengan kebudayaan sendiri. Kepercayaan lama yang di antaranya telah demikian melekat sulit untuk terlepas dari siklus budayanya khususnya yang berkaitan dengan kepercayaan yang mereka warisi.

Dari mitologi-mitologi dan dongeng-dongeng suci yang hidup dan berkembang                     di masyarakat, sistem keyakinannya sangat erat dengan ritus atau upacara yang menentukan terhadap tata urut dari unsur yang terpaut dalam rangkaian serta peralatan yang dipakai dalam upacaranya. Adapun sistem ritus dan upacara itu melaksanakan dan mengembangkan konsep-konsep yang terkandung dalam sistem keyakinan. Sistem upacara melakukan wujud kelakuan (behavioral manifestation) dari religi.

Keyakinan tentang adanya kekuatan gaib seperti percaya terhadap roh yang dipujanya, tempat-tempat yang dikeramatkan, termasuk kepercayaan terhadap benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan, semuanya terkait dengan ritus dan upacara, baik upacara yang berskala besar (upacara yang diselenggarakan oleh seluruh penduduk/nelayan), maupun upacara yang berskala kecil (upacara yang dilakukan secara personal), sedangkan posisi pemerintah seperti Camat dan Kepala Desa berfungsi sebagai patron.

Sedangkan bentuk pemujaan yang dilakukan oleh masyarakat pesisir Cirebon seperti nelayan di Losari, Mundu, Kebon Baru, Kali Condong, Kali Sapu, Kali Bondet, dan Bungko, jika kita mengkaji kepada siapa ditujukannya dan apa nilai kepentingannya, pada umumnya sama yaitu ditujukan kepada Dewa Laut yang nilai kepentingannya adalah untuk mendapatkan perlindungan keselamatan dari bencana serta kesejahteraan melalui limpahan hasil tangkapan ikannya di laut. Dari bentuk pemujaan yang dilakukan masyarakat nelayan di Cirebon, mereka sangat dipengaruhi oleh kebudayaan asli Indonesia seperti animisme dan dinamisme yaitu, bentuk kepercayaan masyarakat yang ditujukan kepada roh yang dipujanya (penguasa laut) dan kepercayaan terhadap benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Bahkan pengaruh Hindu seperti membakar kemenyan dan menyuguhkan sesajen.

 Aspek-aspek dan Unsur-unsur Serta Jalannya Upacara

Pelaksanaan “ Upacara Nadran “ secara khusus mengandung empat aspek penting yaitu tempat upacara, waktu upacara, benda-benda/peralatan upacara, dan pelaku upacara, ke empat aspek tersebut merupakan suatu ketentuan yang telah dijalani para leluhurnya sejak dahulu dan telah membentuk pranata yang telah baku.

Pemilihan tempat tepian muara sungai yang akan menuju ke laut. Bagi masyarakat nelayan tempat tersebut di samping magis dan sakral, juga dianggap tempat yang bisa mendatangkan berkah, bahkan tidak menutup kemungkinan tempat tersebut sudah dianggap keramat. Sedangkan untuk menentukan waktu penyelenggaraan upacara, sebagian masih berpatokan terhadap munculnya bentang wuluku yang bertengger pada garis lintang sekitar bulan Juni atau Juli, artinya bahwa menurut kepercayaan para nelayan apabila bentang wuluku telah tepat bertengger pada garis lintang, maka ketentuan dimulainya “Upacara Nadran“, karena menurut kepercayaan mereka pula bahwa ikan pada saat itu akan melimpah ruah, sedangkan waktu pelaksanaannya yaitu pada saat sepenggalah (istilah di Cirebon: matahari pagi sekitar pukul 09.00 pagi). Adapun benda-benda atau peralatan upacara yang berkaitan dengan sarana nelayan yaitu Jaring 7 macam (yang disesuaikan dengan ukuran ikan), wela (dayung), Cotom (sejenis topi runcing dari kayu), Keblek (sejenis topi besar), alat memasak dan bumbu masak, pakaian nelayan, Tantang angin (semacam jaring yang dibuat dengan ukuran kecil), Petromak, Golok, Tombak, alat Pancing, Umpan dan sebagainya.

Begitu pula dengan pelaku upacaranya yaitu para nelayan yang tergabung dalam kelompok pelaku upacara, yang selanjutnya memilih seseorang untuk dijadikan sebagai pemimpin upacara (punduh), biasanya mereka memilih orang yang dianggap mampu terutama dalam bidang kebatinan maupun dalam hal kerokhanian.

Hal yang menarik dari kegiatan ritual itu, apabila ada peserta yang mendapatkan salah satu sesajen seperti minyak wangi atau Minyak Burat, hal itu merupakan berkah bagi dirinya, benda tersebut dibawa pulang kerumahnya yang selanjutnya disimpan di atas pintu sebagai penolak bala. Sedangkan klimaks dari telah dilaksanakannya “ Upacara Nadran “ tersebut, yaitu diadakannya pementasan kesenian pada malam harinya yang biasanya dilaksanakan sampai beberapa malam, namun dengan berbagai pertimbangan anggaran serta keamanan, saat sekarang hanya dilaksanakan satu malam.

Dari gambaran aspek-aspek, unsur-usnur dan jalannya upacara tadi, bahwa aturan-aturan tersebut merupakan norma-norma yang telah ditradisikan oleh komunitasnya sehingga ke manapun bentuk pranata-pranata tersebut dapat mendukung suasana penyelenggaraan upacara yang secara konkrit merupakan gambaran dari ekspresi masyarakat nelayan itu sendiri. Bahkan jika kita kaji lebih dalam, ritual nadran merupakan simbol kepasrahan diri sebagai wujud kepedulian mereka terhadap keseimbangan alam.

Dari hal tersebut, bahwa keseimbangan yang diupayakan manusia tersebut memberatkan sebuah peringatan kepada kita agar manusia wajib menjaga kelestarian ekosistemnya (lingkungan alam) serta terciptanya ajang silaturahmi di antara pelaku upacara dan masyarakat penyangganya sekaligus melakukan hubungan vertikal dengan Allah SWT.

Oleh : WAHYOE KOESOEMAH, S.Sn.

 

_ _ _ _ _