Artikel

KETERKAITAN MUSIK DALAM GARAPAN TEATER

    Dibaca 312 kali

 

            Untuk mencapai suatu imbasan komunikatif antara seniman dengan masyarakat pemiliknya, mutlak dibutuhkan kadar pemahaman yang cukup memadai. Seniman sebagai penggarap sebuah karya seni diharapkan mampu mengentalkan eksistensinya sekaligus harus mampu pula menempatkan posisinya sebagai indikator di antara masyarakat pemiliknya tadi.

        Di satu pihak apresiator dituntut pula mengekalkan rasa empatinya, sehingga muncul penikmatan secara makro dapat melahirkan suatu kesan dari apa yang telah dilihatnya.

         Perkembangan dunia seni di Indonesia, kiranya telah mampu memberikan angin segar bagi kita semua. Begitu produktifnya keterlibatan seniman didalamnya, minimal akan dapat menularkan gairah terhadap keterlibatan regenerasi berikutnya dalam kesenian. Kehadiran lembaga kesenian, sanggar seni secara prinsip mereka mempunyai target dengan harapan dapat melahirkan seniman pemikir dan seniman terampil.

         Namun sejauhmana keterlibatan mereka dalam menggeluti dunianya. Timbul satu pertanyaan: “Apakah dari banyak keterlibatan mereka itu akan banyak pula lahir seniman-seniman yang cukup kualified?” hanya dengan gelengan kepala saja kiranya kita bisa bereaksi. Dari keadaan tersebut saya jadi teringat ucapan seorang teman, sebut saja saudara Sumbadi Sastra Alam:-begitu susahnya kita menghitung keberadaan seniman berkualitas, meskipun hanya dengan menghitung jari saja. Kenyataan dari hal tersebut bukan hal mustahil akan memunculkan suatu konpensasi baru. Artinya bagaimana pengaruh perkembangan dunia seni terhadap kesenjangan nilai-nilai bentuk suatu karya seni, sementara masyarakat selalu menuntut karya-karya baru dapat memuaskan dirinya.

Garapan Teater

          Berbicara tentang teater, ternyata tidak mudah seperti apa yang kita bayangkan, apalagi ditinjau dari berbagai segi kiranya teater sangat kompleks sekali.

       Memang mudah kita merumuskan pokok suatu teater tapi dalam pembicaraan selanjutnya ternyata terdapat ketidakjelasan, ketidaktepatan. Mungkin hal ini disebabkan karena mencoba mengalihkan dari kata ke kata. Teater dalam hal ini adalah sebuah ungkapan, sebuah pernyataan, sebuah ekspresi yang mampu memuat komentar terhadap realitas yang tetap bertahan dibenak penonton setelah pertunjukan selesai.

          Teater dalam arti suatu seni, dituntu mampu mengungkapkan pengalaman-pengalaman manusia dan masalah kehidupan manusia. Alat pokok itu adalah tubuh, bukan garap dalam arti fisik, melainkan pemanfaatan tubuh sebagai medium ungkap. Jadi selain bentuk pemanfaatan tubuh, juga pokok rasa yang kita alami disana adalah juga potensi ungkap.

          Begitupun teater dalam masa kini tidaklah meletakan batas-batas akan adanya tingkatan keterampilan atau gaya bermain, satu-satunya potensi seorang pemain ditentukan oleh pemain ditentukan oleh faktor-fakor anatomis dan fisiologis pemainya itu senidiri.

 Musik Dalam Teater

        Seni pertunjukan dalam kelangsungannya mampu membangkit rasa atau kebahagiaan kejiwaan penikmatnya. Begitu pun setiap karya seni, baru mendapat ksempurnaan apabila terdapat penerimaan pada pihak penikmat.

        Kiranya pada setiap karya teater aganya tidak akan lengkap bila tidak ada musik karena musik merupakan bagian dari integral darinya. Seperti yang dikatakan philip h.phenix, bahwa untuk sebuah karya seni maka bantuan hubungan yang telah ada sejak zaman dulu adalah dengan musik, dimana telah cukup dimengerti bahwa pada umumnya teater diiringi musik. Dan banyak bentuk musik yang diciptakan atas ilham teater.

         Sekalipun demikian banyak sekali orang sutradara dan pemain yang merasa mapan dalam memprestasikan atau menafsirkan musik-musik tertentu. Sering kali orang berkomentar bahwa sebuah musik terasa enak sekali untuk didengar. Musik memiliki medium dan bentuk expresinya sendiri yang khas, ia dikomposisikan untuk didengar.

          Musik dalam teater bukan hanya untuk didengar saja, akan tetapi perlu penghayatan                    di mana didalamnya ada kekuatan yang sangat dalam sekali. Itu pun tidak sekedar hanya bunyi tetapi harus disadari pendalaman materi walaupun ada kekhasan, tetapi yang sangat penting adalah penampilan dan gaya ungkap dari keseluruhan bentuk. Dan yang utama bagi seniman adalah penyampaian isinya.

         Namun dengan adanya ini banyaknya karya-karya yang tergelincir menyimpang dari konsep musik yang mereka sajikan. Penyimpangan ini ada kemungkinan karena kurang selektif musik yang digarap  dan kemungkinan mereka kurang menguasai musik atau juga ketidaksiapan dalam garapannya.

          Ini sungguh perlu dikaji bagi para penata musik. Artinya penuangan dari ide-ide dasar yang ada dalam dirinya dibutuhkan perhitungan yang matang dalam penggarapanya, di samping membutuhkan waktu untuk proses dalam mengadakan usaha explorasi tanpa harus spekulasi dan ini sangat penting. Sebab sebagai seniman ia harus mampu memiliki rasa estesis dan wawasan yang luas, mampu menggarap sebuah karya seni yang dapat mewakili ungkapan pribadinya, namun bersifat universal tentunya. (Oleh : WAHYOE KOESOEMAH, S. Sn.