Artikel

IKET LIPET JENIS PENUTUP KEPALA KHAS CIREBON

    Dibaca 626 kali

Konon penutup kepala iket lipet sudah ada sebelum ada kerajaan Islam, tepatnya sudah ada sejak jaman Sunan Gunungjati pensyiar Agama Islam awal untuk wilayah Cirebon. Iket lipet yang jika dibahasa Indonesiakan menjadi ikat lipat ini hasil munajat (cipta) Sunan Gunungjati dengan menggunakan pakaian khas Jawa yang dibentuk model sorban. Pada masa itu Sunan Gunungjati menciptakan iket lipet untuk digunakan bagi mereka yang belum berhaji. Dan Sunan Gunungjati menciptakan model penutup kepala ini dalam rangka mensyiarkan Agama Islam. Namun demikian walau Sunan Gunungjati yang menciptakan tetapi iket lipet tersebar luas karena Sunan Kalijaga. Dengan kata lain Sunan Kalijagalah yang mensyiarkan (menyebarkan) penutup kepala laki-laki iket lipet.

 Iket lipet banyak digunakan oleh kaum sufi. Di samping itu, iket lipet digunakan pada acara jamiahan, seniman pada hiburan santri, seperti genjring, rudat, terbang, dan gembyung. Iket lipet sebagai penutup kepala laki-laki juga digunakan kalangan santri sebagai pengganti peci saat sholat. Selain kalangan santri, iket lipet digunakan oleh orang-orang yang berjiwa budaya. Selain itu juga orang-orang pemerintah. Di kalangan orang-orang pemerintah, iket lipet digunakan untuk acara besar, seperti pelantikan. Bagi orang-orang tertentu, iket lipet akan dapat membawa berkah. Orang-orang yang menggunakan jenis penutup kepala ini akan menjadi orang yang tidak besar kepala. Dengan kepala yang diikat seseorang akan menjadi orang yang tidak besar kepala. Sementara itu pada jaman perjuangan kemerdekaan dahulu, iket lipet digunakan oleh pasukan-pasukan pejuang kemerdekaan dalam mengusir penjajah.

Pada jaman dahulu iket lipet dipandang tinggi. Pada masa itu iket lipet seolah-olah pakaian orang berilmu. Seseorang merasa belum pantas menggunakan jenis penutup kepala ini jika akhlak dan kelakuannya belum baik. Dan pada jaman dahulu iket lipet harus diperlakukan secara baik. Mereka percaya seseorang akan mendapatkan mara bahaya jika memperlakukan benda ini secara tidak baik.  

Iket lipet memiliki bentuk seperti sorban. Bedanya Iket lipet memiliki 3 lipatan dan 3 susunan. Selain itu iket lipet terdapat kuncir yang terletak di sebelah kiri. Sementara penutup kepala untuk haji atau sorban jika berkuncir, kuncirnya terdapat di bagian belakang. Karena bentuknya seperti sorban, iket lipet dikenal juga dengan sebutan sorban Jawa. Selain itu iket lipet memiliki bentuk seperti blangkon. Bedanya iket lipet berbentuk bulat dan di dalanya tanpa kertas, sementara blangkon lonjong dan di dalamnya terdapat kertas.  

Iket lipet memiliki berbagai jenis. Terdapat iket lipet yang polos dan yang bermotif. Untuk yang bermotif, iket lipet ada yang bermotif batik dan ada yang tidak bermotif batik. Untuk yang bermotif batik, motif-motif batik yang ada dari mana saja. Motif-motif batik dari mana-mana itu di antaranya dari Jawa Barat, Solo, Surabaya, Madura, Bali, Lombok, Palembang, dan Aceh. Selain itu untuk yang bermotif batik terdapat motif-motif batik tulis dan motif batik cetak. Sementara itu dilihat dari bentuknya, iket lipet hanya terdiri satu bentuk.

Untuk mendapatkan iket lipet harus melewati serangkaian kegiatan. Pertama adalah mendapatkan bahan kain. Untuk 1 iket lipet orang dewasa bahan  yang dibuat berukuran 1 x 1 meter. Sementara untuk anak kecil bahan 1 x 1 meter bisa dibuat 2 buah iket lipet. Bahan kain tadi digodog dengan menggunakan kanji hingga lemas. Setelah itu dijemur hingga kering. Jika cuaca panas pengeringan bisa hanya 3 hari. Setelah itu kain tadi dibentuk. 

Dalam membentuk kain biasanya dilakukan langsung di kepala. Untuk mendapatkan ukuran yang besar di lakukan melonggarkannya, sebaliknya untuk mendapatkan ukuran yang kecil dilakukan dengan membuatnya di ujung atas kepala. Namun untuk mendapatkan ukuran yang kecil dapat juga dilakukan di lutut dengan kaki yang ditekuk. Dan untuk merekatkan kain yang sudah dibentuk digunakan aci singkong.

Dari proses ini, sampai siap digunakan, iket lipet memerlukan waktu paling cepat 4 hari. Dan itupun bisa dilakukan jika cuaca panas. Dalam sehari rata-rata seorang pembuat menghasilkan sekitar 8 buah ikat lipat.

Iket lipet yang sudah jadi pada musim dingin biasanya akan lemas. Sebaliknya pada musim panas iket lipet mengeras.

Dibandingkan dengan masa lalu, iket lipet ada pergeseran (perubahan). Dahulu sumping (kuncir) ada di sebelah kanan, sekarang ada di sebelah kiri. Pergeseran terjadi karena keinginan orang-orang santri untuk membedakan dengan orang-orang jahat yang juga pernah menggunakan jenis penutup kepala khas Cirebon ini. Selain itu dulu untuk menggunakan iket lipet seseorang membuatnya secara mendadak. Sedangkan saat ini untuk menggunakannya iket lipet sudah terbentuk.   

Saat ini keberadaan iket lipet sudah terancam. Ini dikarenakan pembuat benda penutup kepala laki-laki ini sudah hampir tidak ada. Di kampung Sumurwuni, tepatnya Blok Kedawung, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti sebagai tempat pembuatan benda ini di Kota Cirebon sendiri pembuatnya tinggal seorang.

Namun demikian tanda-tanda pelestarian mulai tampak kembali. Ini dikarenakan di Kampung pembuatan benda ini sudah mulai ada beberapa orang yang belajar membuat benda ini. (Maryono Kurniadi, S.IP. M.Si)