Artikel

JONI TUNGGUL, SENIMAN SENI PAHAT TUNGGUL CIREBON

    Dibaca 374 kali

 Di Kota Cirebon, diperkirakan Joni Tunggul adalah satu-satunya seniman seni pahat tunggul. Dalam mengekpresikan seni pahatnya, ia melakukannya secara bebas atau tidak terikat pada ketentuan-ketentuan yang ada. Dengan kata lain dalam mengekpresikan seninya, ia tidak melihat atau mengikuti karya serupa yang ada sebelumnya. Begitupun  dalam membuat tema atau lambang karya seninya ia lakukan secara bebas.

Joni Tunggul lahir dan besar di Desa Tuk Kecamatan Kedawung Kabupaten Cirebon pada pada 17 Juni 1963. Pada tahun 1995 ia pindah rumah ke kampung Cadasngampar, Kelurahan Argasunya, Kota Cirebon bersamaan dengan pernikahan dengan istrinya yang berasal dari kampung itu. Ia mulai menggeluti dunia pahat tunggul pada tahun 2001. Sebelumnya menggeluti dunianya sekarang sudah banyak jenis pekerjaan dilakukan. Di antaranya adalah pernah bekerja di bangunan, di bengkel las ketok cat duco, dan bahkan sebagai pedagang asongan di terminal. Dan dalam mengerjakan pahatannya utamanya ia lakukan di bengkelnya, yaitu Sanggar Tunggul Pitu yang terdapat di Kampung Cadasngampar dekat dengan rumah tempat tinggalnya.   

Dalam membuat karya pahatnya, bahan yang digunakan adalah tunggul. Yaitu batang pohon yang paling ujung dan tertanam dalam tanah dan dipenuhi batang akar. Tunggul juga banyak yang menyebut bonggol atau bongkot dari sebuah pohon. Namun walau demikian bahan lainnya berupa bagian lain dari pohon kadang-kadang  digunakan juga, seperti ranting atau batang. Sementara itu tunggul yang  digunakan biasanya dari pohon jati. Tunggul jati yang digunakan adalah yang berumur puluhan atau bahkan ratusan tahun. Sedangkan tunggul-tunggul lainnya yang digunakan misalnya dari pohon semboja (kamboja), pohon cucuk, mahoni, nangka, karlina (arbesina), dan lengkeng. Sementara itu bahan dalam bentuk bagian lain dari pohon, seperti batang atau ranting, berasal dari pohon nagasari dan yang lainnya.                      

Biasanya karya seni pahat yang dibuat Joni Tunggul berbentuk binatang dan tanaman. Karya yang berbentuk binatang diantaranya adalah monyet, kucing, biawak, kura-kura, ikan dan binatang dalam mitos seperti naga. Sementara untuk karya yang berbentuk tanaman biasanya merupakan kumpulan tanaman dengan beberapa jenis tanaman seperti semak belukar, hutan belukar, atau kebun tanaman. Untuk kumpulan tanaman buah-buahan, buah-buahan yang dibuat di antaranya mangga, srikaya, dan rambutan. Dalam membuat karya hampir tidak ada karya yang dibuatnya berobyek tunggal. Dalam kenyataannya bentuk yang dibuat terdiri dari beberapa obyek baik yang masuk akal, misalnya kucing dengan pepohonan, maupun yang tidak masuk akal, misalnya manusia berbadan kera di antara pepohonan.

Ciri khas lain karya Joni Tunggul adalah satu tema yang telah diberikan kepada satu karya yang dihasilkan tidak dapat diberikan kepada karya berikutnya. Dengan lain kata karya yang dibuat tidak bisa dibuatkan lagi atau tidak bisa digandakan. Jadi setiap karya hanya bisa dibuat sekali. Kondisi ini terjadi karena di satu sisi dalam membuat karya mengikuti bentuk bahan dan  di sisi lain kondisi bahan tidak ada satupun yang sama.      

Dalam menciptakan karya seninya, bahan yang digunakan adalah yang utuh, atau satu gelondongan. Dengan kata lain bahan yang digunakan bukan yang sambungan. Sementara itu bahan tambahan biasanya yang kecil-kecil saja, seperti batu untuk mata pada karya yang bermata (manusia dan binatang). Ia memberikan batu tidak lain agar mata dalam karyanya itu hidup.

Sementara itu hasil karya seninya bentuknya tidak selalu utuh. Bisa jadi obyek yang dibuat adalah setengah badan. Misalnya bentuk kepala kuda dengan lehernya saja tanpa ada badan, lebih-lebih kaki dan ekornya. Sementara obyek setengah pohon misalnya bentuk dedaunan dengan buah tanpa ada batang dan akar.  

Selain itu karya yang dihasilkan adalah yang masih asli atau belum dipernis atau dicat. Dengan kata lain karya yang dibuat lebih suka yang masih asli. Namun jika ada permintaan untuk dipernis atau dicat dilakukan juga.

Hingga saat ini karya Joni Tunggul sudah tidak terhitung karena banyaknya. Jika dihitung jumlahnya sudah mencapai kontaineran. Biasanya konsumen karya Joni adalah kalangan menengah ke atas. Sementara itu konsumen yang berasal dari luar negeri meliputi dari Canada, Australia, dan Taiwan.

Untuk memperkenalkan karya seninya, ia sering mengikuti pameran-pameran yang diselenggarakan di mal-mal atau bazar-bazar dalam even-even khusus, seperti Hari Ulang Tahun

Kota Cirebon dan rangkaian acara yang diselenggarakan pihak keraton. Selain di Cirebon, pameran yang diikutinya adalah di Jakarta dan Bali. Dan biasanya dalam mengikuti pameran dilakukan demonstrasi membuat karya seni pahat.        

Dalam mengerjakan karya seni, alat-alat yang digunakan meliputi puluhan pisau pahat dengan berbagai bentuk dan ukuran. Selain itu ada palu, gergaji, senso, patuk, pecok (cangkul kecil), gerinda, bor, amplas, dan masih ada lagi yang lainnya. Dan dalam memahat kayu tunggul, kira-kira ia mampu menghasilkan 2 karya dalam sebulan. 

Oleh. MARYONO KURNIADI, S.Ip. M.Si.

 Sumber

 Informan

No.

Nama

Usia

Pekerjaan

Alamat

1.                   

Joni Tunggul

53 tahun

Seniman Pahat Tunggul

Blok Cadasngampar, Rt. 05/08, Kel. Argasunya, Kec. Harjamukti, Kota Cirebon