Artikel

PENGEMBANGAN KOTA CIREBON SEBAGAI DESTINASI WISATA BUDAYA NON WARISAN BUDAYA DAN SEJARAH

    Dibaca 490 kali

 Pada rapat Koordinasi Nasional Kementerian Pariwisata dengan tema “Akselerasi Pembangunan Kepariwisataan dalam rangka Pencapaian Target  12 juta Wisman dan 260 juta Wisnus tahun 2016” Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Investasi Pariwisata menyampaikan sebuah data dari Passanger Exit Survery bahwa Angka Kunjungan Budaya pada tahun 2014 di Indonesia mencapai angka 60% dari keseluruhan angka kunjungan. Angka 60% tersebut berasal dari Angka Kunjungan Wisata Warisan Budaya dan Sejarah 20%, Angka Kunjungan Wisata Belanja dan Kuliner 45% dan Angka Kunjungan Wisata Kota dan Desa 35%. Sebuah konfigurasi angka yang cukup membuat saya sendiri merasa terhenyak karena sepanjang pengetahuan saya bahwa Indonesia adalah salah satu Negara yang memiliki peninggalan warisan budaya dan sejarah melimpah, hampir semua daerah di Indonesia sangat kaya akan peninggalan warisan budaya dan sejarah, baik dalam bentuk benda (situs) maupun dalam bentuk tradisi dan seni sehingga pasti aktifitas wisata budaya di Indonesia akan didominasi wisata warisan budaya dan sejarah. Tapi faktanya ternyata wisata dengan basis kunjungan Warisan budaya dan sejarah di Indonesia hanya mencapai 20% angka kunjungan, masih jauh dibanding Wisata Kota dan Desa sebesar 35%. Bahkan penyumbang angka kunjungan wisata budaya terbesar adalah wisata belanja dan kuliner (Shopping and culinary tourism) sebesar 45%. Ini artinya motif kunjungan wisata budaya mengalami pergeseran trend. Dari Heritage and Pilgrim Tourism ke Shopping and Culinary Tourism. Harus diakui, seiring dengan perkembangan dunia internet dan digital yang sangat signifikan yang berimbas pada begitu cepat dan singkatnya akses persebaran informasi dari seluruh belahan dunia hingga ke bagian terpencil berpengaruh besar pada perubahan prilaku dan trend kegiatan wisata dunia. Jika kegiatan wisata budaya dunia satu dekade yang lalu trend-nya adalah mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan memiliki warisan budaya yang terkenal, maka sekarang trend-nya adalah berpetualang untuk menikmati segala sesuatu yang lebih dekat, orisinal dan lokal seperti menikmati alam pedesaan atau perkotaan dengan langsung menikmati kuliner khas daerah tersebut dan berbelanja segala sesuatu yang khas yang dapat dijadikan oleh-oleh.

Sejak tol Cipali diresmikan pada tanggal 13 Juni 2015 oleh Presiden Republik Indonesia dan secara resmi diluncurkan sebagai salah satu akses langsung dari Jakarta ke Cirebon, luar biasa! Kota Cirebon mengalami berkahnya yang luar biasa khususnya pada sektor pariwisata. Permohonan Investasi pada sektor ini mengalami peningkatan seperti pada usaha perhotelan dan kuliner. Sebagai data perbandingan pada tahun 2014 tercatat jumlah usaha perhotelan di Kota Cirebon sebanyak 53 buah, tetapi pada tahun 2016 meningkat menjadi 65 buah (data:Disporbudpar Kota Cirebon). Kembali pada data dari Passanger Exit Survery di atas bahwa motif dominan dari wisata budaya di Indonesia sejak tahun 2014 adalah wisata belanja dan kuliner. Bagaimanapun Pemerintah Kota Cirebon harus melihat fakta tersebut sebagai sebuah pedoman informasi pengembangan pariwisata Kota Cirebon ke depan. Kota Cirebon yang sudah sejak lama dikenal sebagai daerah tujuan wisata budaya berbasis Keraton dan peninggalan sejarah kolonial harus mampu mengalihkan atau mendiversifikasi potensi budayanya ke arah trend wisata budaya berbasis non warisan budaya dan sejarah pertimbangan utamanya adalah untuk mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata sebab wisata belanja dan kuliner lebih besar kontribusinya terhadap peningkatan pendapatan Daerah dibandingkan wisata warisan budaya dan sejarah. Dalam mendiversifikasi potensi wisata budaya Kota Cirebon, ada tiga hal yang menjadi target pelaksanaan yakni :

 

  1. Aspek atraksi

Aspek utama dalam diversifikasi tema utama wisata budaya adalah pengalihan pada aspek atraksi budaya. Selama ini Kota Cirebon hanya mengandalkan atraksi budaya dalam bentuk monument/fisik seperti Peninggalan Keraton dan Bangunan Kolonial dalam tema Wisata Budayanya, padahal begitu banyak atraksi budaya yang lain yang sangat atraktif dan prospektif yang mungkin dapat lebih meningkatkan minat wisatawan untuk mengunjungi Kota Cirebon. Jika berpedoman pada release dari passanger exit survery di atas, maka pengembangan wisata budaya berbasis wisata belanja dan kuliner harus menjadi prioritas utama. Memang dua tahun terakhir sejak tahun 2014 Kota Cirebon mengalami lonjakan peningkatan jumlah bisnis kuliner baik yang bergerak dalam local cuisine seperti Empal Gentong, Nasi Jamblang, Nasi Lengko dan lainnya, maupun modern restaurant semisal Recheese, pizza Hut dan semisalnya. Phenomena semacam ini patut disyukuri karena tidak semua daerah di Indonesia dapat secara alami berkembang wisata budayanya sesuai dengan perkembangan trend wisata budaya masa kini.

Potensi Cirebon dalam bidang wisata budaya dalam bentuk wisata belanja dan kuliner sangat besar dan sangat diminati oleh wisatawan baik asing maupun domestik. Segmen pasar untuk aspek wisata belanja dan kuliner Cirebon juga sangat menjanjikan. Tidak heran jika para pelaku bisnis pariwisata berlomba untuk berinvestasi di bidang ini. Pertanyaannya kemudian adalah apa yang harus dilakukan Pemerintah Kota Cirebon untuk menyiasati kondisi ini agar dapat dimaksimalkan untuk peningkatan PAD Kota Cirebon? Tentu Pemerintah Kota Cirebon harus merasa senang karena secara alamiah sektor wisata budaya berbasis wisata belanja dan kuliner di Kota Cirebon ini berkembang dengan pesat dan sangat diminati wisatawan sehingga pendapatan daerah tentu mengalami peningkatan yang lumayan signifikan. Maka, untuk semakin merangsang pertumbuhan dan perkembangan aspek wisata belanja dan kuliner ini, Pemerintah harus mampu membuat terobosan untuk menerbitkan semacam stimulus bagi perkembangan aspek wisata ini. Salah satu bentuk kongkritnya adalah dengan melakukan penyederhanaan proses pengurusan perijinan bagi usaha-usaha kepariwisataan, penerbitan paket-paket stimulan investasi bidang usaha kepariwisataan serta penghapusan segala kendala pada pertumbuhan bidang usaha kepariwisataan. Selain itu, Pemerintah juga harus mampu menggairahkan sumber-sumber pertumbuhan wisata belanja dan kuliner semisal rehabilitasi dan restrukturisasi pasar rakyat, penggalakan program wisata pasar, pembukaan kawasan-kawasan wisata kuliner dan sejenisnya. Semakin banyak atraksi wisata belanja dan kuliner tersedia di Kota Cirebon dengan tema-tema yang beragam, akan semakin menarik minat wisatawan untuk mengunjungi Kota Cirebon.

 

  1. Aspek aksesibilitas

Mendiversifikasi wisata budaya pada tema wisata belanja dan kuliner harus juga diikuti dengan penyiapan aksesibilitas untuk kemudahan pencapaian destinasi. Setidaknya ada tiga hal yang harus dibenahi untuk merealisasikan aksesibilitas yang baik pada sebuah kawasan destinasi wisata yakni aspek sarana, prasarana dan system aksesibilitas. Aspek sarana meliputi: pengadaan moda transportasi wisata yang menarik, accessible (mudah digunakan) dan efisien untuk mencapai setiap destinasi wisata. Aspek prasarana mencakup kondisi jalan yang baik dengan penanda arah yang jelas, terminal/stasiun/pelabuhan yang nyaman dan ramah, pengelolaan informasi wisata yang baik. Dan aspek terakhir yang juga sangat penting dalam pengelolaan aksesibilitas adalah adanya sebuah system pengelolaan aksesibilitas (system transportasi) yang baik sehingga wisatawan tidak perlu merasa khawatir akan berbagai kendala yang akan dihadapi dalam mengakses seluruh jenis aksesibilitas untuk mencapai destinasi wisata.

 

  1. Aspek amenitas

Amenitas adalah segala bentuk fasilitas yang memberikan pelayanan bagi wisatawan untuk segala kebutuhan selama tinggal atau berkunjung pada suatu destinasi wisata, seperti hotel, restaurant, café, shopping center, souvenir shop, money changer dan sejenisnya. Aspek amenitas memegang peranan penting dalam rangka menciptakan kualitas perjalanan yang baik dan mengesankan bagi para wisatawan itu, oleh karena itu, Pemerintah Kota Cirebon berkewajiban untuk menggairahkan tumbuhnya usaha-usaha jasa pariwisata sekaligus membuat regulasi tentang tatakelola usaha jasa pariwisata yang baik sehingga dapat secara optimal mendukung terjadinya aktifitas kepariwisataan yang produktif di Kota Cirebon dan membuat wisatawan semakin betah menghabiskan waktunya lebih lama di sini.

 

            Pengembangan potensi wisata budaya non warisan budaya dan sejarah adalah sebuah alternative prospektif untuk mengembangkan aspek atraksi wisata budaya Kota Cirebon. Aktifitas wisata budaya di Kota Cirebon akan semakin beragam dan menarik dengan melakukan diversifikasi untuk memunculkan potensi-potensi wisata budaya Cirebon yang lebih atraktif. Wisatawan yang berkunjung ke Kota Cirebon makin memiliki alternatif aktifitas wisata yang banyak dan bisa meningkatkan probabilitas length of stay (lama tinggal) wisatawan di Kota Cirebon yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan asli daerah dari sektor kepariwisataan. Sector perdagangan dan jasa harus menjadi aspek terpenting dalam pendekatan pengembangan wisata budaya Kota Cirebon sebab Kota Cirebon adalah Kota Perdagangan dan Jasa, maka pengembangan wisata budaya dalam bentuk wisata belanja dan wisata kuliner akan sangat sinergis dengan potensi terbesar Kota Cirebon yakni perdagangan dan jasa. Oleh : Mustofa, SE