Artikel

STRATEGI PENGEMBANGAN PEMASARAN PARIWISATA SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN ANGKA KUNJUNGAN WISATA

    Dibaca 402 kali

 Pemasaran dalam rangkaian penjualan sebuah produk merupakan sebuah cabang yang amat krusial. Pemasaran adalah upaya menghadirkan berbagai keunggulan karakteristik sebuah produk kepada calon konsumen. Oleh karena itu, sebuah perusahaan modern saat ini membelanjakan sebagian besar biaya operasionalnya untuk membangun sebuah strategi pemasaran yang efektif, sebab mereka sadar bahwa meningkatkan penjualan produk hanya bisa dilakukan dengan sukses melalui sebuah upaya pemasaran yang baik dan tepat sasaran. Begitupun dalam hal pemasaran sebuah destinasi wisata, dibutuhkan sebuah strategi yang baik untuk menghadirkan sebuah upaya pemasaran destinasi wisata yang menarik dan menggugah bagi calon wisatawan sehingga mereka merasa tertarik untuk mengunjungi destinasi wisata yang ditawarkan tersebut. Sebagai contoh, bagaimana Malaysia berhasil meningkatkan angka kunjungan wisatanya pada tahun 2014 tiga kali lebih banyak dibanding Indonesia pada tahun yang sama, Malaysia mencapai 27,4 juta wisatawan sementara Indonesia baru mencapai 9 juta wisatawan. Padahal jika dilihat dari potensi pariwisata secara faktual Indonesia jauh lebih unggul baik dari kekayaan alamnya maupun kekayaan budayanya. Ternyata kita mafhum bahwa Malaysia berhasil meramu sebuah bentuk pemasaran destinasi pariwisata negaranya dengan pintar dengan tagline-nya “Malaysia the Truly Asia” dan mereka berinvestasi sangat besar untuk itu.

Begitu pentingnya sebuah pemasaran bagi sebuah destinasi wisata, sehingga Pemerintah Indonesia melalui PP NO. 50 Tahun 2011 tentang RIPPARNAS 2010 – 2025 telah membuat rumusan berkaitan dengan Strategi pengembangan Pemasaran Pariwisata yang terdiri dari :         

  1. Pengembangan Pasar Wisatawan
  2. Pengembangan Citra Pariwisata
  3. Pengembangan Kemitraan Pemasaran Pariwisata
  4. Pengembangan Promosi Pariwisata

Melalui 4 strategi diatas diharapkan bahwa dunia pariwisata Indonesia mampu bersaing secara kompetitif dengan kompetitor Regional bahkan Internasional.

Pada tataran Kota Cirebon, implementasi 4 aspek strategi pemasaran di atas dapat dilakukan dalam bentuk :

  1. Pengembangan Pasar Wisatawan

Strategi pertama yang harus diperhatikan adalah mengembangkan “Pasar” wisatawan. menurut ilmu ekonomi pasar adalah tempat dimana terjadinya kegiatan transaksi suatu komoditi. Pada konteks tersebut pertemuan dan transaksi antara penjual dan pembeli secara langsung terjadi di suatu tempat tertentu yang disebut di awal sebagai “pasar”. Namun, pada konteks pemasaran produk wisata, yang dimaksud “Pasar Wisatawan” di atas bukan sekedar tempat dimana transaksi perdagangan dilakukan, pasar di sini lebih kepada cakupan segmen wisatawan. Sebagaimana kita pahami bahwa segmen wisatawan adalah klasifikasi target pasar wisatawan sesuai dengan karakteristik demografis dan sosiologisnya. Pengembangan pasar wisatawan adalah perluasan cakupan target wisatawan. Jika misalnya selama ini Kota Cirebon dominan membidik wisatawan dengan latar belakang ketertarikan atau keterikatan budaya (cultural interest) karena Kota Cirebon

Memiliki potensi obyek dan daya tarik budaya yang banyak, maka dengan pertumbuhan potensi wisata yang terjadi di Kota Cirebon seperti pertumbuhan bisnis kuliner dan oleh-oleh khas Cirebon, pertumbuhan pusat-pusat hiburan masyarakat, pertumbuhan bisnis jasa dan perdagangan serta pertumbuhan aksessibilitas ke arah Cirebon, maka  seyogyanya pasar wisatawan yang dijadikan segmen bidikan juga harus berkembang.

Kota Cirebon saat ini telah mengalami pertumbuhan bisnis jasa dan sarana wisata yang sangat signifikan, hal ini adalah modal dasar yang sangat besar untuk melakukan pengembangan pasar wisatawan, maka bidikan pemasaran ke depan harus juga dikembangkan baik dari sisi jangkauan pasarnya maupun dari sisi cakupan segmen pasarnya.

 2.Pengembangan Citra Pariwisata

Citra (image) dalam pariwisata adalah gambaran yang baik tentang kondisi faktual suatu destinasi wisata. Gambaran yang akan membentuk persepsi positif di benak calon wisatawan yang akan berkunjung. Indonesia misalnya sejak dulu dicitrakan oleh dunia internasional dengan masyarakatnya yang menjunjung sopan santun, akrab dan gampang senyum. Citra ini yang kemudian banyak menarik wisatawan dari mancanegara berkunjung ke Indonesia. Contoh lain misalnya Bali terkenal di dunia dengan pulaunya yang eksotis dengan perpaduan budaya dan alamnya yang blended. Maka kemudian Bali menjadi salah satu destinasi wisata internasional yang amat digemari di dunia.

Kota Cirebon sendiri sejak lama dicitrakan sebagai Kota perbatasan di pantura dengan kekayaan budaya dan potensi pesisirnya yang melimpah, maka citra ini harus terbukti benar-benar ada di Kota Cirebon. Jangan sampai citra yang sudah terbentuk kemudian malah menjadi boomerang karena kemudian Kota Cirebon tidak seperti yang dicitrakan wisatawan. oleh karena itu, pemasaran pariwisata harus mampu membangun citra baik tentang Kota Cirebon sesuai dengan potensi dan keadaan yang ada di Kota Cirebon namun dengan kemasan pemasaran yang menarik dan mampu memikat calon wisatawan yang akan berkunjung ke Kota Cirebon.

 3.Pengembangan Kemitraan Pemasaran Pariwisata

Pemasaran yang efektif juga meniscayakan adanya kemitraan yang baik dengan pihak lain sebagai mitra, baik itu swasta maupun pemerintah. Kemitraan yang baik akan menghasilkan jaringan pemasaran yang sangat efektif. Maka, segmen pasar wisatawan yang ditarget akan mudah dicapai melalui sebuah jaringan kemitraan yang baik yang mampu mencapai target pasar tersebut. Adakalnya pemasaran yang kita bangun tidak efektif di suatu segmen pasar disebabkan kita belum memahami karakteristik segmen pasar tersebut, maka melalui kemitraan pemasaran ini kendala seperti itu bisa diminimalisir. Oleh karena itu, pengembangan kemitraan dalam pemasaran pariwisata mutlak dibutuhkan.

 4.Pengembangan Promosi Pariwisata

Langkah selanjutnya adalah membangun promosi pariwisata yang efektif dan menarik. Promosi yang mampu menghadirkan sebuah citra yang menarik tentang destinasi yang kita tawarkan namun tetap faktual. Maka bentuk, content dan kemasan promosi harus benar-benar dikemas sedemian rupa sehingga mampu mewakili secara keseluruhan potensi destinasi yang kita miliki. Oleh: Mustofa,SE