Artikel

Menginformasikan Kota Cirebon Melalui Budaya

    Dibaca 337 kali budaya

 

             Perkembangan informasi yang begitu pesat pada masyarakat dewasa ini  mendorong tingginya komunikasi melalui beragam media. Kebutuhan informasi yang semula di dapat melalui media arus utama seperti surat kabar, majalah dan radio dalam perkembangannya menemukan bentuk baru dengan memanfaatkan teknologi informasi sebagai media sosial. Namun demikian sebuah informasi tidak serta merta memiliki derajat kepentingan yang sama, apalagi jika pesan  yang dikirimkan dalam komunikasi tersebut hanya sebatas percakapan ringan antar personal. Harus ada pesan  kuat yang dapat ditransformasikan agar informasi yang dikomunikasikan memiliki derajat kepentingan yang tinggi dan dapat memberikan dampak efektif seperti yang diharapkan.

            Cirebon sebagai sebuah  kota yang memiliki sejarah panjang  dalam proses pembentukannya telah melahirkan sebuah identitas komunal yang secara formal bersifat inklusif dengan beragam warisan budaya di dalamnya yang mengandung nilai-nilai spiritual  luhur. Oleh karena itu memahami Cirebon tidak cukup hanya didasarkan pada sekedar inventarisasi  angka-angka pada data potensi kota belaka. Lebih dari itu pemahaman terhadap budaya sebagai aset maupun konsepsi yang terkandung di dalamnya harus dapat terkomunikasikan  secara luas hingga mendorong ketertarikan banyak pihak terhadap Kota Cirebon. Jika kekayaan ini dikemas oleh pemangku kepentingan secara paripurna dengan melibatkan  berbagai kalangan profesional di dalamnya, maka kekayaan budaya ini akan memberikan kontribusi lebih besar bagi pemerintah daerah dalam banyak aspek, sehingga dapat mendudukan potensi Kota Cirebon dengan segala keunikannya secara terhormat di tengah  kota-kota lainnya di Indonesia.

            Kebudayaan  di dalam  masyarakat Cirebon  terbentuk sebagai suatu fenomena historis yaitu hasil karya budaya yang dipengaruhi oleh beragam faktor baik politik, sosial, ekonomi serta seni dalam segala interrelasinya di samping dapat pula dianggap sebagai suatu kreatifitas  karya kelompok atau  golongan  sesuai dengan kondisi sekeliling pada masanya yang terbangun tidak hanya atas satu unsur saja. Adanya arus besar yang menghubungkan antara pola hidup masyarakat serta kedudukan sosialnya mengintegrasikan berbagai hal sebagai pendorong dan  penentu terciptanya pola dan kebiasaann yang akhirnya menghasilkan suatu  produk yang melekatkan  identitas baru pada komunitas  lingkungan yang berjalan secara alamiah. Hal ini berkorelasi dengan kemampuan masyarakat dan ketokohan  para pemimpin Cirebon masa lalu yang memiliki open minded tolerance dalam  mengakomodir unsur-unsur asing yang  hadir di tengah masyarakat tanpa kehilangan  local genius atau peran kepribadian yang telah dimilikinya.

            Kini peran yang lebih besar harus dimainkan oleh pemerintah Kota Cirebon agar kekayaan yang ada dan hidup di dalam masyarakat sejak lama dapat ditransformasikan nilai-nilai luhurnya, tidak hanya pada masyarakat yang tinggal di dalamnya,  tetapi juga pada masyarakat secara luas. Beragam konsepsi dan falsafah para pendiri Cirebon yang nilai-nilai  implementasinya terwujud dalam  beragam bentuk  seni dan budaya seperti bangunan, batik, seni rupa, musik, tari dan adat istiadat menjadi  warisan atau peninggalan kebangaan yang  sangat berharga. Namun  demikian kebanggaan terhadap kebesaran masa lalu harus didukung dengan upaya-upaya kekinian yang dapat mengartikulasikan konsepsi yang terkandung di dalamnya melalui media yang akseptabel, sehingga memberikan efek jangkauan yang luas tidak hanya menjadi sekedar harapan belaka. Oleh karena itu untuk menghidupkan  kembali rasa keingintahuan masyarakat terhadap budaya Cirebon sebagai suatu warisan yang benar-benar hidup dan  bisa disaksikan  tidak hanya sekedar sebagai benda mati perlu dirancang suatu agenda budaya yang berlangsung secara berkelanjutan hingga dapat “menginformasikan” Kota Cirebon  secara utuh hingga menyentuh banyak kalangan secara luas.

            Secara sederhana agenda budaya tersebut dapat diaktualisasikan melalui pagelaran kesenian sebagai daya tarik yang dirancang secara serius dan profesional serta berkesinambungan melalui jadwal yang secara pasti dapat diketahui oleh publik. Bukan sekedar  pementasan  seni ala kadarnya yang akhirnya secara substantif tidak menyentuh filosofi dari pesan moral  seni  yang  ingin disampaikan. Pemanfaatan  situs bersejarah sebagai ruang untuk berekspresi akan  semakin memperkuat imajinasi para penikmatnya terhadap situasi masa lalu. Salah satu  landmark Kota Cirebon yang cukup berpengaruh dalam membangun situasi tersebut salah satunya adalah Gua Sunyaragi. Situs bersejarah yang menurut Purwaka Caruban Nagari dibangun sekitar tahun 1720 oleh Pangeran Kararangen atau Pangeran Arya Cirebon yang  pada tahun 1987 atas inisiatif para tokoh seperti Drs. H. Subrata (mantan Dirjen RTF), Prof. Dr. Haryati Subadio (mantan Dirjen Kebudayaan) dan H. Ismail Saleh, SH (mantan Jaksa Agung) dilengkapi dengan panggung budaya. Optimalisasi objek wisata Gua Sunyaragi seharusnya dapat menjadi sarana efektif dalam  membangkitkan agenda budaya yang diprogramkan.

Dalam pengertian luas pementasan  kesenian  tradisional di Kota Cirebon bukanlah satu-satunya bentuk agenda budaya, tetapi  pagelaran seni tradisional yang  dirancang secara baik di Kota Cirebon ini memiliki preseden positif. Hal ini pernah ditunjukan melalui pagelaran Sendra Swatacana oleh Yayasan Budaya Sunyaragi dengan memanfaatkan situs Gua Sunyaragi sebagai setting lokasi pementasan. Peran serta pemerintah, tokoh masyarakat dan pelaku seni sertadukungan sponsor berlangsung secara harmonis hingga mampu menghadirkan pertunjukan kolosal yang fenomenal ini secara rutin. Tidak kurang dari cerita rakyat yang telah menjadi legenda di masyarakat seperti “Hilangnya Memolo Masjid Agung”, “Palagan Putri Selapandan” dan perjuangan “Ki Bagus Rangin”  berhasil dipagelarkan dengan koreografi yang ditata apik oleh Handoyo dari Sanggar Pring Gading. Sayangnya setelah beberapa kali  berlangsung pagelaran Sendra Swatacana  itu tenggelam dan tak terjadwal lagi sebagai sebuah agenda seni budaya Cirebon yang dapat dinikmati oleh masyarakat  lokal, luar daerah  maupun  mancanegara.

Sudah saatnya kegiatan sejenis yang memberikan gaung besar bagi Kota Cirebon dihidupkan kembali sebagai sebuah agenda budaya yang terjadwal secara rutin. Informasi yang diperlukan oleh masyarakat tentang Kota Cirebon tidak semata-mata soal angka dan statistik. Tidak sedikit kalangan  yang juga secara antusias memiliki ketertarikan besar terhadap aspek budayanya. Salah satu yang menarik dan menjadi ciri khusus dari sebuah budaya adalah adanya beberapa aspek  yang  memiliki makna dan sarat dengan simbol. Curiousity yang selalu meningkat seiring dengan kemajuan dan kemakmuran masyarakat sejalan dengan adanya revolusi telekomunikasi, transportasi dan turisme menjadi salah satu peluang yang harus bisa dimanfaatkan untuk memberikan nilai tambah bagi Kota Cirebon.

Kegiatan budaya yang terjadwal  bisa memberikan dampak besar secara sekaligus bagi masyarakat meliputi aspek pariwisata, ekonomi dan kemajuan budaya itu sendiri. Aspek pariwisata diharapkan meningkat  melalui tingginya jumlah pengunjung karena adanya daya tarik yang tidak hanya bisa disaksikan sebagai sebuah karya seni belaka, tetapi juga pembelajaran terhadap kandungan nilai-nilai spiritual yang ada di dalamnya. Dari aspek ekonomi agenda budaya dapat memberikan kontribusi positif terhadap penerimaan daerah, tingkat hunian hotel dan transportasi penunjnag serta tumbuhnya partisipasi ekonomi masyarakat yang diwujudkan dalam bentuk penjualan cinderamata maupun oleh-oleh khas daerah. Adapun aspek budayanya bisa dipastikan akan menunjukan geliat positif dalam menumbuhkan kreatifitas dan rasa cinta masyarakat terhadap kesenian tradisional. Selain itu agenda budaya akan  memberikan dampak psikologis yang besar terhadap seniman dan minat berkesenian generasi muda dalam mengekspresikan kemampuannya.

            Saat ini masih diperlukan peran besar Pemerintah Kota Cirebon sebagai fasilitator dan katalisator untuk menginformasikan potensi Cirebon secara objektif dengan mendorong terwujudnya agenda budaya sebagai sebuah daya tarik. Selanjutnya  promosi yang kuat harus dapat menggerakan keterlibatan pelaku industri pariwisata seperti travel biro, hotel dan restoran, profesional conference organizer serta media komunikasi yang semakin beragam bentuknya saat ini agar dapat meningkatkan perhatian dan kunjungan  masyarakat dari luar ke Kota Cirebon.

 Oleh. Akhmad Amin, S.Sos, MM

 Penulis adalah PNS pada

Dinas Komunikasi dan Informasi Pemerintah Daerah Kota Cirebon