Artikel

DIVERSIFIKASI FUNGSI PRASARANA UMUM SEBAGAI SOLUSI KETERBATASAN OBYEK DAN DAYA TARIK WISATA

    Dibaca 218 kali cirebon

 

Salah satu permasalahan industry pariwisata Kota Cirebon yang saat ini dikeluhkan oleh para pengusaha perhotelan adalah menurunnya tingkat hunian hotel (hotel accoupancy). Selain disebabkan oleh semakin banyaknya jumlah usaha perhotelan di Kota Cirebon dan sekitarnya sehingga terjadi market sharing antara hotel, juga disebabkan salah satunya oleh menjamurnya trend halfday tour/short time visit  dari para wisatawan yang berkunjung ke Kota Cirebon. Seiring dengan telah beroperasinya ruas toll yang langsung menghubungkan Jakarta dan Cirebon sehingga Wisatawan dari Jakarta, Bandung dan sekitarnya hanya membutuhkan waktu + 3 jam untuk mencapai Cirebon, akhirnya mereka hanya membutuhkan setengah hari saja untuk meng-explore Kota Cirebon, berangkat pagi dari Jakarta/Bandung, sore harinya pada hari yang sama mereka bisa pulang lagi ke rumah masing-masing. Meskipun trend kunjungan ini berimbas pada meningkatnya angka kunjungan wisata di Kota Cirebon yang sangat signifikan, tetapi justru menjadi permasalahan baru bagi dunia perhotelan di Kota Cirebon. Permasalahan yang lain juga menjadi penyebab menurunnya length of stay wisatawan yang berkunjung ke Kota Cirebon adalah keterbatasan obyek dan daya tarik wisata (ODTW) di Kota Cirebon dan sekitarnya yang membuat wisatawan tidak memiliki alternatif yang banyak untuk lebih lama bertahan di Kota Cirebon. Ini sesungguhnya adalah masalah klasik yang sebenarnya merupakan pokok permasalahan dari semua permasalahan di atas. Kota Cirebon sebagai destinasi wisata sesungguhnya sangat kurang representatif jika dilihat dari perspektif portofolio produk wisatanya. Portofolio produk wisata yang baik di sebuah kawasan destinasi wisata haruslah merupakan keterpaduan yang lengkap dari  aspek atraksi Alam, Budaya dan Buatan Manusia, akan tetapi coba kita lihat di Kota Cirebon misalnya, terkenal dengan julukan “Kota Udang” dan “Kota Pantura”, akan tetapi faktanya wisatawan yang berkunjung ke Kota Cirebon tidak bisa menemukan obyek wisata berbasis laut/pesisir/pantura yang memadai yang dikelola di Kota Cirebon atau wisatawan cukup kesulitan untuk menemukan pusat-pusat kuliner yang menjajakan masakan berbahan dasar “Udang” yang ada di seluruh sudut Kota Cirebon. Bukankah ini sebuah “ironi” dari sebuah stigma “Kota Udang”? mestinya sebuah stigma yang melekat di sebuah kota itu adalah sebuah “Tagline” yang benar-benar menggambarkan potensi terbesar dari kota tersebut, contoh misalnya pulau Bali dijuluki “Island of thousand temples” maka kita bisa dengan sangat mudah menemukan pura (temple) di setiap sudut pulau Bali, atau contoh lain misalnya Bogor terkenal dengan “Kota Hujan”, maka kita bisa dengan mudah merasakan sejuknya udara di Kota Bogor karena memang di Bogor curah hujannya sangat tinggi.

Memang harus kita akui bahwa sangat tidak mudah untuk mencari solusi dari permasalahan diatas. Menaikkan angka hunian hotel sementara portofolio produk wisata yang ada sangat terbatas adalah sebuah perkerjaan yang sangat sulit. Angka hunian hotel dan produk wisata adalah sebuah “Kausalitas”. Makin banyak produk wisata di suatu destinasi sehingga wisatawan memiliki banyak alternatif untuk lebih lama tinggal maka makin tinggi angka hunian hotel di kawasan tersebut bisa dicapai. Begitu pula sebaliknya, makin sedikit produk wisata di sebuah destinasi akan berpengaruh pada penurunan angka hunian hotel di kawasan tersebut. Pada tataran Kota Cirebon, meningkatkan jumlah portofolio produk wisata hampir merupakan sesuatu yang mustahil, terutama jika berkaitan dengan membuka kawasan obyek wisata yang baru. Hal ini karena di Kota Cirebon hampir sudah tidak tersedia kawasan kosong yang bisa disulap menjadi kawasan wisata baru. 37km2 luas Kota Cirebon telah habis untuk kawasan hunian, perdagangan dan industry. Bahkan dari luas itu, sudah tidak ada lagi yang diperuntukkan untuk kawasan pertanian dan perkebunan. Maka, jangankan untuk membuka kawasan wisata baru, untuk membuka zona hijau dalam bentuk kawasan pertanian dan perkebunan atau sekedar membuka hutan kota saja sudah sangat sulit. Ini adalah fakta yang selalu harus dihadapi ketika berbicara mengenai pengembangan kawasan wisata di Kota Cirebon. Namun tentu kita tidak bisa menyerah dengan kondisi ini, sebab permasalahan seperti ini juga jamak dihadapi oleh kota-kota lain.

Strategi yang mungkin kita lakukan dalam kondisi seperti ini adalah kita mengadopsi cara-cara petani dalam menyiasati keterbatasan lahan yang mereka miliki, yakni dengan melakukan “diversifikasi tanam” atau bahasa sederhana mereka adalah “tumpang sari”. Bagaimana cara mereka menyiasati lahan yang terbatas tetapi bisa menghasilkan produk tanam yang produktif dan beragam. Dalam satu ladang mereka bisa tanam secara bersamaan jagung, singkong dan cabe. Atau ada istilah “mina padi” sambil menanam padi mereka juga bisa memelihara ikan mas pada ladang sawah yang sama. Cara ini bisa meningkatkan fungsi ladang dan efektif untuk memacu produktifitas hasil pertanian. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimanakah implementasi strategi “diversifikasi” ini pada dunia pariwisata?

Pariwisata adalah industry terpadu (Integrated industry), sebuah industry yang merupakan integrasi dari berbagai unsur kepariwisataan dalam bentuk aksessibilitas, amenitas dan atraksi wisata. Perpaduan yang terjadi secara sistemik sehingga semua unsur bersinergi menghasilkan sebuah produk yang disebut “Pelayanan Pariwisata”. Pada konteks tersebut, yang akan kita bahas berkaitan dengan implementasi strategi “Diversifikasi” di atas adalah unsur aksesibilitas pariwisata. Aksesibilitas pariwisata adalah semua jenis sarana dan prasarana transportasi yang mendukung pergerakan wisatawan dari wilayah asal wisatawan ke destinasi pariwisata maupun pergerakan di dalam wilayah destinasi pariwisata (PP Nomor 50 Tahun 2011). Dari pengertian tersebut dapat kita buat rincian bahwa aksesibilitas pariwisata terdiri dari : sarana, prasarana dan system transportasi. Sarana terdiri dari : Moda transportasi darat, sungai/danau/laut, dan udara. Prasarana terdiri dari jalan, pelabuhan laut, bandara, terminal dan stasiun. Sedangkan amenitas adalah fasilitas layanan pendukung seperti perbankan, perhotelan, restoran, toko souvenir dan lainnya. Lantas, seperti apakah implementasi “Diversifikasi” tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, terlebih dahulu kita pahami pengertian “Diversifikasi”. Diversifikasi adalah kegiatan atau tidakan untuk membuat sesuatu menjadi lebih beragam atau tidak terpaku pada satu jenis saja. Diversifikasi merupakan upaya menganekaragamkan bentuk berbagai barang atau jasa tertentu yang akan diedarkan di pasaran. Nah, kaitannya dengan judul tulisan di atas adalah bahwa prasarana pariwisata yang ada di suatu wilayah destinasi wisata seperti prasarana jalan, terminal, stasiun, pelabuhan atau bandara fungsinya dapat didiversifikasikan atau dimanfaatkan tidak hanya sebagai fungsi utama/awalnya saja yakni sebagai prasarana umum, tetapi difungsikan juga untuk kegiatan lain yang mungkin dapat dilakukan di sekitar prasarana tersebut dalam hal ini difungsikan sebagai obyek dan daya tarik wisata. Sebagai contoh, Stasiun Kejaksan adalah salah satu prasarana umum yang hingga saat ini merupakan stasiun utama lalulintas kereta api untuk seluruh layanan kereta api yang melewati Kota Cirebon. Stasiun Kejaksan dibangun pada tahun 1920 berdasarkan karya arsitek Pieter Adriaan Jacobus Moojen (1879–1955) dalam gaya arsitektur campuran art nouveau dengan art deco. Stasiun ini jelas merupakan salah satu peninggalan bersejarah di Kota Cirebon, maka selain berfungsi sebagai stasiun kereta api, bisa juga kita upayakan untuk difungsikan sebagai Museum Transportasi seperti di Ambarawa Jawa Tengah. Atau dapat juga sebagian ruangan dari komplek stasiun difungsikan sebagai Art Gallery untuk karya-karya seni seniman lokal. Contoh lain, jalan Siliwangi Kota Cirebon yang merupakan salah satu jalan protokol di tengah Kota Cirebon juga merupakan salah satu jantung aksesibilitas bisnis di Kota Cirebon dapat juga didiversifikasikan fungsinya, misalnya pada hari Minggu selama ini telah dimanfaatkan untuk program car free day (CFD) untuk berbagai aktifitas masyarakat pada pagi hari dari sekedar jogging sampai ada pertunjukan seni khas Cirebon. Ini adalah bentuk dari diversifikasi fungsi prasarana umum. Dengan konsep yang lebih baik, dapat pula difungsikan sebagai venue event pariwisata yang cukup besar semisal festival pasanggiri seni budaya atau atau fashion show semisal “Jember Fashion Carnival” yang sudah mendunia.

Inti dari diversifikasi adalah pemanfaatan fungsi lain dari prasarana umum dalam rangka menyiasati keterbatasan lahan untuk mengembangkan jumlah ODTW. Sepanjang tidak mengganggu fungsi utama dari prasarana umum tersebut maka mendiversifikasi prasarana umum tersebut merupakan cara kreatif yang sangat mungkin dapat meningkatkan popularitas suatu daerah dalam bidang Pariwisata. Banyak sekali daerah atau bahkan Negara yang mampu menyiasati keterbatasan wilayah yang mereka miliki dengan melakukan diversifikasi fungsi prasarana umum yang mereka miliki, misalnya Singapura yang sukses menyelenggarakan event olahraga Balap Mobil “F1” dengan mengambil venue jalan protokol yang biasa mereka gunakan untuk lalu lintas umum pada hari-hari biasa. Atau Kota Bandung yang berhasil merubah banyak prasarana umum seperti taman atau sungai menjadi atraksi/obyek wisata dan berhasil menarik banyak wisatawan untuk mengunjunginya. Maka sudah saatnya Pemerintah Kota Cirebon memanfaatkan strategi ini untuk meningkatkan fungsi prasarana umum yang ada di Kota Cirebon dalam rangka pengembangan sektor pariwisata untuk meningkatkan angka kunjungan wisata ke Kota Cirebon yang pada akhirnya akan meningkatkan kontribusi PAD dari sector pariwisata untuk pembangunan Kota Cirebon. Tentu dibutuhkan tidak hanya sekedar ide kreatif dan semangat kerja, tetapi lebih dari itu juga dibutuhkan political support dari pemangku kekuasaan untuk memudahkan realisasi ide diversifikasi prasarana umum tertentu di Kota Cirebon.Oleh : Mustofa, SE