Artikel

MUNGGAH SUHUNAN CIREBON

    Dibaca 179 kali cirebon

 

                                               

Munggah Suhunan adalah upacara memasang kayu panjang paling atas pada rumah baru. Dalam upacara sakral ini, di Cirebon, kayu paling panjang ini disebut “nok”.  Upacara pemasangan kayu nok ini dilakukan ketika rumah sudah mencapai setengah badan. Artinya upacara munggah suhunan dilakukan ketika seluruh tembok rumah sudah selesai. Namun demikian dalam prakteknya upacara ini dimulai ketika kuda-kuda yang dipasang untuk dudukan kayu nok dan didudukkan di atas tembok selesai. Dan upacara ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan keselamatan penghuni rumah baru nanti.

Upacara ini dimulai dengan memandikan kayu nok dengan air yang berasal dari 7 sumur. Salah satunya adalah yang berasal dari sumur sendiri. Sisanya berasal dari sumur-sumur yang dikeramatkan yang umumnya berusia tua. Sebagai contoh pada masyarakat kampung Majasem, sumur-sumur lainnya itu adalah Sumur Masjid Agung, Sumur Balong Sumber, Sumur tua mushollah, Sumur Wasiat, dan sumur-sumur tua lain hingga seluruhnya mencapai 7 sumur. Di samping itu untuk memandikan kayu nok, air harus diberi kembang tujuh rupa (kembang-kembang yang terdiri dari 7 macam). Ketujuh macam kembang itu misalnya Mawar, Melati, Kenanga, Nusa indah, Kemboja, Dahlia, dan Kembangkertas. Dan dalam memandikannya kayu nok dibacakan doa.

Setelah selesai dimandikan, kayu nok dipasangkan di atas kuda-kuda. Setelah itu dipasang atau diletakkan beberapa barang pada kayu nok yang sudah pada tempatnya (sudah di atas kuda-kuda). Barang-barang itu di antaranya adalah kain warna merah dan putih (bendera merah putih) yang dibungkuskan pada bagian tengah kayu nok. Pada pemasangan kain merah putih di masukkan bumbu yang sebenarnya kembang yang sudah kering. Yaitu bumbu ditempelkan di bagian tengan kayu kemudian dililitkan kain merah putih hingga bumbu ada di dalam lilitan kain. Dan setelah kain terlilit, kain kemudian diberi paku pada beberapa bagian hingga lilitan tidak dapat lepas dari kayu nok.  

Selain bendera merah putih barang-barang lainnya yang diletakkan di kayu nok adalah makanan, pakaian, alat-alat rumah tangga dan barang-barang lainnya. Makanan itu antara lain dalam bentuk padi, kelapa, tebu, dan pisang yang semuanya diletakkan dengan cara digantung di kayu nok. Khusus untuk padi, mengingat sekarang sukar mendapatkan padi gedengan, maka padi yang digantung adalah yang bukan gedengan dimana untuk menggantungnya menggunakan kantong plastik. Sedangkan pakaian berupa kain, sarung, celana, dan handuk yang diletakkan dengan cara disampirkan seperti menjemur pakaian di kayu nok. Sementara itu alat-alat rumah tangga adalah centong, irus yang dimasukkan ke dalam kronjo (berupa jaring-jaring) dan kemudian digantungkan ke kayu nok. Barang-barang lainnya adalah payung yang dimekarkan, ilir (kipas terbuat dari bambu), bambu kuning, dan beringin yang diikatkan ke kayu nok dengan posisi berdiri tegak.

Pada tempat-tempat tertentu, barang-barang untuk suhunan ditambahkan barang-barang rumah tangga yang terbuat dari gerabah dan bahan-bahan untuk membangun rumah. Barang-barang rumah tangga yang terbuat dari gerabah itu adalah kendi gogok besar dan dandang. Sedangkan bahan-bahan un tuk membangun rumah adalah bata, genteng, dan genteng memolo. Jumlah barang-barang ini untuk dijadikan barang suhunan adalah masing-masing sebanyak 1 buah. Sedangkan dalam pemasangannya di kayu nok, barang-barang ini digantungkan ke kayu nok.

Pada masyarakat Cirebon, untuk mendapatkan barang-barang untuk keperluan acara munggah suhunan biasanya tidak melakukannya dengan cara mengumpulkan satu persatu hingga harus datang ke banyak tempat. Untuk mendapatkan barang-barang itu cukup datang ke seorang atau beberapa penjual atau tempat para penjual yang menyediakan barang-barang untuk keperluan munggah suhunan. Dari penjual atau tempat ini biasanya mereka sudah mendapatkan semua barang-barang untuk keperluan itu. Hal ini bisa dilakukan mengingat di Cirebon ada penjual maupun tempat penjual yang menyediakan segala jenis barang-barang itu. Di kota Cirebon sendiri, tempat-tempat penjual segala keperluan untuk acara munggah suhunan diantaranya adalah Pasar Kanoman dan depan komplek pemakaman Jabangbayi.       

Pada saat pelaksanaan upacara munggah suhunan ini dimulai, para pekerja yang membangun rumah harus  menghentikan pekerjaannya. Dan mereka yang menghentikan pekerjaannya ini baru dapat meneruskan pemba-ngunan rumah esok harinya. Namun demikian sering dilakukan pada hari dilakukan upacara ini kegiatan pembangunan rumah diliburkan.

Pada pelaksanaan upacara munggah suhunan ini dilakukan tahlilan. Setelah itu dibagi-bagikan berkat pada mereka yang hadir Selain itu berkat dibagikan pula pada tukang dan keneknya (para pekerja) yang membangun rumah. Berkat ini berupa tumpeng yang digrandili dan dibungkus daun pisang.

Setelah barang-barang itu terpasang, pada malam harinya dilakukan acara melekan, yakni acara tidak tidur sampai subuh. Mereka yang melakukan acara tidak tidur sampai subuh ini adalah para tetangga beserta para tukang dan keneknya. Biasanya yang dilakukan pada acara melekan ini adalah ngobrol sambil minum kopi dan memakan makanan kecil. Pada pagi atau esok harinya, barang-barang yang terpasang itu diturunkan atau diambil kembali.

Pada masa lalu kayu yang dijadikan kayu nok harus kayu salam. Maksudnya agar “selamat” yang menjadi tujuan dilakukan upacara munggah suhunan tercapai. Namun saat ini yang menjadi kayu nok biasanya adalah kayu balo. Hal ini disebabkan saat ini kayu salam sulit didapat.