Artikel

BLANGKON CIREBON

    Dibaca 462 kali wisata budaya khas

             Blangkon adalah tutup kepala tradisional bentuk formal bagi kaum lelaki, masyarakat daerah-daerah di pulau Jawa, khususnya kaum lelaki menakan, yang diperkirakan mulai berkembang sejak abad 18. Blangkon boleh dikatakan bentuk penyempurnaan dari pada tutup kepala yang disebut iket.

            Di wilayah Cirebon dan sekitarnya, dahulu iket dijadikan tutup kepala yang sangat penting karena dapat menyimbolkan status masyarakat. Iket merupakan tutup kepala yang tidak hanya digunakan oleh masyarakat pedesaan, tetapi juga masyarakat kratonan, hanya bentuknya berbeda, yaitu dalam bentuk lipatan unik, yang direkayasa sedemikiian rupa, hingga menyerupai bentuk blangkon seperti sekarang. Kemudian dalam perkembangannya disempurnakan, sehingga menjadi tutup kepala tradisional yang lebih rapih dan praktis serta merupakan bagian dari pakaian adat kratonan, yang selanjutnya disebut blangkon atau bahasa  Cerbon menyebutnya “Bendo”.

            Berbeda dengan blangkon Jawa, blangkon Cerbon, tidak memiliki bendulan di bagian belakang, baik yang menonjol sebesar kepalan tangan ke belakang (gaya Yagyakartan), maupun yang gepeng macam gaya surakartan.

Sebagai perbandingan dengan blangkon Jawa, bagian belakang ini terdapat juga ragam hias tak nampak, yang disebut simpal, yang kadang juga di kedua tepinya dillengkapi dengan sawat atau kepak (untuk jenis Adipatian) dan  langse(bagian ujung kain yang disisakan terjuntai) untuk jenis kesatriaan

Jenis Blangkon Cirebon

            Dilihat dari fungsinya, maka blangkon Cirebon dapat dibagi menjadi:

  1. Blangkon Adipatian
  2. Blangkon Kesatrian
  3. Blangkon Kawibawan dan
  4. Blangkon Kemantrian

Di bawah ini dijelaskan jenis-jenis blangkon tersebut

  1. Blangkon Adipatian

Blangkon ini biasa dikenakan oleh seorang sultan pada acara-acara formal, seperti menyambut tamu-tamu dinas  (kunjungan kerja, kunjungna kenegaraan, dsb) dan upacara adat (muludan, pernikahan dll).

Bentuk blangkon ini, di bagian belakangnya terdapat sawat  atau kepak,  yaitu bentukan pita yang menyerupai sayap kupu

  1. Blangkon Kesatriaan

Blangkon ini biasa dipakai oleh nom-noman para petinggi kraton dalam acara-acara formal, seperti menyambut Tamu, upacara adat dsb. Bentuk blangkon kesatrian pada bagian belakangnya dilengkapi dengan laqngse atau kencir, yaitu dua ujung atau sudut kain iket yang digeraikan, sehingga sekilaslalu menyerupai rambut panjang yang terurai saat dipakai.

  1. Blangkon Kawibawan

Blangkon ini merupakan blangkon para pini sepuh kraton-kraton di Cirebon dan digunakan swebagai bagian pakaian adat kraton yang dipakai pada upacara-upacara atau acara-acara formal.

Blangkon ini disebut juga blangkon polosan, karena memiliki bentuk polos, tanpa dilengkapi ragam hias atau variasi tambahan

  1. Blangkon Kemantrian

Blangkon ini digunakan oleh para mantri, yaitu para abdi dalem dan simpatisan kraton, disebut juga blangkon ireng, karena berwarna gelap (ireng).

   ( Oleh : H. Yatna Supriatna Wachid     )