Artikel

LEGENDA BESERTA ULASAN KAMPUNG LARANGAN CIREBON

    Dibaca 186 kali artikel

 

Pada suatu waktu di suatu tempat di daerah arah agak selatan Kota Cirebon ada satu keluarga melakukan hajat walimah (syukuran) sunatan. Waktu hajat walimah itu pagi tepatnya jam 8. Seperti kebiasaan dalam hajat walimah, orang yang punya acara itu undang-undang tetangga.

Menjelang acara dimulai berdirilah tuan rumah di depan rumahnya untuk menyambut mereka yang datang. Ketika ada yang datang tuan rumah langsung menyambut dengan bersalaman. Setelah itu tuan rumah mempersilahkan orang-orang yang datang itu untuk masuk dan duduk di tikar yang sudah digelar.

Pada mulanya acara penyambutan berjalan biasa dimana tamu datang kemudian bersalaman dan di suruh masuk. Namun di tengah-tengah penyambutan lewat di depan rumah hajat orang tua yang tidak dikenal. Orang tua asing ini berpakaian kurang bagus. Ia hanya mengenakan baju kampret dan bawahannya sarung sederhana. Karena ingin disyukuri oleh banyak orang, oleh tuan rumah orang tua tadi disuruh masuk untuk turut serta menyaksikan acara syukuran sunatan.

Pada mulanya orang tua asing tadi duduk paling depan. Namun ketika ada tamu berikutnya orang tua tadi disuruh bergeser ke arah pinggir. Begitupun ketika ada tamu lagi, bapak tua disuruh bergeser lagi. Karena banyaknya tamu yang masih terus berdatangan ia terus bergeser. Karena terus bergeser ini pada akhirnya orang tua tadi menjadi berada di pinggir dan dekat kelompok anak-anak.             

Setelah tamu sudah pada datang, dimulailah acara syukuran itu. Namun ketika amin-amin (acara) baru dimulai aki orang tua asing  tadi menghilang.  

Tak lama setelah aki tadi menghilang aki tadi muncul lagi. Berbeda dengan kemunculan pertama kali, kemunculan kali ini mengenakan pakaian kerajaan. Dan selayaknya seorang raja kemunculan kedua ini menggunakan kuda. Selain itu kemunculan kali ini sebagai tamu baru dengan mengulang lewat depan rumah. Karena pakaiannya berbeda seratus delapan puluh derajat dengan ketika datang pertama kali tak ada seorangpun yang tahu jika ia adalah aki dengan pakaian sangat sederhana yang datang sebelumnya.

Berbeda dengan ketika datang pertama kali, kali ini mendapat sambutan yang berbeda. Jika kedatangan pertama ia terus disuruh minggir setiap ada tamu yang datang hingga ia berada di pinggir, kali ini oleh orang hajat dihargai dengan luar biasa. Pada kedatangan yang kedua kali ini ia ditempatkan pada tempat terdepan dan tidak disuruh-suruh untuk minggir.

Tak lama waktu berselang, di sela-sela acara berlangsung, tamu dengan pakaian kerajaan menghilang lagi. Namun berbeda dengan hilang saat pertama, hilangnya kali ini tidak dengan pakaiannya. Hilangnya kali ini menyisakan pakaiannya berupa pakaian kerajaan itu.

Semenjak kejadian ini kampung dimana dilakukan hajat walimah itu dinamakan Larangan. Yakni kata “Larangan” muncul dari adanya pengertian dimana untuk dihargai seseorang harus mengeluarkan pengorbanan yang besar. Dengan kata lain kata “Larangan” muncul dari adanya pengertian dimana untuk dihargai itu larang (mahal). Dalam hal ini “larang” artinya “mahal”.  

Dalam perkembangan selanjutnya Kampung Larangan menjadi tempat yang menakutkan bagi para maling. Ini disebabkan maling yang lewat kampung ini akan ketangkap. Kondisi ini berlaku pula bagi Durjana maling hebat pada masa lalu. Pada masa itu di tempat lain Durjana tidak pernah tertangkap. Tetapi ketika melakukan aksi nyolong di Kampung Larangan ia tertangkap. Oleh karena itu maling tidak mau melakukan aksinya di kampung ini.

Saat ini “Larangan” bukan hanya digunakan sebagai nama suatu kelurahan. Larangan juga digunakan sebagai nama kampung yang ada di Kelurahan Kecapi. Adanya nama Larangan sebagai nama kelurahan dan nama kampung yang ada di Kelurahan Kecapi ini dikarenakan adanya pemekaran Kelurahan Larangan menjadi 2 kelurahan, yakni Kelurahan Larangan dan Kelurahan Kecapi. Nama Larangan ada juga di Kelurahan Kecapi disebabkan dalam pemekarannya itu Kampung Larangan terpecah juga ke dalam 2 kelurahan. Yakni Larangan Timur tetap masuk ke dalam Kelurahan Larangan. Sedangkan Larangan Utara dan Larangan Selatan masuk ke dalam wilayah kelurahan pemekaran, yakni Kelurahan Kecapi. Dan sesungguhnya nama Larangan sebagai kelurahan tidak lain diambil dari nama Larangan sebagai kampung. Dalam hal ini Larangan sebagai nama kelurahan adalah hasil peningkatan status secara administrasi dari sebelumnya yang digunakan sebagai nama kampung.  Dengan kata lain, Kampung Larangan tidak dalam satu kesatuan yang utuh. Kampung Larangan ada dalam dua wilayah administrasi yang berbeda, dimana Larangan Timur masuk dalam Kelurahan Larangan. Sedangkan Larangan Utara dan Larangan Selatan masuk dalam Kelurahan Kecapi.

Selain itu saat ini Kampung Larangan (Baik Kelurahan Larangan maupun Kampung Larangan dalam Kelurahan Kecapi) menjadi kampung yang strategis. Ini dikarenakan kampung ini menjadi gerbang utama bagi wilayah perumahan-perumahan besar Kota Cirebon, seperti Perumnas, dan perumahan-perumahan di Kelurahan Kalijaga serta tempat-tempat lainnya. Karena menjadi gerbang utama bagi wilayah perumahan-perumahan besar Kota Cirebon inilah Jalan Ciremai sebagai jalan raya yang melintasi Kampung Larangan menjadi jalan komersial yang penting. Di kiri kanan jalan ini banyak toko-toko dan tempat-tempat usaha lain cukup besar. Selain itu karena menjadi gerbang utama bagi wilayah perumahan-perumahan besar Kota Cirebon inilah Jalan Ciremai Raya yang ramai dengan lalu lalang kendaraan.