Artikel

KELOMPOK PENGANUT ALIRAN BENDAKEREP

    Dibaca 276 kali wisata budaya cirebon sejarah artikel

 

Kelompok penganut aliran Bendakerep dibentuk dan dipimpin pertama kali oleh Ki Sepuh Soleh yang hidup pada masa penjajahan Belanda awal. Pendirian sekaligus pemimpinan pertama ini dilakukan di Kampung Bendakerep suatu kampung di pinggiran Kota Cirebon, tepatnya di Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti. Dan sampai saat ini kelompok ini masih menjadikan Kampung Bendakerep, yaitu tempat dimana kelompok ini lahir, sebagai pusat kegiatan mereka. Mengingat aliran yang mereka anut mendasarkan pada Aliran Ahli Sunah Wal Jamaah atau dikenal dengan Aliran Aswaja maka kelompok ini tergolong ke dalam penganut Aliran Ahli Sunah Wal Jamaah.                   

Selain di kampung Bendakerep yang merupakan tempat lahir kelompok ini, dalam jumlah besar penganut-penganut Aliran Bendakerep terdapat di Indramayu. Selain itu dalam jumlah yang lebih sedikit ada di Kuningan, Jakarta, Kediri (Lirboyo), dan bahkan Lampung. Sementara itu daerah-daerah sekitar wilayah Cirebon yang merupakan tempat-tempat penganut aliran ini meliputi beberapa tempat di Kota Cirebon, Desa Tuk, Beberapa tempat di Kecamatan Plered, dan Sindanglaut. Untuk mereka yang berada di Kota Cirebon, kelompok ini terlihat secara tegas ada di Cibogo, Kelurahan Argasunya. Sementara untuk wilayah kota lainnya, terlebih-lebih di bagian utara yang sangat terbuka bagi kelompok-kelompok lain, kelompok ini kurang terlihat karena berbaur dengan kelompok-kelompok lainnya itu.  

Kegiatan-kegiatan dimana para anggota kelompok berkumpul biasanya adalah acara pengajian. Sedangkan kegiatan besar dimana para santri (anggota) berkumpul dalam jumlah besar dalam 1 tahun dilakukan 3 kali. Kegiatan-kegiatan itu adalah:

  1. Maulid Nabi untuk memperingati hari Kelahiran Nabi Besar Muhammad S.A.W.
  2. Khaol yang kegiatannya adalah tahlil mengirim doa untuk mereka yang sudah meninggal. Kegiatan ini dilakukan pada bulan Haji. Dan
  3. Syawalan yang kegiatannya berupa silaturahmi. Kegiatan ini dilakukan sesaat setelah Perayaan Idul Fitri.

                      

Namun demikian, untuk Syawalan, pelaksanaannya tidak seramai Maulid Nabi dan Khaol. Dan kegiatan-kegiatan itu dipusatkan di Kampung Bendakerep.

Ciri utama dari kelompok ini adalah mereka tidak menerima budaya baru. Hal ini tampak dari mereka tidak menggunakan segala sesuatu yang baru, misalnya mobil, tv, radio, speeker (pengeras suara), pakaian model dan gaya Barat, HP, dan bahkan jembatan. Barang-barang ini menurut mereka tidak boleh digunakan karena dianggap  modern dan barang-barang orang kafir. Pada masa lalu, karena kondisi ini, untuk berpergian, selain berjalan kaki, mereka juga menggunakan tandu. Khusus untuk pakaian, pada masa lalu pakaian model dan gaya Barat tidak digunakan karena dianggap menyerupai pakaian Orang Belanda yang kafir.

Hal lain yang menandai mereka menolak budaya baru adalah mereka tidak mau bersekolah.  Sementara dalam kegiatan ajar mengajar, mereka tidak mau menggunakan buku, papan tulis, dan kapur tulis. Dalam kegiatan ajar mengajar mereka menggunakan pena tutul, dengan tinta yang disebut mangsi. Untuk mangsi, mereka mendapatkannya dari pohon seperti lenca yang menghasilkan tinta.                                                                                                                                                           

Dalam dunia pekerjaan, pekerjaan yang biasa dilakukan adalah berdagang dengan barang dagangan biasanya berupa pakaian, misalnya sarung, baju koko, tapih (kain), dan batik, dan makanan, seperti opak dan rangginang. Untuk batik, mereka biasanya mengambil dari Pekalongan. Sedangkan makanan seperti opak dan rengginang biasanya mereka buat sendiri. Dalam berdagang biasanya dilakukan dengan cara berkeliling dan biasanya dijual ke anggota kelompoknya sendiri, yakni ke murid, anggota keluarga dan sebagainya. Selain itu mereka juga bertani dan beternak. Sementara pekerjaan yang berhubungan dengan pemerintah, mereka tidak mau melakukannya.

Sementara itu dalam pemberian nama orang, nama-nama yang digunakan adalah harus nama-nama Islam yang berasal dari Al-Qur’an. Nama-nama itu misalnya Abdullah, dan Muslim untuk laki-laki dan Siti Fatimah, Siti Aminah, dan Mashitoh untuk wanita.  

Hal-hal lain yang menjadi ciri yang ada pada kelompok penganut aliran Bendakerep adalah berpuasa dan tidak tidur untuk jangka waktu tertentu. Puasa yang mereka lakukan di sini dimaksudkan agar anak-anak dan penghuni-penghuni dalam kampung menjadi orang yang kuat dan benar. Sementara itu tidak tidur dilakukan dimaksudkan agar ia menjadi orang kuat. Tidak tidur yang mereka lakukan biasanya 3 hari atau bahkan 7 hari berturut-turut. Dalam kehidupan mereka, baik puasa maupun tidak tidur, adalah sesuatu yang diajarkan di dalam pesantren-pesantren yang ada di kampung Bendakerep. Selain itu mereka melakukan Riadhoh, yaitu bertapa. Tujuan mereka melakukan Riadhoh adalah untuk membersihkan diri agar anak-anak serta rakyat menjadi benar.

Dalam menjalankan ritual keagamaan kelompok ini konsen dengan Bahasa Arab. Misalnya dalam berkhotbah dalam sholat jum’at di mana pada kelompok-kelompok keagamaan Islam lain biasa menggunakan bahasa terjemahan yang tentu saja bahasa selain bahasa Arab, kelompok ini hanya menggunakan Bahasa Arab dan tidak digunakan bahasa terjemahan.

Dalam berpakaian untuk wanita biasa yang sering terlihat adalah pakaian dengan kebaya untuk bagian atas, tapi (kain) untuk bagian bawah, dan selendang sebagai penutup kepala atau rambut yang diglibedkan (dililitkan) di leher.

         Sementara bagi pria, pakaian yang biasa dilihat adalah pakaian dengan sarung untuk bagian bawah dan baju koko untuk bagian atas. Selain itu sering pula terlihat pria mengenakan celana yang panjangnya hingga di bawah dengkul atau dikenal pula dengan celana tiga per empat. Namun demikian dalam jumlah yang terbatas ada di antara mereka yang mengenakan pakaian yang lebih menunjukkan keIslaman, yakni sorban dengan udeng-udeng di kepala untuk pria dan gamis dengan kerudung untuk wanita. Khusus untuk gamis dengan kerudungnya yang memakai biasanya wanita muda. Namun demikian dalam perkembangan terakhir untuk pria ada juga yang mengenakan kemeja lengan panjang untuk bagian  atasnya. Dan dalam perkembangan terakhir untuk wanita Salah Satu Pakaian Santri Bendakerep  gamis dan jilbabnya banyak yang menggunakan.

Dalam kehidupan politik kelompok ini tidak berafiliasi dengan partai. Dalam kehidupan politik mereka memilih netral. Oleh karena itu dalam setiap pemilihan, baik eksekutif maupun legislatif, mereka tidak memilih salah  satu peserta pemilihan / partai. Namun demikian walau mereka golput mereka tetap datang ke TPS-TPS (Tempat-Tempat Pemungutan Suara) seperti halnya warga lainnya. Alasan kedatangannya adalah untuk nolak fitnah (menghindari fitnah).

Pada masa penjajahan dulu baik Belanda maupun Jepang, kelompok ini menjadi pihak yang menentang Kekuasaan penjajah. Dari pihak penjajah untuk menghadapi kelompok ini melakukan pengusiran ulama-ulama beraliran Bendakerep ini. Selain itu pihak Belanda pernah melarang pembangunan masjid yang dilakukan oleh kelompok ini. Sementara itu untuk perang fisik sering hampir terjadi. Salah satu kejadian yang hampir menjadikan terjadinya perang fisik adalah penyerbuan yang dilakukan pihak Belanda ke Kampung Bendakerep. Penyerbuan ini dilakukan untuk mengusir ulama-ulama yang ada di kampung ini untuk menghancurkan kelompok ini. Namun demikian perang besar ini gagal terjadi karenakan penyerbuan terhalang oleh sungai.