Artikel

PORTOFOLIO PRODUK WISATA KOTA CIREBON

    Dibaca 189 kali wisata budaya cirebon artikel

 

 

Dilihat dari perspektif kuantitas portofolio sebuah kawasan destinasi pariwisata daerah yang integral, Kota Cirebon sesungguhnya merupakan sebuah kawasan destinasi wisata daerah yang amat terbatas baik dari aspek keragaman maupun dari aspek kuantitas portofolio. Keterbatasan ini disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah faktor terbatasnya territorial Kota Cirebon yang hanya + 37 km2, sebuah ukuran luas yang amat sempit untuk sebuah Kota yang menargetkan menjadi salah satu Kota metropolitan di Propinsi Jawa Barat pada beberapa tahun mendatang. Selain itu, keterbatasan portofolio produk wisata Kota Cirebon juga akibat dari pengelolaan tata kota pada masa lalu yang tidak berorientasi masa depan mengakibatkan terjadinya mispositioning tata kota, sehingga berimplikasi pada semrawutnya zonasi wilayah. Campur aduknya zonasi produktif (ekonomi)  dan zonasi sosial di semua wilayah yang ada di Kota Cirebon, semakin mempersulit Pemerintah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas portofolio produk pariwisata Kota Cirebon. Padahal, salah satu permasalahan yang dihadapi oleh dunia usaha kepariwisataan di Kota Cirebon khususnya usaha perhotelan dan usaha akomodasi sejenisnya dewasa ini adalah mengenai pendeknya length of stay wisatawan yang berkunjung ke Kota Cirebon, mayoritas wisatawan hanya bisa bertahan selama-lamanya 2 hari, itupun jika paket kunjungan wisatanya dikombinasikan dengan kunjungan ke obyek-obyek wisata di wilayah III Cirebon yang lain seperti Kabupaten Kuningan atau Kabupaten Majalengka. Kelengkapan portofolio produk wisata pada suatu destinasi akan memberikan alternatif tujuan bagi wisatawan, sehingga memungkinkan wisatawan untuk bertahan lebih lama di daerah destinasi tersebut.

Pada tahun 2014, Passanger Exit Survery membuat release tentang prosentase kunjungan wisatawan pada portofolio produk wisata Indonesia sebagai berikut :

Alam (Nature) 35%

1.    Wisata Bahari (Marine Tourism) 35%

2.    Wisata Eco (Eco Tourism) 45%

3.    Wisata Petualangan (Adventure Tourism) 20%

Budaya (Culture) 60%

1.    Wisata Warisan Budaya dan Sejarah (Heritage and Pilgrim tourism) 20%

2.    Wisata Belanja dan Kuliner (Culinary and Shopping tourism) 45%

3.    Wisata Kota dan Desa (City and VillageTourism) 35%

Buatan Manusia (Man made) 5%

1.    Wisata MICE (MICE and Events tourism) 25%

2.    Wisata Olahraga (Sport tourism) 60%

3.    Obyek Wisata Terintegrasi (Integrated Area Tourism) 15%

 

Data tabel diatas menggambarkan prosentase wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia dengan konfigurasi  Alam 35%, Budaya 60% dan buatan Manusia 5%. Pada tabel tersebut, yang menjadi perhatian utama adalah pada sektor Budaya (culture) dimana kunjungan wisatawan mencapai 60% dan angka 60% tersebut terbesar berasal dari wisata belanja dan kuliner 45% dan wisata kota dan desa 35%. Jika data tersebut kita sandingkan apple to apple dengan Kota Cirebon sebagai salah satu destinasi wisata budaya terkenal di Jawa Barat, maka akan kita dapati bahwa wisata budaya yang dimiliki Kota Cirebon hanya menyumbang sebagian dari prosentase sebesar 20% yakni pada aspek Wisata Warisan Budaya dan Sejarah (Heritage and Pilgrim tourism), kenapa? Sebab 2 aspek yang lain yang menyumbang prosentase lebih besar yakni wisata belanja dan kuliner serta wisata kota dan desa lebih banyak dimiliki oleh Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan. Maka jangan berbangga dengan 4 kraton yang berdiri tegak di Kota Cirebon, karena ternyata sumbangsihnya pada wisata budaya secara keseluruhan tidak lebih dari 20% saja. Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi Pemerintah Kota Cirebon untuk bagaimana caranya mengoptimalkan sumber-sumber daya budaya yang ada di Kota Cirebon menjadi magnet yang dapat meningkatkan prosentase kunjungan wisata ke Kota Cirebon di masa yang akan datang.

            Pada aspek wisata alam (nature) dimana angka kunjungannya mencapai 35%, malah Kota Cirebon samasekali tidak berkontribusi. Nyaris Kota Cirebon tidak memiliki obyek dan daya tarik wisata berbasis alam yang memadai. Gunung dan danau tidak ada di Kota Cirebon, hanya garis pantai sepanjang + 7km dari mundu ke sungai Kedung Pane yang Kota Cirebon miliki, itupun yang termanfaatkan sebagai obyek wisata tidak lebih dari 1 km, karena 5 km lebih sudah terpakai untuk industry transportasi laut dan perikanan. Tentu kita masih berharap bahwa sisa garis pantai di sepanjang pantai Kesenden sepanjang kurang dari 1 km akan bisa dimanfaatkan sebagai kawasan obyek wisata alam pesisir sehingga kita bisa berbangga bahwa kita juga memiliki wisata alam. Tentu kita cemburu kepada Kabupaten Indramayu dengan kawasan ekowisata terpadu hutan Bakau di pantai Karangsong yang merupakan hutan Bakau terbaik ketiga se-Indonesia versi Kementerian Lingkungan Hidup, juga dengan pantai Tirtamaya yang sudah sejak lama menjadi tujuan wisata pantai bagi wisatawan di Jawa Barat. Secara teoritis, mestinya Kota Cirebon juga mampu memfungsikan kawasan pesisir Kesenden sebagai kawasan Ekowisata semisal Karangsong, sebab carrying capacity kawasan Kesenden memang memadai untuk hal tersebut. Merujuk pada RT/RW kawasan tersebut juga sudah sesuai peruntukannya, tinggal bagaimana komitmen Pemerintah Kota Cirebon untuk membangun political will yang serius untuk merealisasikannya. Pada sisi yang lain, ketersediaan ruang terbuka hijau di Kota Cirebon belum tersedia secara maksimal sementara kebutuhan masyarakat akan ruang terbuka hijau makin hari semakin meningkat, maka merealisasikan kawasan Kesenden sebagai kawasan ekowisata adalah salah satu solusi tepat bagi permasalahan ketersediaan kawasan ruang terbuka hijau tersebut.

            Kembali pada permasalahan awal bahwa Kota Cirebon sebagai salah satu destinasi wisata terkenal di Jawa Barat apabila berpedoman pada tabel yang di-release oleh Passanger Exit Survery di atas memang belum ideal. Dari tiga aspek yakni Alam, Budaya dan Buatan Manusia, ketiganya belum secara maksimal tergarap dengan baik bahkan untuk aspek Alam masih sangat minim. Yang mungkin untuk dimaksimalkan pemanfaatannya adalah aspek Budaya dan aspek Buatan Manusia. pada aspek Budaya misalnya, pada dua tahun terakhir ini banyak sekali investor yang menanamkan investasinya untuk mendirikan rumah-rumah makan dan restoran khas Cirebon seperti Nasi Jamblang dan Empal Gentong. Bahkan saat ini, Kota Cirebon makin digemari oleh wisatawan dari Jakarta, Bandung dan sekitarnya sebagai destinasi wisata kuliner. Pada hari-hari biasa dan weekend, vendor-vendor kuliner khas Cirebon ramai dikunjungi wisatawan bahkan sampai berjejal antri. Trend wisata masa kini memang seiring dengan semakin baiknya aksessibilitas menuju destinasi wisata Kota Cirebon, maka trend wisata kuliner di Kota Cirebon semakin meningkat, trend halfday tour semakin menjadi pilihan dan wisata kuliner menjadi alternatif yang paling disukai, apalagi Cirebon memiliki khasanah makanan tradisional dengan citarasa yang nikmat dan sangat familiar untuk lidah Indonesia.

            Ada dilema, ketika kualitas aksessibilitas menuju destinasi semakin baik, maka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai destinasi tersebut semakin pendek. Implikasinya muncul trend wisata short time visit/ halfday visit, wisatawan tidak memerlukan waktu banyak untuk melakukan wisata, akibatnya jasa akomodasi dan penginapan kadang tidak mereka perlukan karena cukup setengah hari saja mereka melakukan kegiatan wisata, mereka sudah bisa pulang lagi ke rumah pada hari yang sama. Dan hal ini terjadi di Kota Cirebon, wisatawan dari Jakarta, Bandung dan sekitarnya lebih memilih halfday visit sekedar menikmati wisata kuliner di Kota Cirebon. Berangkat pagi hari, sore hari sudah kembali ke rumah, imbasnya hotel-hotel di Kota Cirebon mengalami penurunan tingkat hunian. Pada kondisi seperti ini, jelas para pengusaha hotel akan kesulitan untuk meningkatkan angka hunian hotelnya. Phenomena seperti ini dialami oleh hampir semua daerah tujuan wisata yang portofolio produk wisatanya sangat terbatas.  Memang permasalahan keterbatasan portofolio produk wisata di Kota Cirebon sebenarnya adalah masalah klasik yang sudah terjadi sejak lama bahkan  sejak secara administratif Kota Cirebon berdiri terpisah dari Kabupaten Cirebon. Sebagaimana disebut diawal tulisan bahwa salah satu masalahnya adalah tidak tersedianya lahan yang memadai untuk pengembangan Kota ke arah kota destinasi dengan portofolio yang lengkap Alam, Budaya dan Buatan Manusia. Maka strategi yang mungkin untuk dilakukan oleh Pemerintah Kota Cirebon adalah mencari portofolio terunggul (highlight portofolio) yang dimiliki oleh Kota Cirebon untuk dijadikan core pengembangan destinasi pariwisata Cirebon. Dan jawaban yang paling masuk akal dan sesuai dengan kondisi faktual yang berkembang di Kota Cirebon adalah aspek pariwisata berbasis perdagangan dan jasa. Kondisi infrastruktur dan aksessibilitas pada aspek pariwisata berbasis perdagangan dan jasa di Kota Cirebon adalah yang paling unggul diantara wilayah III Cirebon, kemudian posisi yang strategis dari Kota Cirebon mendukung kemudahan terjadinya aktifitas pariwisata perdagangan dan jasa. Oleh : Mustofa, SE