Artikel

WANGSALAN CERBONAN

    Dibaca 652 kali budaya cirebon sejarah

 PENGERTIAN WANGSALAN

Wangsalan adalah jenis sastra yang tidak ada dalam tatanan sastra Melayu ataupun rumpun kesusastraan Indonesia. Jenis sastra ini hanya terdapat dan tersebar di daerah-daerah sepanjang pulau Jawa, Madura, Bali dan Lombok. Pengguna atau animo masyarakat terhadap jenis sastra ini kini sudah semakin langka, sehingga untuk menghindari kepunahannya dan melestarikannya dibutuhkan campur tangan pemerintah dengan melibatkan dan memberdayakan seniman lokal, peneliti dan pakar-pakar di bidang sastra.

Dalam bahasa Sunda wangsalan disebut wawangsalan. Sedangkan dalam bahasa Cerbon dan bahasa Jawa disebut wangsalan. Wangsalan dapat diartikan sebagai ungkapan teka-teki bersanjak, yang persanjakannya (guru swaranya) dapat diketahui setelah makna ungkapan gatra  sampiran terpecahkan. Dengan demikian Wangsalan Cerbonan  adalah ungkapan kata masyarakat Cirebon yang diekspresikan dalam bentuk wangsalan dengan menggunakan bahasa Cerbon

Contoh:

Pinggan godong tapak tangan

Yen dipikiri kelingan bli mari-mari

Penjelasan:

Makna dari ungkapan Pinggan godong tapak tangan adalah takir”, yaitu bentukan mangkok yang terbuat dari daun pisang, untuk tempat makanan, seperti rumba, kudapan, camilan dsb. Dari kata takir ini kemudian terungkaplah kandungan inti yang persanjakannya memiliki persamaan bunyi dengan bunyi “i”, yakni “pikir”. Sehingga wangsalannya menjadi: “Yen dipikir kelingan bli mari-mari”.

 Jenis-jenis Wangsalan

            Masyarakat Cirebon pada umum hanya menggunakan dan mengenal wangsalan dalam dua jenis, yaitu wangsalan Lamba dan wangsalan Rangkep. Di bawah ini dijelaskan kedua jenis wangsalan tersebut beserta contoh-contohnya dalam bahasa Cerbon

  1. Wangsalan Lamba

Wangsalan Lamba adalan wangsalan yang terdiri dari satu ungkapan yang berasal dari dua gatra. Gatra yang pertama merupakan isi wangsalan dan gatra yang kedua merupakan isi batangan (makna inti). Wangsalan jenis ini disebut wangsalan lamba atau disebut juga wangsalan tunggal.

Contoh:

  • Petek cilik, mene soten ana kang dilirik (Petek cilik=pirik)
  • Pager doyong, apa jare gebrage bae (Pager doyong=nggebrag)
  • Kebo pendek saba wana, mung sampean kang kula ganduli (Kebo pendek saba wana=bedul)
  • Pancing blungbang tinenggak deleg, krasa dadet ning ati (Pancing blungbang tinenggak deleg=det-detan)
  • Kembang puti malipir gunung, aja tega karo kulane (Kembang puti malipir gunung=mega)
  • Jangan gori, nganti budeg ngrungokaken wong tukaran (Jangan gori=gudeg)
  1. Wangsalan Rangkep

Wangsalan Rangkep adalah wangsalan yang terdiri dari dua ungkapan atau lebih, yang diekprsikan dalam satu rangkaian.

Dengan demikian Guru swara atau persanjakan pada wangsalan rangkep pun berasal dari dua pasang ungkapan. Masing-masing ungkapan terdiri atas dua gatra, gatra pertama merupakan isi sampiran, sedangkan gatra  kedua merupakan isi batangan (makna inti).

Contoh:

  • Gambar lumping munggi panggung, bedul cilik sinaba longan. Kuwayang bae, yen karep isun ora katurutan (Gambar lumping munggi panggung=wayang, bedul cilik sinaba longan=curut)
  • Lombok Cerbon, mrica Jawa bumbu jangan. Aja sembarang yen arep sesumbar (Lombok Cerbon= sabrang, mrica Jawa bumbu jangan=ketumbar)
  • Godhong bunder penginangan, tamba Jawa gegodhongan. Aja buru-buru lamun pengen tinemu (Godhong bunder penginangan = godhong suru, tamba Jawa gegodhongan = jamu)
  • Balok jejer panyebrangan, kali cilik pingir sawah. Aja sewot yen kula klalen sampean (Balok jejer panyebrangan=uwot, kali cilik pingir sawah=kalen)

Oleh : H. Yatna Supriatna Wachid