Artikel

PETILASAN PANGERAN ATAS ANGIN

    Dibaca 597 kali wisata cirebon sejarah artikel

 

Petilasan ini sesungguhnya tempat pesinggahan  sementara Pangeran Atas Angin. Yakni pesinggahan saat setelah ia kalah tanding dengan Mbah Kuwu. Kuburan sebenarnya tidak ada karena kuburannya di desa Megu dibangun masjid. Dan karena menjadi tempat pesinggahan saat setelah kalah tanding ini, ada yang menjuluki tempat ini sebagai petapakan, yaitu Petapakan Pangeran Atas Angin. 

Diceritakan Pangeran Atas Angin perang tanding dengan Mbah Kuwu. Dalam perang itu Pangeran Atas Angin terdesak. Di saat yang kritis ini ia kemudian berlari menuju ke Kepompongan.  Maksudnya menuju tempat itu tidak lain untuk menceburkan diri ke selokan dengan maksud untuk mendapatkan kejayaan. Namun rahasia untuk menjadi jayanya itu diketahui juga oleh Mbah Kuwu. Karena mengetahuinya rahasianya itu Mbah Kuwu langsung menutup air yang menuju selokan. Dan karena ditutupnya selokan itu Pangeran Atas Angin tidak  dapat memperoleh kejayaan yang pada akhirnya ia kalah dalam perang tanding itu. Setelah kalah tanding, Pangeran Atas Angin tetap tinggal di tempat dimana ia mengalami kekalahan, yakni di tempat di mana terdapat petilasannya sekarang. Setelah itu ia pada akhirnya diangkat Mbah Kuwu sebagai pemimpin di daerah yang sekarang dikenal dengan Megu. Penutupan ini pada akhirnya memunculkan kepercayaan pada masyarakat jika pedukuhan yang sekarang menjadi desa Kepompongan sulit air karena penutupan selokan oleh Mbah Kuwu ini.    

Saat ini, petilasan yang berada di tempat semacam bukit kecil ini tidak menjadi tempat sepi dan mati. Hal ini dikarenakan tempat ini menjadi tempat untuk melakukan ziarah. Para peziarah yang datang ke tempat ini umumnya dari wilayah Cirebon. Namun demikian ada juga peziarah yang datang dari Kuningan, dan bahkan dari Semarang. Selain itu ada juga di tempat ini untuk bertapa. Biasanya mereka melakukannya selama seminggu atau lebih. Dan dalam bertapa di tempat ini biasanya bertujuan untuk mendapatkan sesuatu, seperti kedudukan. Di samping itu juga tempat ini menjadi hidup karena setiap malam jum’at, lebih-lebih jum’at kliwon diadakan tahlilan. Sedangkan setiap tahun di tempat ini oleh warga Majasem diadakan Sedekah Bumi dengan membuat tumpeng dan nasi kuning. Tujuan mereka melakukan acara sedekah bumi tidak lain untuk mengirim doa pada Pangeran Atas Angin  dan untuk keselamatan  warga Majasem. 

Di dalam areal petilasan Pangeran Atas Angin, petilasan Pangeran Atas Angin yang berbentuk kuburan berada di atas bangunan bercungkup (beratap) dengan ukuran kira-kira 2,5 x 2,5 meter, Bangunan bercungkup sendiri berada pada tempat paling tinggi. Dan kuburan bersama dengan 2 nisannya terbuat dari batu alam.                                              

   Selain itu, di dalam areal petilasan Pangeran Atas Angin, selain ada petilasan Pangeran Atas Angin, juga ada dua makam yang terbuat dari bebatuan cukup besar. Kedua makam ini ada di luar cungkup namun masih dalam satu kuta dengan petilasan Pangeran Atas Angin yang berukuran 5 x 5 meter. Sementara itu di tempat terbawah dari Bangunan Tempat Petilasan Pangeran Atas Angin komplek Petilasan Pangeran Atas Angin terdapat su-  mur yang memiliki garis tengah lebih dari 1 meter. Sumur ini di kelilingi tembok yang memiliki tinggi kurang dari 1,5 meter dan berukuran kira-kira 2,5 x 2,5 meter. Masyarakat sekitar menganggap sumur ini sebagai sumur kramat dan menganggap air di dalamnya sebagai air suci (air kramat). Dan masyarakat sekitar menamakan sumur kramat ini “sumur siat” dan menggunakan airnya untuk kepentingan ritual, seperti untuk acara nujuh bulan dan munggah suhunan.            

Di areal petilasan juga ada batu pualam berbentuk empat persegi panjang dan pipih yang memberikan petunjuk jika petilasan itu adalah petilasan Pangeran Atas Angin. Batu pualam ini menempel pada dinding kuta yang mengelilingi bangunan bercungkup, tepatnya dinding sebelah kanan pintu masuk. Tulisan pada batu pualam meliputi tulisan dengan  hurup Arab yang terletak di  Dua Makam Yang Terbuat Dari Bebatuan

bagi an atas dan tulisan dengan hurup latin di bawahnya. Tulisan yang menggunakan hurup latin tersebut tertulis “Pangeran Atas Angin Bin Syech Pangeran Pangantang Syech Samud Datuk Jatisura  Bin Syech Maolana”.

Dilihat dari letaknya, petilasan yang masih berstatus diduga situs atau benda cagar budaya ini berada di Kampung Majasem / RW 8, Kelurahan Karya-   Sumur Siat

mulya, Kecamatan Kesambi. Letak ini ada di pinggiran Kota Cirebon, tepatnya ada di antara barat dengan barat daya, dan menghadap langsung ke Desa Kepompongan, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon. Sementara itu dilihat secara koordinat, areal petilasan terletak pada -6⁰ 44’ 1931” LS / 108⁰ 31’ 6.75” BT.

 Pada jarak kira-kira 100 menjelang tempat ini, seseorang harus berjalan kaki atau paling tidak menggunakan kendaraan roda dua untuk mencapai tempat ini. Hal ini disebabkan pada jarak tersebut, akses yang ada berupa gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki atau maksimal kendaraan roda dua. Dan untuk menuju kampung Majasem sendiri, biasanya Batu Pualam Empat Persegi Panjang, seseorang harus melalui Jalan Perjuangan yang dapat dilakukan mulai dari Jalan By Pass (Jalan Brigjen Dharsono) atau Jalan Raya Kalitanjung.         

Dikaitkan dengan pemukiman penduduk, areal petilasan ini agak terpencil. Di sebelah utara, rumah terdekat kira-kira berjarak 75 meter. Sedangkan di sebelah timur areal petilasan, rumah terdekat kira-kira berjarak 100 meter. Dan sesungguhnya rumah terdekat sebelah utara adalah bagian dari rumah-rumah dalam komplek Nuansa Majasem. Sedangkan rumah terdekat sebelah timur adalah rumah dalam Kampung Majasem. Sementara itu sebelah barat dan selatan areal petilasan adalah sepanjang mata memandang merupakan tanah luas tanpa ada rumah penduduk dan merupakan bagian dari area luas tanpa penduduk Desa Kepompongan.                                                                                                       Peta yang menunjukkan letak petilasan         

Berdasarkan versi yang lain, Pangeran Atas angin adalah seorang Pembesar yang berasal dari keraton Kasepuhan. Menurut versi yang lain itu diceritakan bahwa dulu ada saudagar China kaya raya punya anak cantik. Karena kecantikannya itulah, pembesar keraton Kasepuhan ingin melamarnya untuk dipersunting. Tapi apa yang diinginkan sang pembesar oleh saudagar lamaran itu ditolak dengan alasan pembesar tersebut telah mempunyai istri. Karena penolakan ini terjadilah perang tanding antara Saudagar China dengan pembesar dari keraton tersebut. Ternyata perang tanding diakhiri dengan tewasnya pambesar dari keraton tersebut sekaligus dimenangkan oleh saudagar China. Selanjutnya jasad pembesar tersebut dimakamkan di tempat ketinggian berupa bukit kecil. Bukit kecil ini berjarak kira-kira 100 meter sebelah utara dari areal petilasan dengan ketinggian yang lebih tinggi dari areal petilasan Pangeran Atas Angin. Dan bukit kecil ini sudah berada di luar wilayah kota Cirebon, tepatnya masuk Desa Kepompongan, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon.

Lebih jauh diceritakan melihat kekalahan itu, para pengikut pembesar keraton Kasepuhan  tidak terima. Para pengikut pembesar keraton tersebut marah dan kemudian mengadu ke keraton. Tak lama berselang, keraton mengirimkan tentaranya untuk menghukum saudagar China itu. Dan akibat yang diperbuatnya, pada akhirnya pihak keraton menghubur hidup-hidup saudagar China beserta putrinya itu. Dan tempat untuk mengubur kedua hukuman itu tidak jauh dari kuburan pambesar dari keraton itu, tepatnya di bawah kuburan pembesar yang tewas (di kaki seperti bukit kecil itu).

Jika kita melihat kedua tempat yang diyakini baik sebagai petilasan maupun jasadnya, maka cerita dalam versi kedua (versi lain) sinkron dengan tempat makam Pangeran Atas Angin Duwur. Hal ini disebabkan di tempat Pangeran Atas Angin Duwur terdapat dua kuburan China yang letaknya tidak terlalu tinggi atau di tengah ketinggian bukit. Namun demikian perlu diketahui lebih jauh, karena tempat di mana makam itu berada, masyarakat menyebutnya dengan “Mandiangin”.  Karena bukit sebagai areal yang diyakini dikuburkannya Pangeran Atas Angin lebih tinggi dari bukit tempat petilasan Pangeran Atas Angin, maka tempat yang ada di areal tersebut disebut Mandiangin Duwur (Tinggi) dan sudah berada di luar wilayah Kota Cirebon. Sementara sebutan tempat petilasan Pangeran Atas Angin di tempat yang lebih rendah disebut Mandiangin Endep (Rendah) dan ada dalam wilayah Kota Cirebon.