Artikel

FENOMENA WISATA ZIARAH

    Dibaca 315 kali wisata cirebon sejarah

 

             Wisata Ziarah ke tempat – tempat yang dianggap suci memiliki tujuan memaknai diri didalam mengasah dimensi spiritualitas. Hal tersebut dilakukan melalui penghayatan terhadap nilai historis – teologis yang tergambar dalam artifak dan peninggalan sejarah yang mampu “berbicara” menyentuh kedalam dimensi spiritual pengunjungnya. Wisata ziarah juga memfasiltasi seseorang untuk merasakan sesuatu yang baru, berbeda dan bermakna serta menambah “kekuatan” dari tiap – tiap tempat yang dikunjunginya.

            Pada mulanya ziarah hanyalah sekedar mengunjungi tempat – tempat suci untuk berdo’a dan menjalani ritual lainnya. Namun lambat laun ketika orang mulai berduyun – duyun disetiap kesempatan ( libur dan hari – hari besar / hari – hari keagamaan ) tak pelak lagi tempat – tempat yang diagung – agungkan itu menjadi “lahan bisnis” yang mampu memberikan keuntungan ekonomi bagi banyak orang. Bukan hanya pengelolanya yang berfikir tentang penambahan fasilitas demi kenyamanan penziarah namun hal tersebut juga berujung pada penambahan nilai ekonomi / keuntungan dari banyaknya peziarah. Masyarakat sekitarpun turut dharapkan dapat menikmati keuntungan dari kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan kunjungan tersebut seperti dari berjualan makanan, cendera mata, dan jasa – jasa lainnya. Tak ketinggalan jasa transportasi, akomodasi, dan pemandu serta unsur lain yang terkait didalamnya.

            Fenomena wisata ziarah yang paling bombastis adalah perjalanan ibadah haji karena melibatkan jutaan umat dan menghadirkan berbagai persoalan. Ibadah haji bagi kalangan muslim merupakan suatu bentuk ritual yang diwajibkan, ritual lainnya yang melekat pada ibadah haji adalah Ziarah ke Masjid Nabawi mengunjungi Makam Nabi Muhammad SAW disamping melaksanakan ibadah lainnya. Sulit membayangkan berapa besar devisa yang masuk ke Kerajaan Arab Saudi dari “Membisniskan” Ka’bah ini.

            Di Indonesia bagaimana repotnya Departemen Agama sebagai pengelola utama dalam mengurus Jamaah ini termasuk didalam mengelola anggarannya yang mencapai ratusan milyaran rupiah. Bukan hanya Ibadah haji paket ritual lainnya seperti ke Bodhaya India (Ummat Budha) sebagai tempat kelahiran Sidharta Gautama juga tak sepi peminat hanya karena kala gaungnya saja “bisnis” ini belum tersentuh banyak pengusaha. Seperti halnya Tirta Yatra bagi Ummat Hindu dan Kristen ke Vatikan dan Jerusalem.

            Wisata ziarah memang telah menjadi ritual yang turun temurun, tak lekang di makan zaman, justru makin banyak diminati seiring dengan meningkatnya tingkat perekonomian dan kemudahan – kemudahaan lainnya.

            Kemudahan perjalanan, kenyamanan Ibadah, selain mengais berkah menjadi pemicu hasrat bagi kaum peziarah. Disambut baik oleh daerah – daerah yang memiliki Situs, Artifak. Tempat – tempat yang memiliki kesakralan tak pelak juga dilirik oleh pengusaha – pengusaha yang mampu memanfaatkan peluang. Jelaslah bahwa kegiatan ziara terkait erat dengan konsep – konsep kegaiatan kepariwisataan, maka dari itu pengembangan Wisata Ziarah tidak terlepas dari pola pengembangan kepariwisataan disuatu daerah.

            Dari sudut pandang praktisi pada umumnya, kondisi kegiatan wisata ziarah yang ada saat ini memiliki beberapa kelemahan antara lain :

  1. Masih merupakan kegiatan musiman (kegiatan di Bulan Sura, Maulud dan Ramadhan)
  2. Masih bersifat ekslusif karena masih hanya dilakukan oleh kelompok tertentu saja
  3. Belum adanya keterpaduan penyelenggaraan antara Pemerintah daerah satu dengan yang lainnya
  4. Masih belum ada strong point yang dapat dijual untuk pada tingkatan yang lebih baik lagi.

Konsep Dasar Pengembangan Pariwisata :

Dasar pengembangan kepariwisataan memiliki pada 5 aspek pokok :

  1. Adanya Tourist Destination ( Objek wisata / Atraksi wisata )
  2. Adanya Aksesibilitas dan Fasilitas ( Transportasi , Akomodasi )
  3. Tour Operator ( Pengelola objek wisata / Travel biro )
  4. Physical Planning ( RUTR pengembangan objek wisata )
  5. Marketing ( Promotion, Information , dan lain – lain )

Dalam aplikasinya tidak semudah yang diduga karena kelima point tersebut diatas melibatkan berbagai instansi dan organisasi. Untuk itu diperlukan pimpinan daerah  ( Gubernur atau Bupati ) yang dapat mengatur performa unsur – unsur tersebut. Terkadang juga, disuatu objek wisata yang terdapat disatu wilayah administrasi namun aksesibilitasnya lebih mudah dari tempat / wilayah administrasi lainnya. Untuk itu diperlukan rencana umum tata ruang daerah yang lebih terpadu.

 

Kondisi – kondisi tersebut dapat dijabarkan melalui PERDA (Peraturan Daerah) untuk dapat menunjang program – program pengembangan kasawan wisata disatu daerah baik jangka panjang maupun jangka pendek.

 Konsep pengembanagn Wisata Ziarah

 Seperti sudah dibahas terdahulu mengenai wisata ziarah sebagai daerah tujuan wisata, aspek penting yang harus diperhatikan adalah :

 

  1. Tourist Motivation ( Motifasi Wisatawan )

Wisatawan yang melakukan wisata ziara pastinya memiliki suatu tujuan kearah perbaikan didalam nilai spiritual ( agama yang dianutnya ). Diharapkan adanya perubahan – perubahan tingkat keimanan dan pemahaman selepas kunjungannya. Maka dari itu diperlukan adanya “panduan” yang mengisyaratkan agar program – program ritualnya sesuai dengan tuntunan dan tidak menimbulkan kebimbangan pemahaman atau perselisihan.

 

  1. Karakteristik Wisatawan

Didalam memberikan fasilitas dan kemudahan pengelola wisata ziarah harus memahami latar belakang budaya, tingkat pendidikan, ekonomi serta sifat – sifat dari asal daerah wisatawan. Hal ini penting agar pengelola mampu memberikan pelayanan sesuai dengan karakter – karakter asal wisatawan tersebut.

 

  1. Karakteristik Obyek Wisata

Didalam mengembangkan infrastruktur hendaknya mengacu kepada kebutuhan dan keinginan wisatawan berdasarkan motivasi dan karakteristiknya. Memiliki kemudahan – kemudahan untuk pencapaiannya serta memiliki rasa keamanan dan kenyamanan.

 

  1. Menciptakan Lingkungan yang Holistik

Ditumbuhkan di masyarakat yang tinggal di lingkungan kawasan wisata tersebut untuk dapat menciptakan suasana yang “holistic”.

 

  1. Faktor Penunjang

Pengembangan faktor penunjang dilakukan kepada faktor – faktor yang relavan dengan nilai – nilai yang terkandung dengan obyek wisata tersebut.

   

  1. Pembuatan Paket Wisata

Dibuatkan paket wisata kunjungan yang bervariasi dengan tujuan untuk memperpanjang masa tinggal, meningkatkan pengeluaran wisatawan, dan membuat wisatawan tersebut berkunjung kembali ke obyek tersebut (repeater).

 

  1. Konsep Pemasaran

Konsep pemasaran dalam bentuk memberikan kemasan informasi yang menarik dan up to date melalui promosi dan jalur informasi yang dapat menginformasikan seluas – luasnya.

 

  1. Pembuatan Slogan dan Icon

Membuat slogan dan icon yang menjadi brand image untuk mengenali wisata ziarah tersebut.

 

  1. Pengembangan Produk

Didalam pengembangan produk menerapkan konsep RUTR pengembangan obyek wisata dengan pola :

  1. Menerbitkan obyek wisata ziarah sebagai pusat pengembangan wisata
  2. Menjadikan wilayah pendukung PPW ( Pusat Pengembangan Wisata ) menjadi pusat wilayah pengembangan wisata
  3. Menentukan wilayah pengembangan wisata menjadi tujuan wisata regional
  4. Mensinergikan kegiatan wista regional menjadikan daerah tujuan wisata nasional dan untuk selanjutnya dipromosikan secara terpadu kedepan menjadi tujuan wista internasional.

 

BENTUK – BENTUK WISATA ZIARAH

 

  1. OUTBOUND

Kegiatan wisata ziarah yang dilakukan oleh wisatawan mancanegara ke luar negerinya.

Contoh :           Haji dan Umroh

                        Ummat Buddha Indonesia ke Tibet dan India

                        Tirta Yatra Ummat Hindu ke India

 

  1. IN – BOUND

Kegiatan wisata ziarah mancanegara ke Indonesia, Wali Songo primadona bagi kelompok melayu Malaysia, Singapore, Brunei dan sebagain masyarakat Thailand (petani)

Umat Budha ke Candi Borobudur.

 

 

  1. DOMESTIK

Kegiatan wisata ziarah yang dilakukan oleh wisatawan dalam negeri ke destination obyek wisata yang terdapat di negeri itu sendiri.

Contoh : Masjid Demak , Masjid Banten dan lain – lain

 

Untuk menjadikan kawasan wisata ziarah yang siap jual diperlukan :

 

  1. Sinergi dan keterpaduan dalam berbagai unsur ( Pemerintah, Swasta , Organisasi, Lembaga Swadaya Masyarakat ) guna terwujudnya harapan wisatawan
  2. Political Will dari penguasa wilayah ( Gubernur dan Bupati ) terkait. Dengan polisi dalam pengembangan Pemerintah.

 

Kedepan harapan kita adalah Wisata Ziarah menjadi dapat menadai andalan wisata kita, yang dapat menghasilkan devisa Negara dalam rangka mendukung kesejahteraan bangsa.                  (  Oleh: Sugiono, Spd.)