Artikel

PETILASAN SUNAN KALIJAGA CIREBON

    Dibaca 347 kali wisata cirebon sejarah

         Bangunan Petilasan Kalijaga yang oleh penduduk setempat disebut Pesarean (tempat peristirahatan) berdiri diatas areal   ± 20.000 M2. Bangunan ini berbentuk huruf L dan terdiri atas terbagi 3 ruangan. Ruangan Pertama merupakan tempat bagi para peziarah (Pintu Bacem). Ruang Kedua merupakan tempat beberapa makam kuno, dan Ruang Ketiga merupakan bekas tempat tidur Sunan Kalijaga yang ditutup dengan kelambu. Pada sebelah barat bangunan terdapat makam pengikut dan kerabat Sunan Kalijaga. Situs ini ditutup oleh Kuta Kosod (susunan bata merah) setinggi ± 120 cm dan tebal ± 90 cm. Menurut cerita rakyat, pesarean ini dibangun oleh cicit Sunan Kalijaga pada sekitar abad ke – 17. Dari perspektif arkeologi, pesarean ini berlambang Mataram Baru, yang ditujukan dari kesamaan antara tahun kejadian dengan cerita rakyat mengenai pendirian bangunan tersebut. Pada situs Petilasan Kalijaga terdapat sumur kono yang umurnya sudah mencapai ratusan tahun. Selain itu, pada situs ini juga terdapat Masjid Kramat yang dahulu dindingnya terbuat dari kayu dan beratap daun kelapa (welit, blarak). Sekarang Masjid  sudah berubah menjadi genting.

          Menurut cerita tutur, Sunan Kalijaga pernah menetap beberapa kali di Cirebon cukup lama dalam kurun waktu yang berbeda. Kedatangan yang pertama bertujuan untuk menimbah ilmu. Kedatangan kedua dalam rangka melaksanakan tugas sebagai Wali.

             Petilasan Kalijaga terletak di sisi barat Kali Sipadu dan Jl. Pramuka, berjarak sekitar 1 Km kearah barat daya Terminal Bus Harjamukti. Situs ini dikitari makam, kebun yang ditanami beberapa tanaman keras dan pemukiman penduduk pada sebelah barat, utara dan selatan. Secara administratif, situs berada di RT.08 RW.03 Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon.

            Bangunan Petilasan Kalijaga yang oleh penduduk setempat disebut Pesarean (dari kata Jawa yang berarti tempat beristirahat) berdiri di atas areal seluas ± 20.000 M2, Bangunan ini berbentuk huruf L dan terdiri atas terbagi 3 ruangan. Ruang Pertama merupakan tempat bagi para peziarah untuk memanjatkan do’a, yang dapat dimasuki melalui pintu pertama yang disebut pintu bacem. Ruang Kedua merupakan tempat beberapa makam kuno, dan Ruang Ketiga merupakan bekas tempat tidur Sunan Kalijaga yang ditutup dengan kelambu. Pada sebelah barat bangunan terdapat makam pengikut dan kerabat Sunan Kalijaga. Situs ini dibatasi dengan Kuta Kosod (susunan bata merah) setinggi ± 120 cm dan tebal ± 90 cm. menurut cerita rakyat, ketika Cirebon “dikuasai” VOC, situs ini pernah dijadikan tempat pertemuan para panglima perang Kesultanan Kanoman, Kesepuhan dan Mataram untuk menyusun strategi melawan mereka.

            Menurut cerita rakyat, Pesarean ini dibangun oleh cicit Sunan Kalijaga pada sekitar abad ke – 17. Dari Perspektif Arkeologi, Pesarean ini berlanggam Mataram Baru, yang ditunjukan dari kesamaan antara tahun kejadian dengan cerita rakyat mengenai pendirian bangunan tersebut.

            Pada situs Petilasan Kalijaga terdapat sumur kuno yang umurnya sudah mencapai ratusan tahun. Sumur yang dinamai Wasiat itu terletak dipinggir Kali Masjid.  Selain itu, pada situs ini juga terdapat Masjid Kramat, yang dahulu dindingnya dibuat dari kayu dan beratap daun kelapa (welit, blarak), namun sekarang sudah diganti dengan dindin batu bata diplester dan beratap genting. Situs dilalui dua aliran sungai, yang masing – masing mempunyai 2 sampai 3 nama yang berbeda. Sungai dimaksud adalah Kali Simandung dan Kali Masjid, yang alirannya kemudian bertemu di Kali Cawang. Kali ini oleh masyarakat setempat digunakan untuk mandi dan cuci pakaian, dulu kali ini juga dapat digunakan untuk berwudlu. Di dekat Kali Simandung terdapat Makam Kramat Syech Khotim (kepercayaan Sunan Kalijaga).

            Kawasan ini ditumbuhi beberapa jenis pohon besar, seperti Bebang, Repilang, Rengas dan Albasia. Kerimbunan pepohonan ini mendominasi pemandangan situs. Jika kita tengadah, maka akan tampak kera – kera yang saling bergelantungan dan berkejaran. Pada pagi hari meraka akan turun, dan duduk berbaris di tepi kali, ada juga diantaranya yang tampak mencari kutu. Mereka juga akan turun, jika ada pengunjung situs, terutama yang terlihat membawa makanan. Pada saat ini populasi mereka sekitar 72 ekor.

            Sayang, pada saat ini pepohonan besar cendrung semakin berkurang, tergusur pemukiman dan tempat usaha. Akibatnya, mereka kekurangan bahan pangan, sehingga kerap memasuki rumah penduduk, bahkan ada diantaranya dengan cara merusak atap. Kerusakan “habitat” ini pula yang telah menyebabkan sebagain diantara mereka berimigrasi ke kampung lain.

            Salah satu keistimewaan kawasan ini juga memiliki beberapa legenda, diantaranya legenda Si Lorong yang berhubungan dengan perbuatan Kain Tenun, Legenda Satu Orang Raja dengan 11 punggawa, Legenda Si Mandung (Syech Khotim), Legenda Kera dan Legenda Jimat Layang Kalimursadat.

            Menurur cerita tutur, Sunan Kalijaga pernah menetap beberapa kali di Cirebon cukup lama dalam kurun waktu yang berbeda. Kedatangannya yang pertama bertujuan untuk menimba ilmu. Kedatangan kedua dalam rangka melaksanakan tugas sebagai Wali. Kali terakhir Sunan Kalijaga menetap di Cirebon dalam rangka merintis pembangunan Kerajaan Cirebon. Konon, dahulu Sunan Kalijaga sempat mengajar membuat kain tenun kepada masyarakat setempat, sehingga hampir semua penduduk dapat melakukannya. Lambat laun daerah itu pun berkembang menjadi “sentra” jual beli kain tenun. Akan tetapi, sejak kedatangan Belanda dan dilanjutkan oleh Penduduk Jepang, aktifitas pembuatan kain tenun semakin menyurut, hingga sekarang tidak nampak lagi. Masih menurut cerita tutur, Sunan Kalijaga juga terkenal sebagai ahli membatik dan sempat mengajarkannya kepada masyarakat setempat. Nyi Rupi’ah adalah orang terakhir yang mempertahankan pembuatan batik tulis khas Sunan Kalijaga. Sayang, sepeninggalnya pada sekitar tahun 1972 merupakan akhir kegiatan pembatikan di kawasan ini.    (  Oleh :Sugiono,Spd.)