Artikel

VIHARA DEWI WELAS ASIH (KLENTENG TIAU KAK SIE)

    Dibaca 132 kali wisata budaya cirebon kepurbakalaan

            Berdasarkan prasasti yang terdapat di ruang depan bangunan utama, klenteng telah mengalami beberapa kali perbaikan tanpa merubah bentuk aslinya, antara lain tahun 1791, 1829, dan 1889. Menurut prasasti tahun 1889, terjadi keganjilan ketika pemugaran yang ketiga kali. Pada masa itu Mayor Tan Tjie She, tokoh Tionghoa dan sekaligus kapitan yang memerintah di Cirebon, melarang klenteng dijadikan tempat judi. Klenteng akhirnya roboh dan rusak, tetapi ada empat tiang yang luput dari kerusakan. Setelah diperbaiki, halilintar menyambar klenteng namun hanya empat tiang itu saja yang mengalami kerusakan. Pemugaran selanjutnya dilaksanakan pengurus klenteng.

            Semula nama Klenteng Dewi Welas Asih adalah Tiau kak Sie. “Sie” artinya rumah orang beribadat (tempat bertapa), “Tio” berarti air pasang (air naik), dan “Kak” berarti bangun dari tidur atau membangunkan atau membawa kepada akal yang benar. Dengan demikian, Klenteng Tiau Kak Sie mempunyai dua arti. Pertama, klenteng merupakan tempat yang dibangun oleh air pasang. Kedua, klenteng merupakan tempat akal bertambah. Klenteng Dewi Welas Asih diperkirakan berdiri tahun 1595, sedangkan pendirinya tidak diketahui dengan pasti. Tahun dan nama penyumbang pembangunan tempat ibadat ini tercantum dalam dua prasasti yang berbeda di dlam bangunan utama, yaitu tahun 1658 dan pemberinya adalah Taan Kok Liong, Khang Li, dan Liem Tsiok Tiong. Khang Li adalah Maharaja Tiong Hwa yang memerintah di Negeri Tiongkok pada masa Lodewijk XIV.

            Klenteng yang menghadap ke selatan ini terbagi menjadi halaman pertama, kedua, bangunan utama, dan bangunan sayap. Bagian depan halama pertama dibatasi dengan pagar dan gapura berbentuk bentar, sedangkan pagar sebelah barat dan timur dari tembok. Selanjutnya menuju halam kedua dimana terdapat bangunan Pat Kwa Ceng (tempat peristirahatan), tempat peribadatan Agama Buddha yang disebut Cetya Dharma Rakhita, dua buah tempat pembakaran kertas dan dua singa.

            Bangunan utama terdiri atas serambi dan ruang utama. Ruang utama mempunyai ruang bagian depan, tengah, dan ruang suci utama. Dinding sebelah kiri dan kanan pada ruang utama yang berlantai keramik warna merah bata ini dihiasi dengan gambar yang menceritakan bakti seorang anak kepada orang tua, pengadilan, dan penyiksaan terhadap orang – orang berdosa. Masing – masing dinding ruang bagian depan ini juga ditempel prasasti yang menyebutkan nama penyumbang dan jumlahnya, serta tahun pemugarannya.

            Tiang pendukung atap terdiri atas empat buah, berbentuk segi empat, berwarna merah dan ditempelkan papan bertuliskan huruf Cina. Plafon terbuat dari kayu, sedangkan atapnya dari genteng berbentuk pelana, dihiasi dengan bunga, burung, dan daun – daunan. Pada ruang utama bagian depan terdapat Altar Dewa Tie Kong, Tempat Abu, Tempat Lilin, dan Tergantung Dua Lonceng dam Satu Bedug.

              Pada ruangan bagian tengah terdapat Altar untk Dewa Hok Tek Ceng Sin (Dewa Bumi), Altar untuk Dewa Seng Hong Yah (Dewa Akhirat/Hukum), Tempat Abu, Dua Pembakaran Kertas, dan Dua Gentong Abu.

              Ruang suci utama memiliki enam tiang yaitu dua tiang bulat warna merah bergambar naga dan empat tiang bulat merah polos. Dewa – dewa yang dipuja diletakkan didalam ruangan terbuat dari kayu dan terletak diatas pondasi. Dewa utama adalah Kwan Im Pou Sat dengan pengiringnya, Dewa Thian Siang Seng Bo (Dewa Laut / Pelayaran) beserta pengiringnya dan Dewa Kwan Te Kun (Dewa Perang). Didepan masing – masing Dewa terdapat meja Altar dan diatasnya terdapat tempat abu dan lilin.

              Pada bangunan sayap sebelah timur terdapat Altar Dewa Lak Kwan Yah (Dewa Dagang), Altar Dewa Couw Su Kong (Dewa Dapur), Altar Dewa Hian Thian Siang Tie dan pengiringnya, Dewa Sam Ong Hu dan Kong Tik Coen Ong, Gudang, dua ruang kosong dan aula yang dipergunakan untuk ibadat Agama Buddha. Didepan gudang terdapat jangkar yang diduga dibawa oleh orang Tiongkok yang dating dengan naik kapal.

               Bangunan sayap belakang terdiri atas tempat air untuk bersuci, gudang, ruang perpustakaan, Altar Hian Thian Siang Tie (Dewa Langit), Altar Tjin Fu Su (Kumpulan Dewa-dewa) dan Kantor Sekretariat. Sementara bangunan sayap sebelah barat merupakan ruangan untuk belajar kitab Agama Buddha. Dibangunan sayap ini memiliki pintu didepan (selatan) yang merupakan pintu samping disebelah barat bangunan utama. Khusus untuk bangunan sayap belakang, Altal Hian Thian Siang Tie (Dewa Langit) mempuyai atap tersendiri, berbentuk pelana, terbuat dari genting, bubungan atap berbentuk ujung meliuk.

                Di Vihara juga tersimpan jangkar kapal yang ditempatkan didinding sebelah kanan. Konon dari tempat jangkar ditemukan yang tempatnya disekitar Vihara, pada masa lalu, Vihara berada dipinggir laut. Menurut cerita ini, daratan yang terdapat disebelah Vihara dulunya masih berupa lautan. Pada saat ini kondisi klenteng terawat baik, dikelola oleh Yayasan Buddha Metta (1994) dan Yayasan Tunas Dharma (1999).  (Oleh sugiono, S.Pd. )