Artikel

KLENTENG PEMANCAR KESELAMATAN (KLENTENG WINAON)

    Dibaca 138 kali wisata budaya cirebon sejarah

            Klenteng ini terdapat di Jalan Winaon, Keluarahan Lemahwungkuk, Kecamatan Lemahwungkuk. Karena terdapat di jalan itu, klenteng dikenal juga sebagai Klenteng Winaon, berlokasi -6 0 43’ 10.15’’ LS / 108 0 33’ 56.82’’ BT, Jalan Winaon Luas Bangunan dan Luas Lahan masing – masing ± 775 M2 dan ± 800 M2 .

           Pada masa lalu, daerah sekitar klenteng ini merupakan kawasan pemukiman penduduk keturunan Tionghoa atau biasa disebut Pecinan. Menurut salah seorang pengurusnya, pada awalnya Klenteng Pemancar Keselamatan berdiri di Jalan Persewaan (sekarang Jl. Kantor). Karena letaknya hanya sekitar 100 M dari Klenteng Toe Kak Sie atau Klenteng Dewi Welas Asih, maka rumah ibadah ini kemudian dipindahkan ke lokasi sekarang.

           Tidak banyak diketahui latar belakang sejarah Klenteng Pemancar Keselamatan. Klenteng ini dibangun pada tahun 1894 diatas lahan ± 800 M2. Luas bangunan Klenteng pada masa itu 375 M2. Pada tahun 1930 mereka membangun ruang suci II seluas 70 M2. Pada tahun 1986 ruang suci ditambah kembali 300 M2. Jadi luas bangunan Klenteng pada saat ini adalah 775 M2.

           Yang membangun klenteng ini adalah penduduk Keturunan Tionghoa Suku Kei. Sebagaimana diketahui, bahwa warga keturunan Tionghoa di Cirebon terdiri atas Suku Hunan yang pada umumnya beragama Islam, Suku Hokkian dan Suku Kei yang sebagaian beragama Buddha. Agama Buddha yang dianut oleh Suku Kei ini, kata Sungkono (Ketua Yayasan Buddha Metta), adalah aliran Teravada. Akan tetapi, mereka mempercayai kerebadaan Dewi The Khu, dewa yang dipercayai menurunkan dan melindungi Suku Kei. Kelahiran Dewi ini diperingati oleh umat Klenteng ini setiap bulan 9 Kalender Tionghoa atau jatuh pada bulan Oktober. Pada upacara tersebut hadir umat mereka yang berasal dari Surabaya, Semarang, Jakarta, Bandung, Lampung dan Kota – kota di Wilayah III Cirebon.

            Secara keseluruhan bangunan klenteng yang juga dinamai Klenteng Bun Shan Thong ini dipagari tembok bercat putih. Pagar bagian depan dihiasi dengan jendela kerawang dari besi berbentuk segi empat dan berdiri sebuah gapura. Gapura ini berpintu jeruji besi dan double penel kayu yang dicat merah dan bergambar Dewa Pintu. Atap gapura dibuat dari genteng dan berbentuk pelana, ditengah bubungan dihiasi dengan Stupa.

             Setelah melewati gapura kita memasuki halaman dimana pada sebelah barat berdiri tempat pembakaran “uang” yang diatasnya terdapat Patung Singa, dan di halaman sebelah timur berdiri bangunan tempat penjaga yang merangkap gudang. Dari sana kemudian kita memasuki bangunan utama, yang terdiri atas serambi yang berlantai keramik 30 x 30 cm, dan tiga ruang suci. Pada ruang suci I terdapat Altar Dewa Hok Teng Sin beserta pengiringnya. Ada beberapa Dewa yang ditempatkan pada ruang suci II. Pada bagian barat terdapat Altar Dewa Ong Mo Nio dan Altar Dewa Thien Sen Mau. Pada bagian belakang terdapat patung pengawal Dewa Akhirat, Altar Dewi Kwan Im, Altar Kwan Tie Kong, Altar Lam Teuw, Pek Teuw dan Twor Shen Kun, Altar Cay Sen (Dewa Harta Kekayaan). Pada bagian timur terdapat Altar Cay Shen dan Altar Buddha serta aula. Pada ruangan suci III yang dibuat bertingkat terdapat ruang sekretariat di sebelah barat, gentong dan tempat pembakaran “uang” di sebelah timur. Patung Dewa yang ditempatkan di ruangan ini adalah Dewi Pek Ku Cay Ku, Dewi Phek Kung Kung Fud, Dewi Phe Kung Tay Fud (Dewa Utama Ruang Suci III), Dewi Phek Khung Lien Fud dan   Dewi Pek Kung Min Fud.

( Oleh : Sugiono, S.Pd.)