Artikel

WANDA KEDOK PADA SENI TOPENG CIREBON

    Dibaca 809 kali budaya cirebon khas

                Cirebon sebagai salah satu wilayah ujung timur batas Profinsi Jawa Barat keberadaan kesenian daerah ini begitu banyak memiliki keunikan baik dalam bentuk seni musik, tari, drama maupun seni rupa dan lain-lain.  Semua potensi seni budaya  yang cukup beragam ini keberadaanya dewasa ini dapat dikatakan cukup bervariatif, ada yang berkembang pesat seperti seni Topeng, Wayang, Sandiwara, Lukis Kaca dan lain lain.

Disamping itu ada pula jenis kesenian yang kurang dapat berkembang  bahkan eksistensinya sudah tinggal namanya saja.  Keberadaan dan eksistensi kesenian tradisi ini tentu akibat dari berbagai faktor yang melingkupinya seperti tidak adanya sistem pewarisan secara berkelanjutan, kurangnya daya dukung dan menurunnya minat masyarakat terhadap kesenian tradisional akibat makin memudarnya apresiasi dan perubahan sikap hidup.

Bergesernya sikap masyarakat ini otomatis mengakibatkan berubahnya sikap dan semangat para seniman dalam mempertahankan warisan leluhurnya yang mereka jaga sehingga satu persatu materi keseniannya mengalami pergeseran bahkan ada beberapa ragam kesenian yang mengalami kepunahan.  Diantara beberapa jenis kesenian Cirebon  yang mengalami banyak kepunahan adalah seputar seni kerajinan kedok atau masyarakat umum lebih akrab menyebutnya dengan istilah seni kerajinan  topeng.

        Menurut Endo Suanda topeng pada umumnya diidentikan dengan  muka. Topeng berfungsi menutupi atau mengganti perwujudan muka pemakainya, namun ada pula beberapa jenis topeng yang pada prakteknya tidak digunakan sebagai penutup wajah.  Jadi menurutnya pengertian topeng itu sendiri begitu sangat beragam.  Dalam tradisi kesenian topeng Cirebon itu sendiri sebenarnya penyebutan seni topeng tidak menunjuk pada seni sajian kesenian yang menggunakan topeng tapi menunjuk pada bentuk sajian pertunjukan secara keseluruhan. Sedangkan istilah topeng sebagai salah satu property dalam tarian disebut dengan sebutan kedok.

 Kesenian Cirebon yang menggunakan property kedok dibagi menjadi dua jenis pertunjukan, pertama jenis pertunjukan Topeng Babakan yang kedua jenis pertunjukan Wayang Wong dan Topeng Dalang. Penyajian dua pertunjukan khas daerah Cirebon ini menurut TH. Pigeud disebut groot Maskerspel  dan  Kleine Maskerpel.  Groot maskerpel adalah pertunjukan topeng dengan menggunakan cerita, sedangkan Kleine Markerspel  adalah pertunjukan tari tarian tunggal  terutama yang membawakan  dalam cerita Panji atau sering disebut Topeng Babakan.

        Secara historis pertunjukan ini dalam kepercayaan kalangan para seniman Cirebon diawali oleh Sunan Kalijaga yang menciptakan topeng teridiri dari Sembilan jenis dngan meniru wayang gedhog, yaitu Panji Kasatriyan, Candrakirana, Gunungsari, Andaga, Raton (seorang raja), Klana, Danawa (raksasa) Reco ( sekarang disebut dengan Tembem) dan Turas ( yang sekarang disebut Penthul) ( Toto Sudarto 2: 2001). Dari beberapa tokoh yang dibuat oleh Sunan Kalijaga itu selanjutnya para seniman topeng Cirebon kemudian mengembangkan kembali dalam beberapa genre Wayang Wong, Topeng Dalang dan Topeng Babakan.  

Dengan berkembangnya genre tersebut secara otomatis dalam penggunaan property  kedok akan turut mempengaruhi, sebab dalam cerita  Wayang Wong membutuhkan karakter begitu banyak, baik untuk tokoh Pandawa maupun untuk tokoh Kurawa dan lain lain.  Demikian pula jenis kedok yang digunakan  dalam sajian Topeng Dalang karena membawakan cerita siklus Panji yang memunculkan beberapa tokoh.  

       Untuk menggambarkan karakter tokoh agar dapat menunjukan watak dan pembawaan dari peran yang ditampilkan para seniman menggambarkannya dalam bentuk wanda. Dalam khasanah seni rupa tradsional  dalam menggambarkan karakteristik atau pembawaan dalam tokoh ini sejak dulu sudah dikenal misalnya  pada seni wayang kulit, contoh wayang Gatotkaca dalam prakteknya ditampikan dalam beberapa karakter/wanda, misalnya wanda  Kilat, Bajag, penganten dan  wanda pijer.

 

 Kerajinan Kedok

         Sebagai  perwujudan penggambaran watak dari tokoh yang ditampilkan baik dalam seni Topeng Babakan maupun Wayang Wong.  Menurut  Endo Suanda dalam karakter kedok terdapat 4 karakter dasar semua gaya seni pertunjukan Topeng, yakni (1) halus  dan/atau saleh, (2) halus tapi genit atau lincah (3)  Gagah tapi tenang dan (4) Gagah dan beringas  atau galak.  Dari empat pembagian tersebut dalam tradisi seni kriya kedok Cirebon masih terdapat beberapa ragam tipe untuk menggambar  penggambaran watak  atau suasana hati dari tokoh yang ditampilkan, misalnya pada tokoh kedok Panji terdapat beberapa macam wanda seperti  Simadu, Rentang,  dan  Sabuk. 

          Simadu menurut pendapat dari Ki Royani  tokoh Panji  ini digambarkan masih muda, berparas segar dan menyenangkan serta memancarkan daya tarik luar biasa. Wanda Rentang digambarkan Panji sedang berbicara dan menunjukan pribadi yang cerdas atau pandai.  Wanda ini dalam perwujudannya menurut Ki Kandeg digunakan untuk menggambarkan tokoh Panji Gagak Pernala, Panji Kudawanengpati, Panji Rangga Rawis dan Panji Gedog. 

           Selanjutnya dalam tokoh Pamindo Ki Kandeg menggambarkan beberapa tipe kedok yaitu Pamindo Gimbal  dan Pamindo Galuh. Dalam perwujudannya dua wanda kedok ini tentu berbeda, wanda Pamindo Gimbal karakternya nampak lincah dan dan ganjen, sedangkan Pamindo Galuh memiliki karakter agak halus dengan menggunakan sedikit jamang pada bagian hiasan rambut. Kedok ini sering digunakan untuk tokoh Kencanawungu atau Galuh Candrakirana.  

         Untuk menggambarkan tokoh yang gagah tapi tenang ( Sanggan/Punggawa) penggambarannya ada pada kedok Tumenggung dan Patih. Menurut Pak Royani kedok ini memiliki beberapa wanda yaitu wanda Seta, Jayadrata dan Pelor. Pada penyajian Topeng dalang  Pak Kandeg mengidentikan dengan tokoh Patih Bawarna,Tumenggung Magang Diraja, Arya Seta (Wayang Wong) dan Prabu Lembu Amiluhur. 

             Berikutnya dalam penggambaran karakter Gagah, galak atau beringas  ada beberapa tokoh seperti Klana, Bapang, dan Jingga Anom. Dalam penggambaran karater Klana saja ada bebera watak atau macam macam tipe Klana diantaranya ;  Klana dengan wanda wringut, drodos, golek  dan Barong.  Ragam wanda ini konon menurut Ki Royani digambarkan sebagai berikut Klana wanda Wringut digambarkan sosok Klana yang marah, bermuram durja.  

           Wanda Drodos menggambarkan Klana berwajah bodoh, cocok untuk menggambarkan sosok Klana yang termangu karena tergila-gila pada putri Kayangan.  Pak Kandeg menggambarkan Klana ini nampak lebih tua identik dengan tokoh Udawa pada wayang kulit gaya Cirebon. Wanda golek penggambarannya Klana yang terkesan galak dan lincah. Kedok wanda ini wujudnya agak kecil mata membelalak mulut terkesan marah. Selanjutnya wanda Barong menggambarkan sosok Klana yang berwatak gagah dan besar dan berwibawa, kedoknya berukuran besar mulut terbuka dan berjambang penuh.  Ki Kandeg menambahkan pula tokoh lain dalam sajian Wayang Wong dan Topeng Dalang disebut dengan kedok Bapang . 

           Kedok ini diwujudkan untuk penggambaran Hanjak Pragota dan Dursasana.  Disamping beberapa patokan umum yang empat tipe dasar karater  tersebut masih ada lagi beberapa watak lain terutama pada tokoh Punakawan atau pawongan seperti kedok Tembem bisa digunakan untuk menggambarkan sosok Semar, Prasanta dan Sabda Palon. Kedok Pantul dapat digunakan untuk tokoh Sadudawe, Jaka Bluwo dan Nayagenggong. 

         Dalam penyajian Topeng Dalang dan Wayang Wong tentu ragam  dan  pemahaman  wanda ini begitu sangat  penting untuk dijadikan rujukan dalam memahami karakteristik dari masing masing tokoh.  Maka seorang pengrajin kedok hendaknya memahami bentuk satu persatu karakter dan tokoh yang melatar belakanginya entah itu yang berkait dengan ceritera pada  gendre Wayang Wong maupun  bentuk penyajian gendre Topeng Dalang, termasuk dalam hal ini juga pada kedok yang digunakan pada sajian Topeng Babakan. Oleh : Waryo, S.Sn)