Artikel

MENGENAL UPACARA TRADISIONAL “MAULUD NABI MUHAMMAD SAW DAN UPACARA PANJANG JIMAT”

    Dibaca 105 kali budaya sejarah

 

          Maulud asal kata dari bahasa Arab yaitu Maulid yang artinya kelahiran seorang bayi yang bernama Muhammad, yang dilahirkan pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun Wawu, perhitungan almanac Arab ‘Iyah, tahun Masehi 571, dengan topik Solikh yang diasuh oleh kakeknya yang bernama Abdul Mutalib. Peringatan Maulid Nabi ini dilaksanakan setelah beliau wafat, dengan demikian perayaan Maulud Nabi ini dikhususkan untuk memperingati Nabi Muhammad SAW, jadi bukan semata-mata untuk umum. Upacara Maulud Nabi dilakukan di Cirebon sejak abad XV saat pemerintah Susuhunan Sunan Gunung Jati, tepatnya pada tahun 1479 M. Yang dilaksanakan secara besar-besaran sebelumnya pernah pula dilaksankan disaat pemerintahan Pangeran Cakra Buana hanya dengan perayaan sederhana.

           Rintisan upacara Maulud Nabi secara besar-besaran itu terjadi pada tahun 1470 M, dimana Sunan Gunung Jati mulai dikenal sebagai Wali Kutub di Cirebon yang selalu di damping murid setianya yaitu Sunan Kali Jaga (Rd. Said yang berasal dari Tuban) yang juga seorang seniman ulung yang mampu menciptakan suatu prosesi upacara Maulud Nabi yang kini di kenal dengan Upacara Panjang Jimat. Upacara Panjang Jimat tersebut menggambarkan tentang seorang Ibu yang melahirkan seorang bayi meskipun dalam Upacara Panjang Jimat tersebut ibu yang melahirkan tidak divisualisasikan, sedangkan menurut penjelasan Lurah Keraton Kasepuhan Upacara Panjang Jimat merupakan sebuah Sandiwara (Sandi : Sembunyi dan Wara : Wejangan) yang mengajarkan tentang wejangan yang mengajarkan tentang ajaran- ajaran pelajaran adat yang mengandung cerita Maulud Nabi, meskipun secara spontan ajaran yang terkandung dalam Upacara Panjang Jimat tersebut tidak mengerti oleh masyarakat umum.

 UPACARA PANJANG JIMAT

Beberapa pengertian tentang Panjang Jimat :

  • PANJANG, artinya terus menerus diadakan, yakni satu kali setahun. JIMAT, maksudnya Jimat disini yaitu memperingati hari lahirnya Nabi Besar Muhammad SAW.
  1. PANJANG JIMAT, dalam pengertian lain yaitu diambil dari sebuah piring besar (piring lodar yang berbentuk relief dan besar) yang terbuat dari Sanghyang Bango ketika masa pengembangan dari R. Walangsungsang saat beliau mencari agama yang disebut agama Islam.
  2. Panjang Jimat, sebagai sebuah pawai yang menggambarkan lahirnya sang bayi yang erat kaitannya pada saat itu dengan waktu perjalanan Syi’ar Islam.

Upacara Panjang Jimat yang dilaksanakan di Keraton Kasepuahn/ Kanoman adakalanya masyarakat umum menyebut dengan istilah Sekatenan, yaitu kegiatan yang berlangsungnya suatu keramaian dalam rangka memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW, yang dilaksanakan di Keraton. Kemungkinan lainnya istilah Sekatenan diambil dari nama Gamelan yang difungsikan sebagai alat da’wah Islam yaitu Gamelan Sekati (Sukahati) yang dibawa oleh Ratu Ayu, istri dari Pangeran Sabrang Lor (Sultan Demak II) dan juga Ratu Ayu ini adalah Putri dari Sunan Gunung Jati akan tetapi ada sebagian orang mengatakan bahwa arti Sekati asal kata dari Sahatein (Dua Kalimah Sahadat) sebgai ikrarnya masuk agama Islam yang disiarkan oleh Dewan Wali Songo.

 TATA CARA UPACARA ADAT PANJANG JIMAT

          Pada tanggal 12 Robi’ul Awal malam, setelah Ba’da Isya dilaksanakan upacara menurunkan Panjang Jimat oleh petugas dan ahli agama di lingkungan dan kerabat Kesultanan yang terdiri dari pelaksanaan Sesrana yang bertempat di Bangsal Dalem dengan menyajikan Nabi Rosul 7 Golong (tiap golongnya ditempatkan di atas tasbih) yang disimpan di piring besar, adapun petugas-petugas antara lain Nyai Penghulu, Nyai Kaum yang disaksikan Ratu Dalem. Sedangkan yang dibelakang Bangsal Dalem juga disajikan Mawar, Kembang Goyah, Serbad Boreh (Parem) dan hidangan tumpeng empat panggung/ancak/anggar yang berisi masakan, adapun petugasnya yaitu Nyai Kotib Agung, Nyai kaum yang disaksikan oleh para Ratu/ famili Keraton.

            Di gedung Bangsal Prabayaksa dan di Bangsal Pringgadani, tempat tersebut diperuntukkan bagi para undangan yang ruangan bagian tengahnya dikosongkan karena akan dipergunakan untuk deretan pelaku upacara, kemudian dari Jinem ke Srimanganti (disebelah Timur Taman Dewan Daru menuju kea rah utara sampai ke teras Langgar agung dipagari yang oleh orang-orang kemantren yang membawa Tombak Ekasula, Dwisula, Trisula, Catursila yang berdiri kiri-kanan jalan. Sedangkan di Singkang dan bagian-bagian para Kemantren. Disamping itu pun terdapat pula 28 orang para kaum Kanigaraan, Bangari Wong.

         Setelah para tamu undangan dianggap lengkap, maka Sultan beserta Permaisuri yang duduk di tengah-tengah para tamu dengan berpakaian adat Keraton membuka upacara turunnya Panjang Jimat keluar dari ruangan Keputren menuju Bangsal Prabayaksa yang diterima oleh petugas yang telah ditentukan. Adapun urutan-urutan dan atribut Upacara Panjang Jimat adalah sebagai berikut :

  1. Beberapa lilin dipasang di atas standarnya (dahulu memakai lepak)
  2. Dua buah Manggaran, dua buah Nagan dan dua buah Jantungan
  3. Kembang Goyah ( Kembang berbentuk Sumpingan) empat kaki
  4. Serbad dua buah guci dan dua puluh botol air tengahan
  5. Boreh (Parem)
  6. Ancak Sanggar (Panggang) empat buah yang keluar dari pintu Bangsal Pringgadani
  7. Tumpeng
  8. Empat buah dandang berisi masakan dari pintu Barat Bangsal Pringgadani menuju ke teras Jinem.

          Apabila Sultan telah merestui, kemudian penghulu, para kaum naik kebangsal. Petugas (para ahli) selanjutnya memanggil barisan Santana dengan posisi 14 orang terdiri dari sebelah kiri dan 14 orang sebelah kanan, kemudian lilinpun dinyalakan, maka mulailah petugas ahli mengatur jalannya upacara, berikutnya panghulu turun dari Bangsal Dalem yang diiringi petugas yang membawa 7 buah Panjang jimat, yang setiap Panjang Jimat diusung oleh 4 orang kaum yang di damping para Santana di kiri-kanannya sebanyak masing-masing 2 orang setelah itu petugas ahli memimpin barisan Panjang Jimat menuju keluar (Teras jinem) yang disambut petugas dan ditempat inilah Panjang Jimat di sebut oleh masyarakat yang secara tradisi melimpah ruah mengikuti jalannya Upacara Panjang Jimat tersebut.

 ARTI DERETAN PANJANG JIMAT

  1. Kepel artinya gambaran Ki Abdul Mutholib sebagai pembesar Qubillah (golongan bani Hasyim sekaligus sebagai sesepuh dan mempunyai peranan penting bagi golongan tersebut);
  2. Payung Keropak, artinya Ki abdul Mutholib sebgai pimpinan golongan Bani Hasyim yang mengayomi rakyatnya.

Dari pengertian dua hal tersebut di atas adalah symbol dari panji-panji Kebesaran yang disebut Duaja.

  1. Seorang laki-laki membawa tombak, artinya Ki Abdul Mutholib menugaskan seseorang untuk memanggil Bidan (Dukun bayi/ Paraji), tombak disini sebagai lambang untuk menjaga diri.
  2. Seorang laki-laki membawa obor (lilin), pada saat menyusul Dukun Bayi dilaksanakan pada malam hari (membantu penerangan)
  3. Dua buah Manggaran, Nagan dan dua buah Jantungan, menunjukkan symbol keagungan.
  4. Nyi Kotib Agung, artinya gambaran dari seorang dukun Bayi/ Paraji (Bidan)
  5. Nyi Penghulu, artinya gambaran Ibunda Siti Aminah yang akan berslain ( melahirkan)
  6. Air Mawar 2 botol, artinya gambaran Kakang Kawaah (air Kekawah yang keluar sebelum bayi dilahirkan)
  7. Penghulu/ Sultan, artinya gambaran si jabang bayi yang sifatnya suci.
  8. Panjang Jimat 7 berderet, artinya gambaran adik ari-ari 7 buah dengan maksud bahwa manusia di atas dunia ini dilahirkan pada banyak hari yang berjumlah tujuh yaitu : Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu.
  9. Pembawa Kembang Goyang empat baki, sebagai gambaran ari-ari (adik usus)
  10. Pembawa Serbad dan Guci, gelas kosong dua baki, botol-botol berisi air serbad dua baki (tiap-tiap baki terdiri 10 botol), artinya menggambarkan adiknya getih (darah).
  11. Boreh (parem) empat piring, artinya melambangkan pengobatan terhadap seorang ibu bersalin agar sehat kembali seperti semula.
  12. Nasi tumpeng jeneng, artinya melambangkan pemberian nama kepada bayi.
  13. 4 (empat) buah ancak sanggar (panggung), Buah Dongdang, artinya sebagai lambang keselamatan.

         Upacara Panjang Jimat ini di akhiri pada saat Panjang Jimat sampai di langgar Keraton, dan para pelaku upacara menertibkan diri sesuai dengan urutannya, maka dibacakanlah Maulid Nabi atau Asrokal dan Barjanji sampai selesai. Selesai Upacara Maulid Nabi, selanjutnya Nasi Jimat dan hidangan dibagikan kepada masyarakat.