Artikel

Melacak Jejak Gamelan Sekaten Cirebon

    Dibaca 180 kali wisata kesenian sejarah

          Gamelan sekaten merupakan satu perangkat ansambel khusus yang semua instrumennya di bunyikan dengan cara dipukul. Jenis gamelan penyajiannya tidak sembarangan ditabuh dan hanya dapat dijumpai dilingkungan Keraton saja. Di Pulau Jawa terdapat empat Keraton yang hingga kini masih terus melakukan tradisi menabuh gamelan sekaten seperti Kesultanan Yogyakarta, Kasultanan Surakarta, Kasultanan Kasepuhan dan Kanoman Cirebon. Secara historis tradisi menabuh sekaten ini terlebih dahulu memiliki hubungan erat pula dengan masa awal penyebaran agama Islam oleh para Wali pada jaman Kerajaan Demak Bintoro dan Cirebon sekitar abad 15 M.

        Tata cara penyajian gamelan sekaten pada masa itu, Waditra (instrumens) gamelan diletakan tepat dihalaman masjid kerajaan,kemudian di tabuh dengan volume sangat keras, sehingga suara yang dihasilkan dapat menjangkau tempat-tempat yang jauh di komplek kerajaan. Karena pada masa itu masyarakat  jawa begitu akrab dengan gamelan, maka peristiwa tersebut dapat menarik perhatian masyarakat di sekilingnya. Sejak itulah proses dakwah itu konon mulai dilakukan oleh para Wali. Bagi mereka yang tertarik memasuki agama Islam, maka diwajibkan untuk mengucap dua kalimat syahadat. Tata cara ini di Keraton Surakarta dan Yogyakarta masih terus dilakukan dengan menempatkan dua perngkat gamelan sekaten di Bangsal Pradangga, tepat di samping kanan dan kiri halaman muka mesjid kerajaan.

          Itulah sekaten itu sendiri di kalangan masyarakat terdapat beberapa versi, ada yang berpendapat , sekaten di ambil dari kata”Suka ati”, pengertiannya dihubungkan dengan proses masyarakat jawa ketika mulai memeluk agama islam dengan sukarela tanpa adanya paksaan. Pendapat lain menyebutkan bahwa kata sekaten di duga berasal dari kata”Sekati” , pengertian ini di ambil dari istilah ukuran berat pada wilahan saron gamelan tersebut yang mencapai satukati   ”1 kati= 6kg”. Pendapat ketiga istilah sekaten di ambil dari bahasa arab”syahadatain” atau dari ucapan dua kalimat syahadat.   

 Sekaten Keraton  Surakarta dan Yogyakarta

         Gamelan sekaten di lingkungan Keraton Surakarta dan Yogyakarta sudah di kenal cukup lama yaitu semenjak dinasty Mataram Islam berdiri di Pajang setelah kerjaan Demak Bintoro runtuh antara tahun 1544-1568 M. Namun pada masa Pangeran Benowo bertahta, teradisi menabuh gamelan sekaten ini sempat vakum karena terjadi perang saudara berkepanjangan. Upaya untuk mengangkat kembali tradisi menabuh sekaten pernah di lakukan pada masa  Ingkang Sinuhun  Kanjeng Sultan Agung Harya Kusuma antara tahun 1613-1645 M, bahkan Sang Sultan sempat memperbaiki fisik wadritanya.

          Ketika Kerajaan Mataram di perintah oleh Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono (PB) III, kerajaan mataram pecah menjadi dua kerajaan, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Kasunanan Surakarta di perintah oleh PB III sementara Kasultanan Yogyakarta di perintah oleh Pangeran Mangkubumi dan Hamengkubuwono. Akibat dari peristiwa ini maka tanah. dan benda pusaka keraton, termasuk ke dalamnya gamelan sekaten turut pula terbagi dua.                            Gamelan Kyai Naga Jenggot (guntur sari) dimiliki oleh Keraton Surakarta sementara itu Kyai Naga Wilaga dimiliki oleh Keraton Yogyakarta.

          Konon gamelan yang sudah dimiliki itu oleh para raja dari kedua keraton selanjutnya di buat pula duplikatnya. Seperti ketika Pakubuwono IV bertahta yang pernah membuat gamelan sekaten Kyai Guntur Madu. Gamelan ini di kerjakan langsung oleh pembuat gamelan handal  R. Demang Guno Prawiro, kemudian di beri candra sengkala “naga raja nitih tunggal” yang di letakan pada gayor (mahkota) rancak gong gamelan tersebut, artinya bahwa gamelan itu di buat pada tahun jawa 1718 atau 1797 M. (soeroso 1983:4).

           Apabila kita melihat wujud fisik gamelan yang terdapat di kedua keraton tersebut hampir semua waditranya berukuran “raksasa”, bilah-bilah logam yang semuanya terbuat dari  bahan perunggu untuk ukuran pada bilah saron sajak beratnya hampir tiga kali lipat pada gamelan biasa. Jika pada gamelan biasa ukuran berat badan bilah nya mencapai 1,5 kg , maka pada gamelan sekaten  berat bilahnya bisa mencapai 6kg. Secara lengkap dalam satu perangkat gamelan sekaten di dua keraton di jawa umumnya terdiri dari: Bonang penembung,bonang lanang, saron demung, saron barung, saron penerus, kompyang dan gong.

         Disamping ciri-ciri diatas tata cara penyajian sekaten di Keraton Surakarta yang berhak menabuh gamelan adalah sekelompok para niaga khusus yang telah di tunjukan oleh keraton. Para niaga tersebut kemudian di atur atau di golongkan menjadi dua, yaitu kelompok niaga kiwa dan kelompok niaga tengen. Dua kelompok niaga ini secara khusus dikalangan keraton dikenal dengan sebutan abdi dalem niaga kasepuhan. Kelompok niaga kiwa biasa memiliki identitas khusus mengguankan nama “pengrawit” seperti untuk sebutan martopeng rawik, kitopeng rawik dan lain- lain. Sedangkan kelompom niaga tengen biasa menggunakan inisial”mlaya”. Misal untuk sebutan Mlaya Widodo, Cahya Mlaya dan lain-lain. Pembagian tugas ini telah di tetapkan pada masa PB X, namun pada zaman PB XI hingga PB XII aturan itu kemudian disesuaikan dengan situasi dan kondisi keraton tanpa mengubah tata aturan dan tradisi berlaku.

         Reportoar gending pusaka sekaten Keraton Surakarta struktur penyajiannya telah di bakukan menjadi tiga lagu yaitu,ladrang rambu,rangkung,dan ladrang miring. Ketika lagu itu menurut tradisi keraton tidak boleh di  ubah apalagi di vareasikan baik melodi maupun struktur musikalnya .maka tidak mengherankan jika dari tahun ke tahun lagu yang di sajikan selalu stabil, artinya selama bertahun tahun gendingnya tidak mengalami perubahan. Untuk menghindari adanya perubahan pada lagu tersebut , kalangan keraton akan menangani agar aspek melodi pada waditra waditra yang di anggap penting seperti waditra bonang harus dikuasai orang yang betul - betul mumpuni.

 Sekaten Keraton Kasepuhan dan Kanoman Cirebon

           Gamelan sekaten Cirebon sering pula disebut gamelan sekati atau dikenal pula dengan sebutan gong sekati. Tradisi menabuh gamelan ini kini masih terus dilakukan baik di lingkungan Keraton Kasepuhan dan Kanoman. Sejarah mencatat bahwa awal mula munculnya gamelan ini pertama kali dibawa ke Cirebon ketika Kerajaan Cirebon mulai menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Islam Demak. Lebih-lebih setelah Pangeran Sabrang Lor (Sultan Demak II) meminang Ratu Ayu, Putri Sunan Gunung Jati, kemudian memberikan seperangkat gamelan sekati sebagai cinderamata atau kenang-kenangan dan pada akhirnya diboyong ke Cirebon. Menurut keterangan yang tercatat di museum keraton kasepuhan gamelan ini sudah ada sejak tahun 1495 M. (PS Sulendra ningrat 1974 : 79)

          Perkembangan selanjutnya, menurut almarhum E. Yusuf Dendrabata, latarbelakang gamelan sekaten kemudian dimiliki oleh kedua Keraton Cirebon, bermula ketika masa Panembahan Ratu II yang bergelar Panembahan Giri Laya menjallin tali perkawinan dengan Putri Mataram (Pajang). Pada saat itu tahta Kerajaan Mataram diperintah oleh Sultan Amangkurat I yang disinyalir pro terhadap VOC. Suatu saat Pangeran Girilaya beserta dua putranya itu P. Martawijaya dan P. Kertawijaya di undang untuk menghadap ke Mataram. Maka tampuk kerajaan sementara diserahkan kepada putranya yang  paling muda yaitu P. Wangsakerta.

         Undangan yang semula dikira sebagai ungkapan rasa rindu seorang mertua pada cucu dan menantunya tersebut, ternyata hanyalah sebuah siasat untuk menahan P. Girilaya. Sehingga selama tokoh ini tidak dapat kembali ke tanah Cirebon hingga wafat pada tahun 1661. Sejarah menyebutkan setelah wafatnya P. Girilaya maka atas kebijakan Sultan Banten an. Nash Abdul Kohar dipecahlah Kesultanan Pakungwati itu menjadi tiga bagian, yaitu Keraton Kasepuhan, Kanoman dan Keraton Kacirebonan. Ketiga keraton ini mulai berdaulat sekitar tahun 1677 (Hasan Basyari 1989 : 232) namun menurut E Yusuf masing-masing keraton ini mulai beradaulat sekitar tahun 1681.

         Terpecahnya kesultanan Pakungwati menjadi tiga bagian, tentunya mengakibatkan pula pecahnya inventaris kekayaan keraton tersebut, termasuk di dalamnya pusaka gamelan sekaten yang akhirnya dipecah menjadi dua bagian satu perangkat untuk Keraton Kasepuhan dan sebagian untuk Keraton Kanoman.

         Dilingkungan dua keraton tersebut tradisi menabuh gamelan ini memiliki perbedaan baik tata cara penyelenggaraannya, waktu hingga jumllah repertoar laghu yang disajikan. Di Keraton Kasepuhan penyajian gamelan ini biasanya dipergelarkan bertepatan dengan pelaksanaan Idul Fitri dan Idul Adha. Tata penyelenggaraannya, gamelan ini biasanya ditempatkan di sekitar komplek keraton bagian depan (Siti Hinggil), selanjutnya dibunyikan ketika rombongan Sultan kembali dari mesjid usai melaksanakan sholat.

           Sedangkan di lingkungan Keraton Kanoman waktu penyajiannya dilakukan pada setiap Mulud. Peristiwa ini bertepatan dengan tradisi Muludan yang biasa dilakukan setiapn tanggal 12 Rabiulawal setahun sekali. Tata penyajian gending diatur secara ketat berdasarkan waktu yang telah ditentukan. Repertoar lagu sekaten yang terdapat di Keraton Kasepuhan diantarnya gending rambu, bango butak dan sekaten. Sedangkan di Keraton Kanoman jumlahnya lebih banyak seperti lagu sekaten, goleng, cingcin duwur, bango butak, kajongan, pari anom rambu gede dan rambu cilik.

          Waditra sekaten Cirebon terdiri dari bonang, saron, bedug, cek ebres, gong dan kebluk, waditra ecek ebres yang terdapat di Keraton Kasepuhan jika dilihat dari wujud alatnya hampir memiliki kesamaan dengan waditra cengceng (kecer) dalam gamelan Bali. Di Keraton Kanoman fungsi alat ini waditranya diwakili oleh instrumen cret bentuk alatnya seperti kebluk tetapi tanpa pencu.

           Disamping keunikan-keunikan itu, ada beberapa sisi lain yang menarik dan patut ditelaah lebih dalam. Pertama dikalangan empu karawitan Surakarta keberadaan gamelan ini asal muasalnya sudah sangat sulit dilacak mana yang benar-benar asli dari Kerajaan Demak, bahkan beberapa kalangan akademis di STSI Surakarta pernah terlontar dugaan bahwa gamelan yang asli itu dimiliki oleh Keraton Cirebon. Dugaan ini perlu dibuktikan kebenarannya.

        Kedua, meskipun secara geografis letak Keraton Surakarta dan Keraton Cirebon berjauhan, dalam aspek musikal ada satu judul lagu yang memiliki kemiripan nama misalnya pada lagu rambu. Di Surakarta lagu ini disebut ladrang rambu. Di Keraton Kasepuhan disebut lagu rambu atau rambon sedang di Keraton Kanoman gending ini disajikan dalam dua judul lagu yaitu rambu gede dan rambu cilik.

         Aspek inipun nampaknya sangat menarik untuk dikaji, apakah adanya kemiripan nama ini ada hubungannhya dengan aspek historis kerajaan mataram dan kerajaan Cirebon yang sama-sama mengaku bahwa cikal bakal gamelan sekaten yang dimiliki berasal dari Demak. Lalu ciri-ciri musikal tertentu yang dapat menunjuk adanya hubungan itu.

Kini keberadaan gaemlan sekaten tengah mengalami masa usia renta, sementara itu tradisi menabuh gamelan masih terus dilaksanakan, sedangkan kualitas fisik gamelan ini dari waktu ke waktu terus mengalami masa penyusutan. Akibatnya akan berdampak rentan akan perubahan nada dan akhirnya akan berdampak pada tidak utuhnya laras yang dimiliki oleh gamelan itu. Kekhawatiran serupa dialami pula pada pangrawitnya, satu persatu nayaga sepuh telah tiada. Akankah proses transmisi berklangsung?

        Sudah saatnya kini baik kalangan Keraton Kanoman maupun Keraton Kasepuhan bisa belajar meniru ketelatenan Keraton Surakarta yang kini telah memiliki duplikat gamelan sekaten baru. Satu perangkat milik Taman Budaya Surakarta dan satu lagi milik STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Surakarta.

         Proses ketelatenan merawat dan menduplikasi adalah langkah positif agar upaya pelestarian bisa berjalan tanpa merusak kondisi fisik gamelan asli. Keuntungan lain tentunnya proses pewarisan akan terus berlangsung lebih leluasa. Sebagai contoh kini di stsi lagu-lagu sekaten ini dapat dipelajari oleh setiap mahasiswa jurusan karawitan. Bahhkan pada Festival Istiqlal tahun 1995, gamelan sekaten milik Taman Budaya Surakarta pernah turut pula menyemarakan, dengan para nayaga hampir  seluruhnya dari mahasiswa STSI  Surakarta. Oleh : WARYO, S. Sn.