Artikel

Potensi Pariwisata dan Perdagangan Kota Cirebon

    Dibaca 732 kali

Oleh; Mustofa, SE

Pariwisata (tourism) dan perdagangan (trade) merupakan dua unsur ekonomi terpenting yang  mampu memberikan kontribusi signifikan bagi pertumbuhan ekonomi suatu kawasan. Dalam ranah praktis, kedua unsur tersebut memiliki keterikatan erat. Berkembangnya sektor pariwisata, dalam arti meningkatnya kunjungan wisatawan pada suatu kawasan memberikan peluang dikenalnya produk-produk unggulan di kawasan tersebut, yang pada akhirnya dapat meningkatkan perdagangan. Begitu pula   sebaliknya, meningkatnya sektor perdagangan di suatu kawasan akan berkontribusi langsung pada pertumbuhan sektor pariwisata.

Sebagai sebuah kota transit dan perdagangan yang sangat penting sejak masa Pemerintahan Kolonial Belanda, Kota Cirebon merupakan berkontribusi besar pada peningkatan sektor ekonomi Jawa Barat. Hal ini didukung letaknya yang strategis, menghubungkan antara Jakarta sebagai ibu kota daerah dengan provinsi di Jawa bagian timur. Pertimbangan strategis ini yang membuat Kota Cirebon dipilih sebagai salah satu pusat pemerintahan kolonial di Jawa pada masa lampau. Frekuensi lalu lintas perdagangan komoditi sangat tinggi melalui kota ini sejak dulu, sehingga, secara alamiah, Kota Cirebon kemudian menjelma menjadi salah satu kota perdagangan yang penting di Pulau Jawa hingga kini.

Perkembangan perdagangan komoditi yang sangat maju, secara otomatis berpengaruh pada tumbuhnya sektor-sektor industri jasa pendukung diantaranya adalah sektor jasa pariwisata. Berbagai perusahaan jasa wisata tumbuh bagai jamur di musim penghujan mengiringi tingkat pertumbuhan perdaganga kala itu. Di samping itu, Kota Cirebon juga sudah dikenal sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Pulau Jawa, khususnya wisata budaya dan ziarah.  Sehingga perpaduan perdagangan dan pariwisata sudah sangat harmoni sejak dulu.

Pengertian Perdagangan

Apabila kita cermati, akan dijumpai asal kata Perdagangan, yaitu berasal dari kata dagang, sama pengertiannya dengan jual beli. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dagang berarti; “Pekerjaan yang berhubungan dengan menjual dan membeli barang untuk memperoleh keuntungan; berarti pula jual beli; atau niaga.”

Perdagangan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kegiatan perekonomian suatu daerah. Tingginya aktivitas perdagangan suatu daerah menjadi indikasi tingkat kemakmuran masyarakat daerah tersebut serta menjadi tolok ukur tingkat perekonomian daerah itu sendiri. Maka dapat dikatakan bahwa perdagangan merupakan urat nadi perekonomian suatu daerah. Melalui perdagangan pula suatu daerah bisa menjalin hubungan diplomatik dengan daerah bahkan negara lain sehingga secara langsung atau tidak langsung perdagangan juga berhubungan erat dengan dunia pariwisata.

Pengertian Pariwisata

Hakekat pariwisata dapat dirumuskan sebagai; “Seluruh kegiatan   wisatawan  dalam  perjalanan  dan  persinggahan sementara dengan motivasi yang beraneka ragam sehingga menimbulkan permintaan barang dan jasa. Seluruh kegiatan yang dilakukan  pemerintah  di  daerah  dengan tujuan wisatawan  untuk  menyediakan  dan  menata kebutuhan wisatawan, dimana dalam proses keseluruhan menimbulkan pengaruh  terhadap  kehidupan  ekonomi ,  sosial-budaya, politik  dan hankamnas untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pembangunan bangsa dan daerah." (Anonymous, 1987).

Menurut Pandit (l990), pariwisata adalah salah satu jenis  industri  baru  yang  mampu  menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam penyediaan lapangan kerja, peningkatan  penghasilan,  standar hidup serta menstimulasi  sektor-sektor produktivitas lainnya. Selanjutnya sebagai sektor yang kompleks juga meliputi industri-industri klasik yang sebenarnya, seperti industri kerajinan dan cinderamata, penginapan dan transportasi, secara ekonomis juga dipandang sebagai industri.

Korelasi Perdagangan dan Pariwisata

Bila kita baca dengan seksama pengertian antara perdagangan dan pariwisata, maka akan kita dapati sebuah hubungan ketergantungan yang saling mempengaruhi sebagai mana telah dipaparkan pada Pendahuluan dari tulisan ini. Perdagangan dan pariwisata adalah dua sektor yang harus secara bersama-sama berjalan seiring, sehingga kebijakan yang harus diambil oleh para pemegang kepentingan di suatu daerah harus benar-benar mampu untuk menyandingkan kedua sektor ini berkembang secara simbiosis mutualisma.

Perdagangan yang maju di suatu daerah, berpengaruh langsung pada berkembangnya kegiatan pariwisata di daerah tersebut. Pertumbuhan usaha-usaha jasa pariwisata seperti hotel, restoran, transportasi, komunikasi dan sejenisnya akan secara otomatis berkembang secara signifikan. Begitu juga ketika kegiatan industri pariwisata di suatu daerah berkembang secara massif, maka multiplier effect-nya akan langsung dirasakan masyarakat, yakni berkembangnya sektor-sektor perdagangan yang dikelola masyarakat.

Potensi Pariwisata Perdagangan

Cirebon, dalam satu dekade terakhir telah menjelma menjadi salah satu daerah tujuan wisata (tourist destination) yang  sangat populer di Jawa Barat dan sekitarnya. Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon mencatat dalam tiga tahun terakhir, Data Kunjungan Wisata ke Kota Cirebon mengalami peningkatan yang sangat signifikan dengan rata-rata kenaikan sebanyak 15 % per tahun. Pada tahun 2015 kemarin tercatat angka kunjungan wisata ke Kota Cirebon sebanyak 696.121 orang atau naik sebanyak 15 % dibanding tahun 2014 yang hanya 596.046 orang.

Kemajuan sektor jasa pariwisata dan perdagangan di Kota Cirebon tidak lepas dari ketersediaan infrastruktur perdagangan dan jasa yang memadai. Kondisi infrastruktur yang baik dan kondusif menjadi daya tarik para investor untuk mengembangkan jejaring bisnisnya di Kota ini. Hanya dalam satu dekade terakhir, Kota Cirebon telah menjadi salah satu metropolitan perdagangan di pulau Jawa, sebuah realita yang cukup mencengangkan.

Hal lain yang menjadikan sektor pariwisata dan perdagangan di Kota Cirebon maju pesat adalah  menjamurnya industri-industri kreatif berbasis pariwisata di masyarakat. Usaha akomodasi/perhotelan, usaha kuliner kreatif, usaha kerajinan kreatif, usaha komoditi bahari dan usaha-usaha lain sejenis bermunculan. Salah satu indikator yang menggambarkan kemajuan pariwisata dan perdagangan Kota Cirebon adalah data tingkat hunian hotel dan penginapan (hotel occupancy rate) di Kota Cirebon yang mencapai 75 persen pada hari-hari biasa dan meningkat menjadi 80-90 persen tiap weekend dan hari libur. Selain itu data waiting list investor yang ingin menanamkan bisnisnya di bidang perhotelan dan jasa wisata yang tercatat di Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMPPT) Kota Cirebon masih cukup panjang antreannya.

Selain itu, isu revitalisasi Pelabuhan Cirebon menjadi penyangga Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dan dibangunnya Bandara Kerta Jati yang berskala internasional di Kabupaten Majalengka, ternyata memberikan prospek bisnis yang sangat besar bagi para trader dan investor. Bila kedua isu tersebut telah terealisasi, dipastikan Kota Cirebon akan menjadi salah satu magnet perekonomian yang sangat besar di Pulau Jawa. Akhirnya, menurut hitung-hitungan bisnis, Kota Cirebon memang sangat prospektif di masa depan. Potensi pariwisata dan perdagangan yang ada sangat menjanjikan untuk berkembangnya pariwisata dan perdagangan yang semakin besar dan mengglobal.(*)