Artikel

Potensi Wisata Budaya Kota Cirebon dan Permasalahannya

    Dibaca 565 kali

Oleh: Drs H Adin Imaduddin Nur
Banyak pakar atau peneliti pariwisata beranggapan, bahwa lama kunjungan wisatawan dapat diperpanjang dengan menambahkan daya tarik wisata yang berbasis kebudayaan. Dalam kegiatan wisata budaya, wisatawan dapat menikmati, menemukan, mengalami, mempelajari keunikan dan berpartisipasi dalam peristiwa budaya atau cara hidup masyarakat pendukung kebudayaan tertentu. Daerah-daerah di Indonesia memiliki potensi kebudayaan yang dapat dijadikan daya tarik wisata secara melimpah. Secara geografis, potensi itu tersebar mulai dari Sabang sampai Merauke. Secara historis, meliputi kurun waktu yang sangat panjang, mulai dari masa prasejarah, masa klasik (Hindu-Buddha), masa Islam, masa kolonial hingga sekarang, termasuk tinggalan yang bersifat tradisional dan juga pengaruh kebudayaan Tionghoa.
Sebelum lebih jauh, ada baiknya kita membahas pengertian kebudayaan dalam tulisan ini.Dalam percakapan sehari-hari, konsep kebudayaan sering dipahami dalam dua pengertian.Pertama, kebudayaan sering diartikan secara sempit sebagai sesuatu hasil karya manusia yang berbau keindahan, seperti kesusasteraan, berbagai ragam dan bentuk kesenian dan upacara adat serta bermacam-macam benda dan artefak kuno.Pengertian ini biasa pula disebut dengan istilah warisan budaya (cultural heritage). Kedua, kebudayaan diartikan secara luas, yang meliputi keseluruhan aspek kehidupan yang kompleks, termasuk di dalamnya sistem pengetahuan, kepercayaan, kesenian, sistem moral, sistem hukum, adat kebiasaan, dan segala kemampuan yang dimiliki manusia sebagai suatu anggota masyarakat.
Kedua pemahaman ini dapat menimbulkan implikasi yang berbeda dalam pengembangan kebudayaan sebagai sumberdaya pariwisata.Dengan mengartikan kebudayaan sebagai warisan budaya, maka peran kebudayaan dan masyarakat pendukungnya dalam pengembangan pariwisata cenderung dipandang sebagai daya tarik wisata; masyarakat dan kebudayaan lebih berfungsi sebagai “komoditas” bagi kepentingan pariwisata.Sementara jika diartikan secara luas, maka masyarakat pendukung suatu kebudayaan tidak lagi hanya sebagai tontonan wisatawan, tetapi aktif mengambil peran-peran yang lebih berarti dalam pembangunan pariwisata. Dalam makalah ini pembahasan akan lebih ditekankan pada wisata warisan budaya atau cultural heritage tourism, yaitu kegiatan wisata yang menekankan pada daya tarik wisata suatu bentuk fisik dan nilai-nilai budaya dan sejarah yang tinggi, yang merupakan warisan atau peninggalan masa lampau.
Kendati demikian, dalam perkembangannya, penyelenggaraan kegiatan wisata ini ternyata tidak melulu memperlakukan kebudayaan dan masyarakat pendukungnya secara pasif. Demi keberlanjutan kegiatan pariwisata itu sendiri, pendekatan pembangunan melalui pemberdayaan dan peningkatan partisipasi masyarakat mulai menjadi alternatif dalam pembangunan pariwisata.
Daya tarik wisata warisan budaya dapat dibedakan kedalam unsur yang abstrak dan yang konkrit, yang dalam prakteknya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Warisan budaya yang konkrit merujuk pada bukti-bukti fisik kreativitas dan aktivitas manusia, seperti artefak, monumen, bangunan bersejarah, situs-situs, kota, dan landscape. Sementara warisan budaya yang bersifat abstrak merujuk pada cerita rakyat, tradisi, sejarah dan identitas suatu bangsa, misalnya upacara Nadran, Panjang Jimat, Festival Keraton, dan acara-acara kebudayaan. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan wisatawan pada wisata ini antara lain:
 Menikmati dan menemukan keunikan-keunikan sebuah objek atau tempat dari segi sejarah;
 Pengalaman yang sangat berkualitas akan keunikan dan keaslian suatu kebudayaan, bangunan bersejarah dan rasa memiliki suatu tempat/objek yang diberikan oleh masyarakat setempat;
 Mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan atraksi budaya untuk mempelajari sejarah dengan cara-cara penyajian dan penyampaian yang tidak membosankan;
 Melakukan kegiatan lain, seperti menikmati makanan khas di sebuah restoran tradisional sambil menyaksikan festival dan pertunjukan kesenian tradisional, menyaksikan dan berpartisipasi dalam pembuatan kerajinan khas daerah setempat.
Dengan demikian, untuk mengembangkan warisan budaya menjadi objek/daya tarik wisata, kita harus memperhatikan beberapa signifikansi yang dikandungnya, yaitu nilai estetika, nilai sejarah, nilai keilmuan, nilai sosial, kelangkaan dan superlativitas (tertua, terpanjang, tertinggi, dan ter-ter lainnya). Karena wisata warisan budaya bersifat informatif, menekankan pada keaslian bentuk dan bahan, berorientasi masyarakat, sebagai laboratorium penelitian, perlindungan dan pemeliharaan, maka dalam pengembangan kegiatan wisata ini, warisan budaya tidak “dijual” sebagaimana adanya, melainkan harus didukung dengan fasilitas interpretasi, fasilitas penelitian, fasilitas pemeliharaan dan pelestarian. Selain itu, untuk menjaga kesinambungan kegiatan pariwisata ini, objek/daya tarik wisata warisan budaya ini perlu dikelola dengan baik.Pengelolaan perlu dilakukan terhadap sumberdaya wisata (warisan budaya) itu sendiri, dan pengaturan wisatawan yang datang.Pengelolaan terhadap warisan budaya dilakukan untuk memelihara kelestariannya dan menghindarkan dampak negatif kegiatan pariwisata.Sementara pengaturan pengunjung dilakukan untuk memberikan kepuasan sesuai dengan biaya yang mereka keluarkan.Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pengelolaan objek/daya tarik wisata warisan budaya adalah :
- Penertiban aspek hukum atas objek wisata, baik dalam hal penguasaan maupun kegiatan fisik yang dapat dilakukan, agar terdapat kejelasan hak dan kewajiban dalam pemanfaatan dan pemeliharaan suatu objek wisata;
- Pembinaan terhadap pengelola harus dilakukan secara terus menerus untuk meningkatkan kualitas produk dan pelayanannya. Pembinaan dapat berupa gabungan dari kegiatan penyuluhan kepada masyarakat, pendidikan dan pelatihan, pengaturan dari pemerintah, menciptakan rangsangan atau dorongan agar terjadi persaingan yang sehat;
- Meningkatkan kualitas produk wisata agar mencerminkan ciri khas, keaslian dan keunikan dari karakter budaya dan sejarah objek tersebut;
- Meningkatkan kesadaran untuk memelihara objek tersebut agar dapat diwariskan kepada generasi penerus;
- Menyusun data base objek, yang memuat informasi tentang nilai estetika, sejarah, ilmu pengetahuan dan sosial, dan informasi ini diperbaharui secara berkala;
- Melakukan pengawasan terhadap pengembangan kegiatan pariwisata atas kerja sama dengan instansi terkait.
Cirebon: Potensi Objek, Daya Tarik Wisata dan Persoalan-persoalannya
Dalam Babad Cerbon disebutkan, bahwa Cirebon merupakan kota yang telah terbentuk sejak abad ke-15. Dari sebuah desa nelayan yang tak begitu bermakna, Cirebon berkembang secara bertahap, dan pada abad ke-16 kota ini telah tumbuh menjadi ibukota kerajaan merdeka yang dilengkapi dengan keraton, mesjid, alun-alun, pasar, jaringan jalan darat dan air, pelabuhan, benteng yang melindungi areal sekitar 50 Ha, dan taman kerajaan (Singgih Tri Sulistiyono, 1994; Adriani Adisijanti, 2000). Kesibukan penduduk pada masa itu tidak melulu memproduksi dan memperjualbelikan hasil laut, tetapi juga komoditi pertanian.Selain itu, mereka juga memproduksi dan memperjualbelikan bahan olahan dan barang-barang kerajinan berbahan tanah, keramik dan logam, serta telah terintegrasi dalam perdagangan antar negara.
Secara demografis, komposisi penduduk kota pun kian majemuk, yaitu dengan hadirnya imigran Tiongkok, Arab, India dan etnis lain.Dan Kesultanan Cirebon, kendati didirikan untuk menunjang syiar Islam, memberikan toleransi terhadap kemajemukan ini, misalnya dengan mengijinkan orang-orang Tionghoa untuk beribadah dan membangun sarananya.
Memasuki paruh ketiga abad ke-17, krisis mulai menjelang. Disharmoni antara Cirebon dengan Banten dan Mataram menimbulkan pembagian Cirebon menjadi Kesultanan Kanoman, Kasepuhan dan dua abad berikutnya lahir Keraton Kacirebonan.Pada abad ke-17 pula, Cirebon mulai bersinggungan dengan kepentingan bangsa-bangsa Eropa, yang kemudian diikuti depolitisasi dan demiliterisasi kesultanan-kesultanan di Cirebon. Pada pihak lain, bangsa-bangsa Eropa ini mulai menanamkan pengaruh, bahkan kemudian mengendalikan denyut kehidupan ekonomi politik. Dalam pengendalian bangsa Eropa, dengan giat Cirebon mengembangkan agroindustri, perdagangan internasional dan liberalisasi ekonomi. Pada awal abad ke-20 Cirebon telah berkembang menjadi kota pelabuhan terbesar ke-4 di Pulau Jawa, setelah Jakarta, Surabaya dan Semarang.
Perjalanan sejarah yang panjang itu telah memungkinkan Cirebon memiliki warisan budaya yang kaya dan beragam. Dan perjalanan hidup kota tua ini dapat ditelusuri dari peninggalan sejarah dan purbakala yang masih ada, yang merupakan pengejawantahan ketika Hindu-Buddha mempengaruhi kehidupan masyarakat; ketika Islam tumbuh dan berkembang; ketika migran Tiongkok, Arab dan India membentuk komunitas dan berinteraksi dengan warga kota lainnya; ketika orang-orang Eropa menanamkan pengaruh dan mengendalikan denyut kehidupan kota; dan ketika warga kota sebagai warga bangsa memperjuangkan dan menjalani alam kemerdekaan. Dengan perkataan lain, peninggalan sejarah dan purbakala merupakan salah satu bagian penting dari pertumbuhan kota ini, baik dalam bidang infrastruktur, struktur maupun suprastruktur. Selain kebudayaan materi, warisan budaya yang masih bisa “dinikmati” adalah upacara adat, baik di lingkungan masyarakat maupun keraton, cerita rakyat dan kesenian yang khas, baik seni pertunjukan maupun seni rupa.
Warisan budaya ini tidak hanya bermakna secara sosio-kultural bagi warga kota, tetapi juga merupakan daya tarik yang dapat dikembangkan menjadi objek wisata, khususnya cultural heritage tourism. Berdasarkan keragamannya, maka tema produk wisata budaya yang dapat dikembangkan adalah wisata keraton, wisata ziarah, wisata kebudayaan Tiongkok, wisata peninggalan kolonial, wisata babad Cerbon dan wisata pendidikan (Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, 2002). Kecenderungan Cirebon sebagai salah satu tujuan kegiatan keagamaan dan bisnis masyarakat di Jawa, khususnya Jawa Barat, dapat menjadikan peluang ini semakin prospektif .
Pemanfaatan warisan budaya untuk kepentingan pariwisata tentu membutuhkan penanganan yang komprehensif, terpadu dan sungguh-sungguh, dengan melibatkan pihak pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat dan dunia usaha secara sinergis. Sebagai penutup, ada baiknya dikemukakan beberapa permasalahan dalam pengembangan kebudayaan sebagai objek/daya tarik wisata, yang dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1. Kota Cirebon belum memiliki Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah yang komprehensif dan terpadu. Akibatnya, potensi warisan budaya material belum ditata dengan baik. Pengelolaannya (termasuk pemasaran) cenderung parsial. Begitu pula sistem gagasan, upacara-upacara tradisional dan kesenian masih banyak yang belum dikemas dengan baik;
2. Hubungan antara instansi pemerintah dengan swasta dalam pengelolaan objek/daya tarik wisata kurang terjalin dengan baik, sehingga hubungan diantara mereka lebih bersifat etis ketimbang kontraktual;
3. Hubungan antara instansi pemerintah, swasta dan masyarakat dalam pelestarian warisan budaya dan pengembangan kepariwisataan kurang sinergis, sehingga pengelolaan (pemeliharaan dan pemanfaatan) warisan budaya kurang optimal;
4. Objek wisata Kota Cirebon belum diintegrasikan dengan objek wisata di daerah sekitar, sehingga masa tinggal wisatawan masih terbatas;
5. Manajemen dan keterampilan pengrajin cinderamata masih terbatas, sehingga belum dapat memanfaatkan potensi pasar secara optimal dengan kualitas baik dan harga yang kompetitif;
6. Pengetahuan, keterampilan dan apresiasi masyarakat serta aparat terhadap kebudayaan dan kepariwisataan cenderung terbatas, sehingga potensi wisata budaya belum dimanfaatkan sebagaimana mestinya. (*)