Artikel

Multi Aspek dan Multi Efek dari Pariwisata

    Dibaca 272 kali

">

Oleh: Bambang Arayana Sambas

Membicarakan persoalan dunia pariwisata seakan tak akan pernah ada habisnya dan selalu diakhiri dengan kesimpulan-kesimpulan yang hampir selalu sama yaitu pernyataan klise yang menyatakan bahwa dunia pariwisata seolah-olah tanggung jawab pemerintah semata, artinya maju mundurnya sektor pariwisata tergantung pada pemerintah. Dari sisi political will atau kebijakan mungkin tidak salah, namun keterbatasan pemerintah dalam berbagai hal dan belum terwujudnya sinerginet working yang baik antara berbagai lini (termasuk masyarakat) mengakibatkan sektor pariwisata nampak seperti jalan di tempat. Bila dilihat dari jihad pengertian dasar, dunia pariwisata (tourism) di manapun akan selalu dikaitkan dengan dengan beberapa aspek utama, yaitu;
1. Aspek turis/traveler
Adalah para pelancong yang datang dengan maksud untuk memperoleh kesenangan dan kenyamanan di tempat yang mereka datangi. Sangat jelas sekali kedudukannya bahwa merekalah (tourist) sebagai subyek yang menjadi focus dalam jasa pelayanan (service) kepariwisataan atau dengan kata lain semua upaya yang dilakukan tidak lain adalah demi memuaskan hati para pelancong agar mereka senang dan nyaman dan sehingga mereka betah berlama-lama tinggal (lang of stay) dan selama itu pula diharapkankan banyak uang mereka belanjakan di tempat yang mereka datangi tersebut.
Para touris harus senantiasa ditempatkan menjadi focus perhatian yang utama mengingat tanpa kehadiran mereka tidak akan terjadi peristiwa kepariwisataan sekecil apapun peristiwa tersebut. Dan yang paling khas dalam dunia industri kepariwisataan adalah yang kita kenal dengan sebutan Service, yakni yang dijual bukan lagi produk material tapi adalah Jasa Pelayanan (Service) bagi konsumen yang disebut Tourist atau Traveler. Berbeda dengan tata niaga lain yang diukur dari mahal dan murahnya harga sesuatau, maka dalam ranah Jasa Pelayanan (Service) kepuasan konsumen (baca Tourist) menjadi sasaran utama, bahkan sering terjadi apabila konsumen sangat terpuaskan maka harga/uang bukan lagi permasalahan. Tidak salah kiranya muncul ungkapan yang menyatakan “Good Service Good Salary”
Berhubungan dengan jasa pelayanan (service) untuk memuaskan hati para pelancong sesungguhnya bangsa kita secara ‘kearifan local’ telah memiliki modal dasar yang sangat berharga yaitu dalam hal ‘hospitality’ (keramahan-tamahan menerima tamu) yang merupakan sikap keluhuran bangsa yang kini kian memudar ditelan perubahan jaman padahal ini adalah jati diri bangsa yang tidak mustahil akan menjadi selling point (nilai jual) paling signifikan utamanya bagi berkembangnya industri Pariwisata di Indonesia.
Juga pemahaman tentang pentingnya Service terhadap para tourist harus dipandang sebagai suatu dampak dari hakikat hubungan antar manusia yang dijalin dalam bentuk interaksi sosial yang hangat, karena dalam dunia pelayanan jasa pariwisata proses interaksi tidak nampak lagi sebagai hubungan antara pembeli dan penjual seperti halnya jual beli material tapi lebih berkesan atau bersifat keharmonisan ‘hubungan antara pribumi dan tamu terhormat’, sekalipun dibalik itu terjadi hukum timbal balik kebutuhan yang berlatar belakang bisnis, inilah keunikan kehidupan industri pariwisata.
2. Aspek Traveling
Istilah traveling adalah hampir identik dengan traveler (tourist) itu sendiri karena traveling berarti proses perjalanan para pelancong untuk tiba atau datang ke tempat wisata yang mereka tuju, maka tak heran istilah traveler juga digunakan dalam dunia pariwisata yang artinya adalah orang yang mengadakan perjalanan. Hal ini persis seperti halnya pengertian istilah tourist yang berasal dari kata tour yang juga berarti perjalanan atau kunjungan. Jadi intinya tourist dan traveler podo bae alias sama!
Perlu diangkatnya aspek Traveling sebagai aspek penting mengingat berbagai hal yang menyangkut lancar dan tidaknya aktivitas perjalanan para pelancong sangat berpengaruh bagi perkembangan pariwisata secara keseluruhan.Yang sekarang terjadi justru pelayanan bidang traveling sering kurang mendapat perhatian seksama sehingga kerap berdampak pada tidak dapat dimaksimalkannya berbagai potensi yang sesungguhnya sangat memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan. Pada aspek pelayanan jasa Traveling inilah yang selalu menjadi ‘titik lemah’ untuk kemajuan Pariwisata di negara berkembang (termasuk Indonesia) bukan hanya dikerenakan keterbatasan Infrastructure (prasarana) tapi juga dikarenakan kurangnya keteraturan/ketertiban dan disiplin dari system birokrasi maupun dari masyarakat.
Tidak terlampau tepat kalau infrastructure jasa pelayanan traveling (perjalanan) selalu dihubungkan atau dipandang dari pengadaan sarana/prasarana fisik belaka seperti sarana tranportasi (kendaraan dan jalan) atau prasarana fisik lainnya. Infrastruktur kepariwisataan memiliki makna yang cukup kompleks karena diartikan jamak yaitu fisik dan nonfisik bahkan kini lebih populer dengan istilah aksesbilitas (accesibility). Mengingat traveling yang dapat diartikan sebagai aspek kegiatan para tourist selama mengadakan kunjungan wisata (perjalanan dan berbagai kepentingannya), kiranya implementasi sistem aksebilitas yang baik cukup jelas kegunaannya bagi kepentingan ke-pariwisataan karena merupakan ‘pintu gerbang kemudahan’ bagi kelancaran para Tourist menikmati kunjungan wisatanya. Adanya’kerikil-kerikil’ yang mengganggu kelancaran dan kenyamanan para pelancong sering berakibat fatal bagi citra priwisata suatu daerah yang tidak jarang disebabkan oleh tersendatnya jaringan akses yang seharusnya terbangun dalam suatu net working, yang telah terkondisikan dengan baik.
Beberapa hal yang dapat dijadikan standard aksebilitas yang sangat dibutuhkan oleh para pelancong (tourist) antara lain;
1. Akses kemudahan pelayanan birokrasi (perizinan, imigrasi, dll)
2. Akses kemudahan pelayanan sarana/prasarana transportasi
3. Akses kemudahan pelayanan objek wisata
4. Akses kemudahan pelayanan Informasi dan komunikasi
5. Akses kemudahan pelayanan akomodasi
6. Akses kemudahan pelayanan kesehatan
7. Akses kemudahan pelayanan perbankan
Beruntung dengan hadirnya travel biro (biro perjalanan) dengan perangkat gugus kerjanya sangat membantu kelancaran penanganan aksesbilitas bagi para pelancong sehingga dapat meminimalisir tersendatnya akses terutama bagi para pelancong yang datang secara kelompok (grouping). Tetapi kini banyak para pelancong muda yang menghendaki kebebasan dan keterbatasan angggaran melakukan Traveling secara mandiri, mereka inilah yang sangat membutuhkan tersedianya aksesbilitas yang tertata baik karena pada dasarnya mereka memerlukan pelayanan aksesbilitas secara langsung di lapangan secara direct process (proses langsung). Para pelancong mandiri ini disebut dengan backpacker.
Asal kata back artinya belakang, Pack artinya bungkusan. Jadi istilahbackpacker diartikan bagi orang yang melakukan perjalanan dengan hanya membawa bungkusan/ransel digendong dibagian belakang tubuhnya (punggung). Berbeda para pelancong yang diatur oleh biro perjalanan yangsegalanya telah diatur dan tentunya memakan biaya cukup mahal, para backpacker betul-betul memanfaatkan akses-akses yang tersedia dengan nyata, artinya mereka suka tidak suka harus menggunakan akses-akses yang biasadigunakan oleh masyarakat setempat secara umum, seperti; perizinan, transportasi umum, fasilitas umum, akomodasi umum dan bentuk-bentukpelayanan umum lainnya.


3. Aspek Destinasi/Objek
Berbahagialah masyarakat Kota Cirebon karena daerahnya sangat kaya dengan berbagai potensi untuk dijadikan Desination (Destinasi = tujuan) wisata) yang sangat potensial dan bernilai jual tinggi. Di mata saya kota Cirebon apabila dikelola dengan baik maka kedudukannya akan sejajar dengan Bali dan Yogyakarta, hal ini bukan tanpa alasan karena kawasan Cirebon memiliki latar belakang sejarah kehidupan Monarki (kerajaan) yang cukup tua dan sejarah mengenalnya dimulai sejak abad 15 M tatkala Pangeran Cakrabuana menjadi penguasa dan kemudian diwariskan kepada keponakannya Pangeran Syarif Hidayat yang bergelar Susuhunan Jati. Dan di tangan Pangeran Syarif Hidayat Cirebon berkibar sebagai Kerajaan merdeka terlepas dari hegemoni Kerajaan Pajajaran yang kala itu diperintah oleh raja terbesarnya Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.
Kemiripannya dengan kota Yogyakarta yang berlatar belakang sejarah kebesaran Kerajaan Mataram menjadikan kota Cirebon sarat dengan berbagai hal sangat sfesifik bahkan bernilai “exotic” (aneh, unik dan luar biasa) yang tidak dimiliki oleh kawasan-kawasan lain yang tidak memiliki latar belakang sejarah Monarki. Dari semua itu yang paling menonjol dari sejarah Monarki yang panjang adalah mewariskan kekayaan Seni Budaya ! Kekayaan dan begitu berkarakternya Seni Budaya Cirebon merupakan ‘tangga emas’ yang mampu menjadikan Kota Cirebon sebagai Destinasi/Objek wisata yang yang layak diunggulkan seperti halnya Kota Yogyakarta dan Pulau Bali.
Cirebon dan Destinasi Wisata
Kekayaan dan karateristik Seni Budaya itulah yang menjadi ‘maskot’ kota Cirebon yang harus mampu disikapi sebagai aksentuasi perhatian yang serius demi mewujudkan Cirebon sebagai Desinasi Wisata yang layak diperhitungkan. Namun jangan sampai keunggulan-keunggulan tersebut akan menjadi hal yang bersifat ‘kontra produktif’(hal yang kontras) artinya segalanya jadi mubazir bahkan mungkin dianggap menjadi beban atau setidaknya dibiarkan berkembang secara alami tanpa upaya-upaya konkrit untuk mampu dimaksimalkan agar dapat berdaya guna dan berhasil guna bagi seluruh warga kota Cirebon. Misal yang sangat nyata terjadi pada bangsa Indonesia yang konon dikaruniai kesuburan,keindahan dan kekayaan yang melimpah dan ternyata membuat banyak warganya menjadi malas dan manja serta miskin daya juang, sehingga akibatnya anugrah Tuhan tersebut hingga hari ini belum mampu mensejahterakan warganya bahkan kita sudah banyak jauh tertinggal oleh bangsa-bangsa lain yang nota bene tidak memiliki kekayaan alam sehebat bangsa Indonesia. Maka tepatlah bila renungi pepatah barat yang mengayakan “a man behind gun” artinya : yang penting bukan alat atau sarananya tetapi yang maha penting adalah manusianya!
Branding
Sebuah Destinasi Wisata sering kali terwujud dengan adanya berbagai asset potensi yang tumbuh dan berkembang dari masyarakat penyangganya yang selanjutnya menjadi ciri khas yang mengakar atau ‘brand’ dari tempat/kawasan tersebut, di mana di banyak tempat orang sengaja mencari-cari ‘brand’ tersebut dan cenderung dipaksakan. Sedangkan bagi Cirebon segala asset yang ada itu betul-betul menggambarkan jati diri masyarakat dalam bentuk “local genius” atau “kearifan lokal” yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Cirebon itu sendiri.
Sebuah pencitraan “brand” akan senantiasa ada bahkan akan semakin kokoh berkibar apabila masyarakat penyangganya sungguh-sungguh punya niat untuk menjaga dan melestarikannya atau dengan kata lain segala lapisan masyarakat harus sungguh-sungguh sepakat bahwa ‘brand image’ kotanya bukan hanya kebanggaan semata tapi betul-betul harus diperlakukan sesuatu yang dianggap penting karena berhubungan dengan sesuatu hal yang dicintainya yaitu kota Cirebon dengan segala aspeknya.! Maka sikapilah dan berlakulah sungguh-sungguh sebagai layaknya kalau manusia mencintai sesuatu. Kejujuran serta keikhlasan dalam berkarya nyata akan memberi jawaban indah dari berbagai impian dan dambaan yang selalu jadi harapan akan pen-Citraan sebuah kota.

Matahari Terbit di Kejawanan/Foto: Yuda Sanjaya

INDAH: Aktivitas nelayan dengan latar matahari terbit di Pantai Kejawanan Kota Cirebon. Foto: Yuda Sanjaya/Radar Cirebon

 

Potensi Seni Budaya Cirebon
Berbicara potensi terutama potensi Seni Budaya apa sih yang tidak ada di kota Cirebon, semuanya hadir dengan segala keunikannya yang mungkin bisa dibagi pada beberapa katagori bentuk wisata antara lain;
• Wisata Religi/Upacara; Sekatenan, Nadran, Ngunjung, Bebarit, Sinoman, Mapag Sri, Ider Bumi, Panganten Tebu, dll.
• Wisata Belanja/Kriya; Batik, Lukisan Kaca, Sungging Wayang Kulit, Kedok, Wayang Cepak, Kaca Mozaik, dll.
• Wisata Kuliner; Empal Gentong, Lengko, Nasi Jamblang, Mie Kocok, Tahu Gejrot, dan lain-lain.
• Wisata Kesenian; Tarling, Topeng Cirebon,Tayuban, Masres, Buroq, Debus, Wayang Kulit, Wayang Cepak, Sintren,dll.
• Wisata Sejarah; Keraton Kanoman, Keraton Kasepuhan, GuaSunyaragi, dlll.
• Wisata Bahari; Akses Pelabuhan Cirebon, Budaya Nelayan.
Dalam dunia kepariwisataan adanya kekayaan potensi merupakan modal dasar yang paling penting karena inilah yang dapat kita jual. Dan bila kita lihat potensi yang paling besar yaitu khasanah Seni Budaya masyarakat Cirebon, maka tak pelak lagi bahwa yang harus kita bangun adalah bagaimana mejadikan Kota Cirebon sebagai Destinasi Wisata Seni Budaya yang mungkin mengemban semboyan “Art And Culture Tourism”.
Ekonomi Kreatif
Meski demikian potensi hanyalah potensi artinya sebagai hanya modal dasar yang harus dibarengi dengan tindakan dan aksi-aksi yang konkrit sejak dari unsur pemerintah sampai pada masyarakat. Sehebat apapun potensi yang dimiliki tanpa adanya upaya-upaya nyata maka potensi-potensi tersebut tidak beda dengan benda mati yang tak berguna.
Apakah betul Seni Budaya Lokal telah kehilangan daya pikat ? Mungkin betul mungkin tidak! Yang paling utama adalah perlunya upaya untuk membangun suatu kesadaran bahwa Seni Budaya Lokal ( baca Seni Budaya Cirebon) memiliki hak hidup untuk mendapat kesempatan yang sama bersanding dan bersaing dengan seni budaya2 lain (termasuk dengan seni budaya modern). Namun apa hendak dikata, keberadaan Seni Budaya Lokal seperti sudah Bli Dianggap oleh pemiliknya sendiri, hanya ramai diperbincangkan dalam forum-forum Seminar, hanya membahana tatkala jadi retorika indah pidato para petinggi negri, namun sepi aplikasi dan implementasi, sunyi untuk diapresiasi, merana kesempatan, sehingga penyusun teringat sebuah ungkapan asing yang cocok dengan nasib Seni budaya local yang berbunyi:‘The last to be hired and The first to be fired’(Alternatif terakhir untuk diundang dan alternative pertama untuk ditendang)
Pokok persoalannya terletak pada bagaimana semua orang/fihak menganggap bahwa Seni Budaya Cirebon itu penting dan berdaya guna. Apabila Seni Budaya Cirebon telah berada pada posisi yang ideal maka dengan sendirinya akan terjadi mata rantai pergerakan aktivitas Perekonomian yang kesemuanya mengacu pada keberadaan Seni Budaya Cirebon itu sendiri. Contoh kecil ; tatkala Ponsel (HP) telah dimiliki oleh hampir setiap orang maka mata rantai pengadaan kebutuhan yang berkaitan dengan kepemilikan HP berkembang dengan subur, dari kebutuhan pulsa, pesawat Ponsel, aksesoris ,dll, yang secara matematis juga alamiah telah mampu menumbuhkan system tersendiri dalam kedinamisan tatanan perekonomian . Begitu pula apabila Seni Budaya Lokal sudah menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri maka secara langsung tak langsung akan menjadi bagian penting dari roda perekonomian yang berlangsung di daerah tersebut.
Potensi Ekonomi tidak sekedar dapat diindikasikan laku tidaknya Seni Budaya Cirebon dipasarkan (marketable) dan selalu dihubungkan dengan nasib Para Seniman pelakunya yang memilih Seni Budaya sebagai hajat hidupnya. Yang diharapkan secara ideal adalah bagaimana Seni Budaya Cirebon menjadi bagian penting pada tatanan hidup masyarakat yang akhirnya diharapkan tumbuh mata rantai pemenuhan kebutuhan di berbagai lini aktivitas yang memiliki sifat saling ketergantungan, dan disinilah akan terbentuk jejaring ekonomi yang khas seperti yang terjadi di Bali (meski di Bali berhubungan dengan agama/kepercayaan), tentunya dengan versi yang khas ala Caruban Nagari alias Cirebon. Sesungguhnya pengembangan Ekonomi Kreatif pada dunia Pariwisata sepertinya lebih tepat dengan pola ‘Bottom Up” yang artinya adanya niat dan kemauan yang keras dari masyarakat untuk meningkatkan taraf hidupnya melalui Seni Budaya Lokal yang dikuasainya dan dicintainya bila dilakukan dia sudah memasuki tatanan Ekonomi Kreatif!
Sisi lain dari pamahaman Ekonomi Kreatif adalah identik dengan pengertian kreativitas pada dunia Seni Budaya, sebab hakikat Seni Budaya itu sendiri mengandung “kedinamisan nilai-nilai” yang senantiasa terbuka peluang bagi tangan-tangan kreatif untuk selalu diaktualkan setiap waktu demi mengimbangi perubahan jaman dengan tetap berpijak pada akar dan jati dirinya tapi dapat bersaing secara “marketable” di era pasar Nasional maupun pasar Global. Destinasi Wisata yang tumbuh pada sebuah tempat merupakan hasil sinegritas dari berbagai unsur-unsur terkait dalam hal mendaya gunakan potensi dengan dasar tanggung jawab dan tujuan yang sama untuk dapat menghasil gunakan potensi tersebut sehingga mampu mendatangkan keuntungan dan kebanggaan bersama. Dan Kota Cirebon sangat memenuhi syarat menjadi Destinasi Wisata (Wisata Seni Budaya) yang masuk katagori mondial (unggulan) bukan hanya di Jawa Barat bahkan di Indonesia.
4. Aspek Akomodasi
Aspek Akomodasi (Accommodations) merupakan kelengkapan dari mata rantai tumbuhnya perkembangan multi aspek dan multi effect kepariwisataan atau kausulitas dari maju mundurnya kehidupan Pariwisata itu sendiri.Akomodasi (penginapan) dalam bentuk hadirnya hotel-hotel berbagai kelas/bintang. Namun dengan bertambah maraknya para pelancong kelas backpacker, kebutuhan akan akan fasilitas akomodasi menjadi semakin beragam kelasnya artinya pelayanan jasa akomodasi dapat dilakukan oleh banyak orang karena tidak dibutuhkan biaya besar yang akhirnya dapat memacu pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang lebih merata. Atau tidak mustahil para ‘Backpacker’ menghendaki tinggal di rumah-rumah penduduk (home stay) terutama mereka yang memiliki intrest khusus pada sesuatu hal seperti untuk kepentingan obesrvasi atau penelitian. Yang nampak pada industri akomodasi adalah kekentalan dunia service (jasa pelayanan) secara jelas dan nyata yaitu implementasi mutlak tentang keharusan selalu menempatkan tamu sebagai raja. Menjadikan Kota Cirebon sebagai Destinasi Wisata Unggulan harus menjadi tekad kuat dan tanggung jawab seluruh warganya yang memiliki kedalaman makna pada kota kecintaannya. (*)

“Kota Suci”


Oleh: Saini K.M
Kota adalah seorang ibu, dari rahim siapa
lahir dirimu yang kedua
Sekali kau pernah mengembara di sana
bagai urat di tapak tangan
kau hapal silangan segala gangnya
Sekali kau bersatu dengan suka-dukanya dan dia
selamanya akan hidup di darahmu.