Artikel

SENI BEROKAN CIREBON

    Dibaca 496 kali budaya artikel

 

Berokan atau dikenal pula dengan sebutan Barongan adalah salah satu jenis kesenian tradisional yang hidup dan  berkembang di wilayah Cirebon. Kesenian yang termasuk ke dalam rumpun seni helaran ini bila dilihat dari wujudnya merupakan bentuk tiruan binatang, yakni kepala seekor singa. Sementara badannya, menurut kepercayaan masyarakat Cirebon, merupakan tiruan dari badan raksasa Syiwa Durga.

Kata Berokan itu sendiri menurut salah seorang tokoh budayawan Cirebon, Kartani, berasal dari kata “barokahan”. Nama tersebut diberikan oleh Mbah Kuwu Cirebon atau lebih dikenal dengan nama Pangeran Cakrabuana. Sedangkan kata barongan sebutan lain dari berokan, menurut kamus umum bahasa Sunda (R.Satjadibrata) berasal dari kata bangbarongan yang mengandung pengertian mainan/permainan tiruan singan barong atau singa yang jambrongan (berbulu tebal pada lehernya). Sementara dalam bahasa Kawi kata barongan memiliki arti ombyok atau jambrongan.

Seni tradisi yang cara memainkannya dilakukan oleh seseorang yang masuk ke dalam badan berokannya itu, sesungguhnya pernah berkembang pula di tatar Sunda (Priangan) dengan sebutan Bengberokan atau Bangbanrongan. Bentuk permainan dan wujudnya  persis sama seperti Berokan yang berkembang di wilayah Cirebon. Namun belakangan kesenian yang biasa dipentaskan di tempat terbuka, seperti lapangan, khususnya di wilayah Priangan sudah tidak pernah ditemukan lagi.

 Latar Belakang Sejarah

Seperti kesenian tradisional pada umumnya, asal-usul seni Berokan tidak tidapat diketahui secara pasti. Kemudian sebagai kesenian yang tercipta secara anonim, seni Berokan sampai saat ini tidak diketahui sipa penciptanya. Hal ini lebih disebabkan Berokan terlahir secara komunal untuk keperluan ritual tertentu. Dengan demikian, sejarah lahirnya seni Berokan dicatat hanya berdasarkan cerita rakyat yang berkembang dimana kesenian itu tumbuh. Oleh karenanya tidak heran jika kemudian latar belakang sejarah terciptanya seni Berokan terdapat beberapa versi, diantaranya adalah :

Adalah seorang pemuda tampan bernama Udrayaka anak seorang patih Dirgabau dari kerjaan Majapahit. Karena ketampanannya tidak sedikit gadis yang menyukainya, bahkan putrid raja pun menaruh perhatian kepadanya.

Pada suatu hari sang putrid mengutarakan ketertarikannya pada Udrayaka kepada Ayahandanya dan meminta untuk segera dinikahkan dengan sang pemuda idamannya itu. Namun sang raja menolak, dengan alasan bahwa Udrayaka tidak pantas untuk disandingkan dengan putri seorang raja. Bagaimana tidak sebab Udrayaka hanyalah seorang anak angkat atau pungut dari patih Dirgabau. Tentu saja hal itu membuat sang putrid bersedih hati. Putri yang sebelumnya seorang gadis yang lincah penuh semangat, tiba-tiba menjadi seorang gadis pemurung.

Demi melihat anaknya demkian, sang raja tidak mau ambil resiko. Maka untuk memisahkan putrinya dengan pemuda yang diidamkannya, Udrayaka disuruh pergi dari keratin dengan cara ditugaskan untuk menggambar semua jenis binatang yang ada di daratan, dan sebagai hadiahnya, apabila tugasnya dapat dilaksanakan dengan baik akan dinikahkan dengan putrinya.

Namun demikian, saat Udrayana kembali ke keratin dengan membawa hasil yang dimintanya sang raja kaget dan tidak dapat menepati janjinya. Maka agar Udrayaka kembali ke luar dari keraton, ditugaskannya kembali. Kali ini Udrayaka pergi dengan membawa tugas menggambar semua jenis binatang yang ada di lautan.

Pada saat Udrayaka berada di tengah lautan, tiba-tiba melihat seekor binatang yang hanya muncul kepalanya dengan mata melotot dan mulutnya yang lebar menyeramkan. Dengan rasa ketakutan ia pun segera mendayung perahunya untuk kembali ke tepi pantai. Namun demi titah sang raja, dalam keadaan penuh ketakutan, Udrayaka berupaya melukiskan binatang yang dilihatnya itu namun tidak dapat menggambarkannya lengkap dengan badannya. Dalam keadaan penuh penyesalan tidak dapat menunaikan tugas raja dengan baik, tiba-tiba datang seorang nelayan dan dengan sepontan berkata, bahwa gambar yang dibawa Udrayaka mirip dengan ikan Poto.

Sementara Udrayaka yang tidak dapat melaksanakan tugas sesuai dengan permintaan rajanya, ia tidak berniat kembali ke keraton dan gambar binatang hasil lukisannya diberikan ke nelayan yang tiba-tiba menghampirinya itu. Maka sejak saat itui nelayan tersebut menggunakan gambar binatang tersebut sebagai penolak bala. Dan dalam perkembangan selanjutnya gambar itu disempurnakan menjadi karya tiga dimensi yang selanjutnya diberi nama Berokan.

Cerita lain yang berkembang  terkait dengan sejarah lahirnya seni Berokan mengatakan; pada suatu masa di wilayah Cirebon sedang dilanda musibah. Semua tanaman kekeringan dan diserang hama. Hal ini membuat para petani sangat mengkhawatirkan tanamannya tidak dapat dipanen. Kondisi itu dipercaya mereka yang bertani, bahwa rusaknya lahan pertanian dan tanamannya adalah perbuatan makhluk halus. Untuk mengusir makhluk-makhlus halus yang mereka percayai sebagai perusak tanaman, mereka melakukan kebiasaan para leluhurnya, yakni membuat semacam bebegig (orang-orangan sawah) yang bentuknya dibuat menyerupai bentuk binatang buas menyeramkan.

Sejak saat itulah bebegig berupa tiruan binatang buas menjadi media penolak bala. Sebagai pengusir makhlus halus, bebegig itu pun akhirnya tidak hanya ditempatkan di sudut-sudut pesawahan atau ladang lagi, tetapi juga dimainkan dengan gerakan-gerakan tertentu sambil diiringi bunyi-bunyian, dan pada akhirnya bebegig itu berubah nama menjadi berokan.

Dalam perspektif kebudayaan, Berokan adalah salah satu contok bukti karya seni yang lahir dari masyarakat penganut kepercayaan asli Indonesia. Dimana pada jaman pra sejarah, sebelum agama Islam berkembang di bumi Nusantara, aliran kepercayaan animism dan dinamisme menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat kita. Bahkan hingga era modernisasi telah menjadi acuan dalam kehidupan masyarakat kita saat ini, kepercayaan asli warisan nenek moyang itu tidak seluruhnya hilang dari tata kehidupan masyarakat modern.

Dari konteks semacam itu, dapatlah dipahami jika sampai saat ini seni Berokan selain menjadi media hiburan tetapi juga difungsikan sebagai sarana penolak bala.oleh masyarakat pendukungnya, terutama masyarakat masa lampau, begitu yakin, Berokan dapat menolak mara bahaya. Hal itu dapat disaksikan dalam acara rueatan rumah yang diselenggarakan masyarakat, Berokan akan mengelilingi rumah itu kemudian masuk dan mengambil sebuah bantal dengan cara digigit lantas dilemparkan ke atas genting. Hal itu diyakini benar bahwa bantal tersebut dianggap simbol sumber berbagai macam penyakit.

 Perlengkapan Pertunjukan

            Perlengkapan yang digunakan dalam pertunjukan Berokan terbilang simpel. Bila dibandingkan dengan jenis seni pertunjukan yang lain, peralatan pertunjukan Berokan hanya terdiri dari beberapa alat music pukul yang tergolong ke dalam rumpun alat musik membranophone dan alat music tiup. Sementara perlengkapan lainnya berupa kedok (topeng) berokan, kedok pentul, dan jumlah pemainnya antara 15 sampai 20 orang.

            Perlengkapan pertunjukan Berokan selengkapnya adalah sebagai berikut :

 Alat Musik

  1. Trebang besar berdiameter 1 m
  2. Trebang kecil berdiameter 45 Cm
  3. Gong tiup terbuat dari ruas bambu
  4. Terompet kayu
  5. Kendang
  6. Kecrek.

 Properti

  1. Kedok (topeng) Berokan
  2. Kedok (topeng) Pentul
  3. KArung atau Kulit domba (badan berokan)
  4. Baju cabikan dari potongan kain perca

 Waktu dan Tempat Pertunjukan

            Seperti halnya kesenian tradisional kebanyakan, seni Berokan tidak pernah mengenal tempat khusus, artinya Berokan bias ditampilkan disembarang tempat, bias di lapangan, di pekarangan rumah, di perempatan jalan, bahkan di tengah pasar. Ini lebih disebabkan, Berokan, sampai saat ini lebih banyak ditampilkan sambil mengamen, berkeliling dari kampong ke kampong.

            Oleh karena itu seni Berokan lebih banyak memilih arena permainannya di tempat-tempat keramaian atau tempat-tempat yang mudah diakses oleh berbagai kalangan masyarakat. Tradisi ini lebih merupakan sebagai sebuah siasat agar penampilannya banyak ditonton. Sebab dengan banyaknya masyarakat yang menyaksikan, peluang untuk mendapat banyak saweran menjadi sangat terbuka. Bahkan apabila penontonnya lebih banyak, maka waktu penampilannya pun bisa diperpanjang. (Oleh: Dede Wahidin, S.Sn).