Artikel

Filosofis Kesenian Sintren

    Dibaca 241 kali budaya

 

          Kesenian sintren tergolong kesenian purba. Para peneliti kesenian berbeda pendapat tentang asal usul kesenian ini. Ada yang berpendapat bahwa kesenian sintren adalah peninggalan jaman Hindu. Namun ada juga yang berpendapat bahwa kesenian ini lahir di jaman Islam dan digunakan para wali sebagai media syiar Islam.

         Terlepas dari soal siapa yang mula pertama menciptakannya, kesenian ini memiliki daya tarik secara filosofis. Ada makna-makna filosofis pada kesenian ini berkenaan dengan simbolisasi perjalanan hidup manusia.

          Pada kesenian sintren Cirebon, pertunjukan sintren dimulai dengan tampilnya seorang gadis belia (dipersyaratkan yang masih perawan suci) dengan pakaian sederhana, tanpa dandanan lengkap. Sembari diiringi musik gamelan sintren, gadis belia yang menjadi maskot sintren itu diikat, dibelenggu, dengan tali temali yang rumit yang tidak memudahkannya untuk bisa bergerak. Setelah proses ini sang maskot sintren dikurung dalam alat kurungan (ayam) yang dilapisi kain penutup hitam.

           Prosesi ini melambangkan bahwa manusia lahir ke dunia ini  tidak memakai busana apa pun. Manusia lahir ke dunia dengan polos. Dalam perkembangannya, setelah lahir dan mengikuti proses alamiah manusia mulai belajar mematuhi norma-norma yang hidup di lingkungannya. Sejak bayi manusia dilatih oleh ibunya untuk secara ajeg mengikuti irama kehidupan; menyusu, belajar merangkak, belajar berdiri, dialog dan seterusnya. Kesemua proses ini  melibatkan ikatan norma-norma yang berlaku secara universal. Dengan demikian, maskot sintren yang diikat untuk kemudian dikurung melambangkan bahwa manusia hidup di dunia terikat oleh serangkaian norma yang hidup di lingkungannya. Semua manusia normal akan mengalami proses itu.

          Namun demikian, Tuhan membekali manusia dengan akal budi agar manusia bisa survive menghadapi setiap tantangan hidup. Dengan akal budi inilah manusia bisa berbuat apa saja, yang baik atau yang buruk, yang putih atau pun yang hitam. Seiring berjalannya waktu, manusia yang dibekali akal budi itu tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang sebagian meraih keberhasilan hidup, dan sebagian lainnya mungkin gagal atau kurang beruntung dalam hidup. Ada yang kaya, dan ada yang miskin. Itu adalah sunatullah.

         Babak dari maskot sintren yang dikurung tadi melambangkan pergulatan manusia untuk bisa berhasil dalam hidup yang penuh kungkungan norma-norma, hukum negara, adat istiadat dan sebagainya.

         Ketika pergulatan telah sampai pada puncaknya, kesenian sintren mulai mempertunjukkan simbol lain dari keberhasilan manusia menyiasati hidup. Pada saat kurungan dibuka, sang maskot sintren, yang tadinya terikat oleh tali temali yang rumit dengan busana sederhana, tampil dengan busana yang megah, gemerlap, berasesoris mewah, dan berkacamata hitam (dahulu kala mata sang maskot sintren ditutup kain hitam, bukan kacamata). Sementara tali temali yang mengikat dan membelenggu badan serta tangannya sudah terlepas sama sekali. Sang maskot sintren tampil mempesona. Persis seperti tampilnya para jenderal yang menang perang, atau para pengusaha yang menang tender proyek.

          Babak berikutnya setelah sang maskot sintren berubah wujud penampilan menjadi gemilang, sang maskot mulai menari-nari dalam keadaan kerasukan ( trance ). Pada saat inilah para penonton melemparkan uang, kertas mau pun koin, ke tubuh sang maskot sintren. Lemparan uang yang mengenai tubuh sang maskot akan membuat sang maskot terkulai lemas, tak berdaya. Inilah puncak pertunjukan seni sintren yang penuh makna filosofis mendalam itu! Makna filosofisnya: bahwa manusia yang sudah mencapai ketinggian karir, derajat hidup, kekayaan materi dan sebagainya, manakala tak dapat membawa diri, eling (sadar), dan waspada, maka dia akan berpotensi jatuh oleh goda-godaan duniawi (dilambangkan dengan lemparan uang) yang selama ini dikejarnya. Makna lainnya yang lebih sederhana: manusia yang penuh keberhasilan, tanpa diimbangi dengan akhlak yang baik, berpotensi lupa daratan (dilambangkan dengan mata yang tertutup kacamata hitam).

          Dengan demikian, sintren hakikatnya adalah mereka yang tergoda oleh syahwat duniawi. Mereka yang jatuh terkulai oleh godaan-godaan duniawi yang menipu, membius, memperdaya dan akhirnya menyengsarakan.

           Pertunjukan seni sintren diakhiri dengan kembali dikurungnya sang maskot sintren ke dalam kurungan. Setelah babak ini, kurungan kembali dibuka dan tampaklah sang maskot sintren tampil seperti sedia kala: hanya mengenakan pakaian amat sederhana. Sebuah makna kembali kita dapatkan, yaitu bahwa manusia kembali ke hadapan Sang Penciptanya tidak membawa apa pun. Sehebat dan sekaya apa pun dia.

Jadi? Sintren adalah kenisbian dunia! (Oleh:  Abidin Aslich)