Artikel

MENGUNGKAP JEJAK WAYANG GOLEK CEPAK

    Dibaca 569 kali budaya

 SEBUAH LAKON DARI SERAT MENAK HINGGA LEGENDA PARA WALI                     

              Beberapa bulan yang lalu penulis bertemu dengan sahabat lama Matthew Issac Cohen, Phd  asal Amerika yang pada saat ini mengajar disebuah perguruan tinggi terkemuka di University of Glasgow Inggris.   Bagi kalangan seniman Cirebon sosok orang  ini sudah tidak  asing lagi, karena beliau sudah sejak lama malang melintang dalam kancah seni budaya Cirebon,  terutama dalam dunia pedalangan bahkan sebagai seorang peneliti beliau banyak menelaah seluk beluk kebudayaan Cirebon dari beberapa dimensi.  Dipandang dari sisi kesenimanan kiprahnya dalam dunia pedalangan sudah tidak diragukan lagi, baik pedalangan purwa gaya Surakarta, Cirebonan  mapun dalam bentuk pedalangan kontemporer yang dipentaskan dibeberapa tempat baik di Indonesia maupun diluar negeri.   Dalam beberapa pertemuan dengan penulis terakhir mas Matthew sedang mempelajari seni pedalangan pada genre wayang golek cepak disebuah desa dikawasan pesisir utara Cirebon tepatnya di desa Pegagagan.  Dalam kesempatan berbincang-bincang, mas Matthew mengemukakan bahwa keberadaan wayang cepak sangat penting untuk direvitalisasi.  Ada beberapa hal yang menjadi alasannya, Pertama genre wayang ini memiliki keunikan dalam repertoar lakonnya. Kedua keberadaan seni pertunjukan wayang golek cepak dikalangan masyarakat sudah jarang mendapat tempat kecuali pada upacara adat desa. Ketiga sistem pewarisan pada seni pedalangan ini mengalami masa memprihatinkan, karena konon jumlah  dalang wayang yang berkiprah mulai menyusut jumlahnya. Bahkan yang lebih memprihatinkan ada beberapa grup yang terpaksa menjual seluruh sarana pentasnya karena alasan diatas.  Terlepas dari masalah-masalah tersebut penulis memberikan penghargaan luar biasa bagi mas Matthew atas kepeduliaannya nguri-nguri kebudayaan Cirebon, yang semestinya itu dapat diwariskan secara berkesinambungan kepada pewaris dimana seni Wayang Golek Cepak itu hidup. Namun dalam kenyataannya sudah tidak dapat dipungkiri lagi eksistensi kesenian tradisi ini kini tengah mengalami kemunduran cukup signifikan, bahkan ada kecenderungan masyarakat kita tidak peka terhadap perkembangan kesenian tersebut, atau tahu namun tidak memahami akan keberadaanya.

       Atas dasar itulah penulis ingin berbagi tentang sekelumit keberadaan seni wayang golek cepak yang mungkin bagi sebagian masyarakat Cirebon tingkat kepopulerannya tidak seperti pada wayang kulit purwa,  bahkan masih terasa asing  karena keberadaanya sangat jarang ditemukan terutama dilingkungan perkotaan.

Sekilas tentang Keberadaan Wayang Golek Cepak

       Dalam khasanah seni pedalangan Cirebon disamping dikenal genre Wayang Kulit Purwa, terdapat pula jenis seni pertunjukan wayang yang menggunakan boneka berbentuk tiga dimensi yang dikenal dengan sebutan Wayang Golek Cepak atau disebut juga dengan istilah Wayang Golek Papak. Konon istilah wayang ini diabil dari bentuk fisik dari boneka wayang yang cenderung rata pada bagian kepalanya atau dalam istilah jawa papak, dalam bahasa sunda disebut cepak. Kalau kita melihat secara sepintas bentuk fisik dari boneka wayang tersebut memang seolah ada kemirifan antara wayang golek cepak dengan wayang golek purwa, namun pada bagian bagian tertentu sebenarnya ada perbendaan yang sangat signifikan, misalnya pada wayang purwa kebanyakan tokoh-tokohnya menggunakan mahkota gelung keling, cotha, dan lain-lain. Pada wayang golek cepak sebagaian bonekanya menggunakan semacam  aksesories/hiasan sangat sederhana berupa ikat kepala. Sepintas baik bentuk fisik maupun ragam ceritanya wayang cepak memilki kesamaan dengan beberapa jeins wayang yang menggunakan media kayu ini di Jawa Tengah, seperti Wayang Golek Menak dan Wayang Golek Panji. Pada wayang golek menak cerita yang disajikan diantaranya; Amir ing medayin, Amir ing serandil, Amir ing ajerak, Amir Hamzir dan lain-lain.  Dalam khasanah kesusastraan klasik Indonesia bentuk cerita menak sudah dikenal cukup lama  dipengaruhi kuat dari sastra Timur Tengah. Tokoh utama dalam wayang menak ini adalah Amir Hamyah atau dalam tradisi lisan dikalangan masyarakat jawa dikenal dengan sebutan Wong Agung Menak dengan berbagai nama samara lainnya. Konon tokoh imajiner ini diilhami dari tokoh historis Sayidina Hamzah bin Abdul Muthalib r.a. paman dari Nabi Besar Muhammad s.a.w. sebagai sosok gagah berani membela Rasulullah baik sebelum maupun sesudah masuk Islam.

     Rangkaian peristiwa heroik Hamzah bin Abdulmuthalib r.a. sebagai salah seorang tokoh sejarah inilah yang mengilhami munculnya tokoh pembebrani dalam cerita Menak yani Amir Ambyah atau Wong Agung Menak. Keperkasaan tokoh Amir Ambyah yang sakti luar biasa dipandang dari aspek historis memang ada sisi penyimpangan dari tokoh yang sebenarnya, namun dipandang dari sudut kreatifitas dalam menggarap sebuah cerita begitu sangat luar biasa.

     Pada beberapa jenis kesenian tradisi Nusantara cerita Menak terdapat dalam beberapa bentuk kesenian diantaranya; Kesenian Kethoprak basahan dari Jogyakarta dan Solo, teater Angguk di Kebumen, Manorek di Banyumas, Pelipu Lara di Sumatra (teater bertutur), Sahibul Hikayat (Teater bertutur/dongeng). Cerita Menak dalam format pertunjukan wayang terdapat pada wayang golek Menak tersebar di beberapa daerah seperti; Surakarta, Banyumas, Pekalongan, kebumen, Pringan hingga Cirebon. Sayangnya kini hampir disetiap jenis kesenian yang disebutkan diatas sudah jarang ditemukan lagi pentas dengan menyanjikan cerita Menak. ( Pekan Apresiasi Wayang Cirebon:1985)

       Disamping wayang golek Menak ada juga jenis wayang golek dalam genre lain yaitu Wayang golek Panji.  Wayang golek ini biasanya membawakan jenis epos Panji, seperti cerita Panji semirang, Panji Laras, Panji Asmara Bangun, Panji Wulung dan lain sebagainya.  Apakah munculnya Wayang Golek Cepak masih memiliki keterkaitan dengan genre wayang tersebut diatas? Hal ini perlu penelaahan lebih dalam lagi.  Hal ini disebabkan dalam bentuk penyajian cerita  pedalangannya, Wayang Golek Cepak repertoar ceritanya sering mengangkat jenis lakon Menak serta cerita Panji.  Walaupun sering juga mengangkat cerita legenda Cirebon.

       Secara historois kapan munculnya wayang golek Cepak tidak diketahui dengan pasti.  Namun menurut penuturan para  dalang terkemuka bahwa munculnya wayang golek cepak bermula dari gagasan Elang Meganggong putra dari Ki Gedeng Slingsingan dari daerah Telaga yang berguru agama Islam pada Sutajaya Kemit di daerah Gebang.  Elang Mengganggong selanjutnya  diteruskan oleh Ki Prengut dan menurunkan para dalang wayang termasuk seni topeng, dan menyebar di beberapa kawasan di Wilayah Cirebon bagian timur, seperti Kec. Losari, Waled, Ciledug, dan Karang Sembung. Menurut cacatan Ki kandeg (Alm) keberadaan wayang cepak terdapat pula di Tambi Indramayu, Kebon Kembang, Kebon Blimbing, Bulak kesedan, Karang Suwung, Karang wareng, Kapetakan, bahkan disebelah barat terdapat di Arjawinangun.

Lakon Wayang Cepak

       Lakon atau cerita yang dipergelarkan dalam Wayang Golek Cepak tidak sama dengan lakon yang bisas disajikan dalam Wayang golek purwa maupun wayang kulit purwa gaya Cirebon. Jika pada wayang purwa lakon yang disajikan bersumber dari cerita Mahabarata dan Ramayana, maka repertoar lakon pada Wayang Golek Cepak bersumber dari Cerita Menak, Legenda, epos panji, Kerajaan, dan cerita wali ( babad).  Repertoar cerita Menak meliputi; Umar Maya Umar Madi, Amir Ing Srandil, Amir Ing Al Karib, Amir Ing Mendayin, Ahmad Muhammad, Durahman-Durahim, Jayeng Murti, Repatmaja Imam Suwangsa, Lokayanti raja Nuryatin, Sayidina Ali Perang Lahad dan lain-lain.  Dalam Epos Panji ceritanya; Panji Kudawanengpati, Panji Gagak Pernala, Jaransari-Jaranpurnama, Panji Sutra, Panji Tumang, Panji Asmara bangun, Panji Wulung, Panji Kasmaran dan lain-lain. Cerita Legenda; biasanya bersumber dari legenda daerah, seperti Ciungwanara, Sangkuriang, Walangsungsang, Rarasantang dan lain-lain.  Secara trdisi repertoar lakon tersebut dalam dunia pedalangan Cirebonan dibedakan menjadi 5 bentuk yaitu:

  1. Lakon galur. Adalah bentuk lakon atau cerita yang berpatokan pada epos Ramayana dan Mahabarata atau cerita yang bersumber dari sejarah. Contoh bentuk lakon ini bisa ditemukan pada lakon “Konteya Merad” yang menghubungkan kisah pada masa Mahabarata dengan cerita
  2. Lakon Babad. Adalah bentuk cerita yang hidup dan berkembang dimasyarakat yang mengisahkan kejadian atau peristiwa tertentu yang bersumber dari catatan sejarah tempo dulu yang dirangkum dalam bentuk buku atau kitab kuno seperti: Kitab Rantai, Kitab, Kawedar, Kitab Lugu dan Kitab Peteng.
  3. Lakon Seperti telah dikatakan di atas bentuk lakon ini bersumber dari cerita yang terdapat di Timur Tengah. Sebagain dalang Wayang Cepak bentuk cerita ini masuk dalam katagori bentuk cerita galur.
  4. Lakon Panji. Adalah sebuah cerita yang sudah melegenda tidak hanya di Jawa tapi juga dibeberapa tempat lain, seperti Lombok, Sumatra, bahkan hingga ke kawasan Asia seperti di Thailan. Lakon Panji mengisahkan tentang kehidupan sosok Panji yang memiliki latarbelakang kerajaan kahuripan, dan Jenggala di Jawa Timur.
  5. Lakon Perjuangan. Bentuk lakon ini bertemakan perjuangan atau tema kepahlawanan pada masa perjuangan. Adapun judul lakonnya Ki Bagus Rangin, Untung Surapati, dan lain-lain.
  6. Lakon Carangan. Adalah berupa lakon rekaan atau anggitan dari dalang yang dihubungkan dengan persoalan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

       Berdasarkan katagori bentuk cerita tersebut, tentu bagi seorang dalang adalah hal ini sangat penting, mengingat disamping penguasaan terhadap aspek penguasaan gamelan, aspek garap cerita,  dan yang tidak kalah pentingnya adalah penguasaann terhadap bentuk lakon dan segenap struktur pertunjukan diatas pentas. Apabila dalang tersebut dapat menguasai aspek-aspek yang disebutkan tadi, maka peran dalang tersebut dapat digolongkan sebagai sosok yang telah memenuhi kriteria dalang.  Namun hal tersebut tidak menjadi jaminan dapat digemari masyarakat luas jika dalang tersebut tidak berusaha untuk mengembangkan fotensi yang dimilikinya, seperti menambah wawasan pedalanganya, teknik garap, dan yang paling penting keberadaan Wayang Cepak senantiasa dapat lentur mengikuti arus perkembangan yang terjadi di masyarakat pendukungnya. Dapatkah keberadaan Wayang cepak dapat sejajar dengan Wayang Golek Purwa Priangan ?  nampaknya sudah tiba saatnya para dalang Wayang Golek Cepak untuk mengikuti  langkah-langkah terobosan yang dilakukan oleh  para dalang ternama di Tanah Pasundan seperti Dede Amung Sunarya, atau Asep Sunandar Sunarya. Di Jawa Tengah tokoh yang cukup berani melakukan terobosan terhadap genre wayang serupa, sudah dilakukan oleh Ki Entus Susmono asal Tegal.

Struktur Pertunjukan Wayang Golek Cepak

       Secara tradisi pola stuktur penyajian Wayang Golek Cepak memiliki kesamaan seperti halnya pada pertunjukan Wayang Kulit Purwa gaya Cirebon pada umumnya. Adapun struktur pertunjukannya :

  1. Talu ( pembukaan) biasanya pada bagian ini hanya menyajikan lagu-lagu gamelan secara instumentalia. Adapun materi lagunya terdiri lagu Bayeman, Kajongan, gending Rungu-rungu, Balo-balo dan lainsebagainya.
  2. Jejer adengan awal yang menggambarkan adegan keraton, atau di petapan diiringi dengan gending Kaboran. Pada bagian ini sering disebut
  3. Catur (Isi). Merupakan isi pokok dari cerita yang dipentaskan.
  4. Paseban atau kepatihan, adegan yang berisi tentang musyawarah.
  5. Unjuk kekuatan secara fisik biasanya terdapat pula yang menggunakan senjata.
  6. Babar/tutug (penutup). Akhir dari rangkaian pertunjukan biasanya dalang menyampaikan nasehat dan pesan terakhir dalam penutupan pergelarannya dan ditutup dengan lagu rumyang dan Bale bandung.

         (Oleh :   W a r y o, S. Sn)