Artikel

PERAN KARAWITAN CIREBON DALAM PERSFEKTIF KAJIAN ILMIAH

    Dibaca 50 kali budaya

                          

        Istlah Seni Karawitan

        Seni karawitan secara historis diperkenalkan pertamakali sejak tahun 1920-an, yaitu pada saat pertama kali didirikannya sekolah atau kursus menabuh gamelan yang dilakukan secara terbuka untuk masyarakat umum di Surakarta yang bertempat di sebuah museum Radyapustaka yang dikellola langsung oleh pihak keraton Surakarta.   Istilah karawitan  mengalami beberapa pergeseran dan perkembangan, semula pengertian karawitan mencakup beberapa cabang kesenian meliputi seni kanayagan (seni suara), pedalangan, tatah sungging, ukir, tari dan sebagainya. Konon ada kemungkinan hal tersebut dikaitkan dengan istilah karawitan itu sendiri yang berasal dari kata dasarnya rawit yang berarti remit, yang penuh dengan permasalahan yang dalam, rumit dan komplek.

     Pengertian karawitan ini selanjutnya menyempit digunakan hanya untuk menyebut salah cabang seni saja, yaitu pada seni suara yang menggunakan waditra gamelan atau yang menggunalan laras slendro dan pelog yang pada akhirnya istilah ini lebih populer dikalangan musik tradisi di pulau Jawa, baik Jawa Barat, Jawa Tengah maupun di Jawa Timur dan Bali.   Setelah pemerintah mendirikan lembaga yang berkait dengan kesenian, seperti Konservatori Karawitan Indonesia di Surakarta (KOKAR), yaitu sebuah lembaga pendidikan seni yang satu-satunya menggeluti dunia seni tradisi. Program pengajarannya meliputi seni tabuh-tabuhan, seni pedalangan dan seni tari.  Pada masa itulah konsep seni karawitan selanjutnya mengalami perubahan meliputi cakupan yang disebutkan di atas.   Pengertian karawitan selanjutnya makin berkembang lagi setelah munculnya beberapa lembaga serupa di beberapa daerah di Indonesia, seperti Konservatori  Padang Panjang (Sumatra barat), Konservatori Ujung Pandang (Sulawesi), dan Konservatori Karawitan (Kokar) Bandung (Jawa barat). Dengan berdirinya lembaga-lembaga ini pergeseran pemahan istilah seni karawaitan inipun turut mengalami perubahan, skupnya tidak hanya pada seni suara yang berasal dari waditra gamelan atau seni suara yang berlaras pelog atau slendro namun meluas untuk menyebut semua ragam seni musik tradisi yang terdapat di nusantara. Menurut R. Supanggah istilah ini merupakan upaya membedakan cabang seni musik lainnya yang menggunakan kaida-kaidah musik barat. Istilah ini menurutnya merupakan bersifat administratif dan operasional.

       Dengan demikian sampai saat ini seni karawitan sebenarnya adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut seluruh bentuk sajian seni suara yang bernuansa seni tradisi yang terdapat di Nusantara.   Bagi kalangan masyarakat Cirebon tentunya istilah ini berlaku untuk semua seni suara baik yang bersumber dari suara vokal, waditra  (instrument) maupun campuran keduanya. Ini berarti bahwa istilah karawitan sendiri sebenarnya tidak hanya pada musik gamelan saja namun pada bentuk suara jenis lainnya yang berakar dari seni tradisi.

          Seni Karawaitan Cirebon Sebagai Objek kajian Ilmiah

         Membahas seni tradisi  karawitan merupakan persoalan yang cukup rumit dan pelik. Proses pengungkapannya dapat diamati dari berbagai Persfektif, baik dari sejarah, sastra, hingga dari sudut pandang musikologisnya. Dari sudut pandang  sejarah saja sampai sekarang tidak ada yang mengetahui secara persis mulai kapan dana bagaimana awal mula bentuk seni karawitan itu lahir di nusantara umunya, khususnya dalam budaya masyarakat Cirebon mencapai bentuknya seperti sekarang ini.

        Dalam konteks gamelan tradisi khas daerah Cirebon, pengkajian terhadap  seni karawitan ini telah banyak dilakukan baik oleh kalangan akademisi Indonesia maupun para peneliti Internasional.  Dalam khasanah kebudayaan kita, orang asing yang pernah mengkaji persoalan kesenian kita dinataranya pada masa penjajahan Belanda Yap V KJoens. Tokoh ini dalam bukunya banyak mengulas mengenai musik tradisi dan pertunjukan yang terdapat di daerah Jawa barat, termasuk keterangan seni karawitan Cirebon mulai dari jenis gamelan, laras, hingga jumlah repertoar lagu pada gamelan. Disamping tokoh legendaries tersebut, peneliti lain yang pernah melakukan penkajian terhadap seni karawitan Cirebon diantaranya Prof. Mechael Righ salah seorang dosen dari Universitas Buffalo Amerika. Peneliti ini mengkaji pokok bahasannya pada musik tradisional dan pertunjukan di wilayah Cirebon dengan nara sumbernya E. Yusuf Dendabrata dari keraton Kacirebonan dan beberapa seniman tradisi lainnya.  Disamping Prof. Mechael Righ, terdapat juga peneliti lain seperti Allan Thomas salah seorang staf dosen dari Victoria Unifersity Aukland Selandia Baru yang meneliti gamelan dan wayang Cirebon. Selanjutnya  jack Body dari Selandia Baru, dan Richard Nort dari Hawaii USA. Peneliti ini banyak mempelajari tentang seni karawitan gaya Cirebonan. Itulah orang-orang yang sangat berjasa dalam meneliti seni Karawitan Cirebon dengan kajian yang berbeda-beda.

        Disisi lain peran peneliti kita yang pernah mengkaji soal karawitan Cirebon dapat dikatakan sangat jarang, padahal intitusi yang berkopenten dibidangnya telah dimiliki oleh pemerintah Jawa barat seperti SMKI dan ASTI (sekarang STSI) Bandung.  Adapun putra daerah Cirebon yang pernah mengkaji persoalan seni karawitan  diantaranya E. Yusuf Dendabrata dari kalangan kerabat keraton Kacirebonan dan Endo Suanda seorang etnomusikolog lulusan Wesleyan University Amerika Serikat. Dua pakar inilah yang banyak membuka cakrawala dunia kesenian Cirebon dimata Internasional, terutama dalam lingkup seni karawitan Cirebon.

        Elang Yusuf Dendabrata dalam sebuah tulisannya berjudul “Menyimak sejenak seni karawitan dan Pertunjukan di daerah Cirebon” mengidentifikasikan secara singkat perihal seni karawitan mulai dari peran seni karawitan itu sendiri, jenis jenis gamelan, laras (tangga Nada), bentuk lagu hingga repertoar lagu.  Didalam menganalisa bentuk lagu menurut pengamatan E. Yusuf lagu dalam kaarawitan Cirebon dapat dikelompokan menjadi; lagu-lagu kecil, lagu tengahan, dan lagu-lagu kuno. Menurutnya lagu-lagu yang tergolong lagu kecil adalah jenis lagu-lagu yang memiliki cirri 4 kali kenongan ( yang ke empat gong). Sedangkan lagu tengahan cirri-cirinya memiliki 8 kali kenongan yang kedelapan gong.  Terakhir menurut identifikasinya lagu-lagu kuno  meiliki cirri 16 kali kenonang yang ke 16 gong.  Bentuk-bentuk lagu tersebut menjadi acuan bagi kalangan nayaga.   Dalam pemaparannya E. Yusuf  merinci pula bagaimana struktur musikal pada kalimat lagu mulai menganalisa letak ketukan, kenong hingga hingga gong.

         Disamping mengidentifikasi dari sisi musikal pada karawitan Cirebon, dalam tulisan tersebut juga menggambarkan sekelumit mengenai proses revitalisasi dan sistem pewarisan seni karawitan Cirebon. Didalamnya menyinggung persoalan bagaimana mengangkat kembali kedudukan seni karawitan, kemunduran dan perkembangan seni karawitan Cirebon dan harapan-harapannya pada pemerintah, juga pada lembaga-lembaga yang terkait.  Harapan yang diinginkan E. Yusuf Dendabrata diantaranya:

  1. Segera didirikan sekolah-sekolah seni di Cirebon.
  2. Sertakan pihak Pemda. Cirebon dan Dinas Kebudayaan juga pihak Keraton di Cirebon.
  3. Ajaklah seniman-seniman tua untuk menyumbangkan pendapatnya.
  4. Perbanyak percetakan buku-buku mengenai semua kesenian Cirebon.

        Itulah harapan-harapan yang masih tercatat dalam tulisan beliau, Nampaknya dari keempat keinginan tersebut hanya beberapa poin saja yang tercapai, yaitu pada poin nomor satu,  berdirinya sekolah kesenian (SMK Pakungwati) yang kini  dikelola oleh Yayasan Pakungwati Keraton Kasepuhan. Namun sayang keberadaan sekolah ini hingga kini belum bisa menunjukan kemajuan yang berarti. Harapan lain yang menjadi “Pekerjaan Rumah” adalah bersinerginya Pemerintah, Keraton dan para seniman pelaku untuk dapat bersama-sama memajukan kesenian Cirebon.  Terakhir impian E. Yusuf  adalah pentingnya referensi buku untuk menambah wawasan pengetahuan dalam dunia kesenian baik yang berasal dari Cirebon maupun dari daerah lain. Peranan buku-buku ini cukup strategis disamping memiliki fungsi sebagai dokumentasi tertulis, keberadaannya dapat pula dijadikan sebagai bahan acuan dalam kegiatan penelitian berikutnya.   Oleh : Waryo, S.Sn.