Artikel

UPAYA MEREVITALISASI WAYANG WONG CIREBON

    Dibaca 52 kali budaya

                 Dalam khasanah kebudayaa daerah  Jawa Barat, Cirebon adalah salah satu wilayah yang memiliki kultur yang berbeda jika dibandingkan dengan daerah lain.  Perbedaan yang sangat menonjol salah satunya adalah kekayaan kesenian daerah yang tersebar dari ujung timur Losari hingga Indramayu, bahkan sebagian diantaranya mencakup wilayah Majalengka.  Perbedaan corak kesenian ini begitu menonjol jika dibandingkan dengan kultur tetangganya, seperti budaya priangan disebelah barat dan budaya Jawa disebelah timur, walaupun ada kemirifan namun dari beberapa aspek bentuk penyajian seni Cirebon memiliki warna tersendiri, misalnya jenis kesenian topeng, wayang kulit, wayang cepak, tayub, Brai, dan beberapa kesenian rakyat lainya.  Ragam kesenian Cirebon tersebut konon hingga kini masih bertahan dengan baik namun tidak sedikit tengah mengalami kepunahan, ibarat pepatah mati segan hidup tak mau.

                 Diantara jenis kesenian yang begitu beragam tersebut salah satu yang menjadi kebanggaan masyarakat Cirebon adalah seni pertunjukan topeng.  Kesenian ini selanjutnya menjadi identitas  kesenian daerah Cirebon dan Indramayu, karena disamping bentuk penyajiannya yang khas, kesenian ini dianggap memilki nilai historis dan filosopis dikalangan masyarakat pendukungnya. Keberadaan seni topeng berkaitan dengan sisi historis tergambar dari beberapa kepercayaan masyarakat Cirebon terhadap peranan kesenian ini dalam membentuk sejarah Cirebon, seperti dipaparkan dalam cerita rakyat maupun babad, terutama pada saat proses penyebaran Islam pada masa Sunan Gunungjati dan Kalijaga.  Dipandang dari aspek filosopis, kesenian ini diyakini memiliki makna simbolis dan nilai adiluhung, seperti tergambar pada makna simbolis tata rupa kedok, gerakan tari, hingga penggambaran watak tokoh dari seni topeng yang dipertunjukan, seperti karakter halus, karakter gagah, ganjen hingga simbol tingkatan hawa nafsu yang ada pada manusia.

                 Menurut Th. Pegeaud dalam bukunya berjudul  Javaansche Volkvertoning terdapat dua macam jenis pertujukan topeng gaya Cirebonan yaitu Groot Maskerspel dan Kleine Maskerspel. Istilah Groot Maskerspel adalah pertujukan topeng yang menggunakan cerita, sedangkan Kleine Maskerspel adalah pertunjukan topeng yang hanya menyajikan tari-tarian tunggal.  Jenis pertujukan yang pertama (Groot Maskerspel) dalam khasanah kesenian Cirebon sering disebut dengan istilah Wayang wong. Sedangkan bentuk pertunjukan yang kedua (Kleine Markerspel) yang hanya menyajikan tari-tarian tunggal dinamakan Topeng Babakan.

                  Secara historis konon kesenian yang disebut  groot maskerspel  ini berkembang didua kerajaan besar di Jawa barat yaitu kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten.   Dikalangan Kesultanan Cirebon kesenian ini selanjutnya disebut dengan wayang wong atau disebut wayang orang, sedangkan di Kesultanan Banten disebut raket.  Disamping memiliki perbedaan istilah, dari aspek cerita yang dipertujukanpun dalam kesenian ini memiliki perbedaan yang mendasar.  Jika pada pertunjukan wayang wong Cirebon tema diangkat berasal dari ceritera Mahabarata dan Ramayana, maka di Kesultanan Banten cerita yang dipertunjukan berupa epos Panji.

 MASA KEEMASAN ( KEJAYAAN ) WAYANG WONG CIREBON

                Wayang wong Cirebon sebagai salah satu kekayaan kesenian Cirebon, keberadaannya mengalami pasang surut dari generasi kegenerasi berikutnya, hal ini disebabkan pertama para pendukung wayang wong biasanya terdiri dari para dalang atau penari-penari handal yang notabenenya tersebar dibeberapa kampung dan memiliki grup masing-masing.  Kedua  jenis pertunjukan ini memerlukan materi pendukung yang tidak sedikit jumlahnya. Dengan demikian wajar jika seni wayang wong ini hanya dapat dijumpai dibebeapa tempat di Cirebon. Menurut cacatan Ki Kandeg (alm) sejarah wayang wong Cirebon yang lebih terasa menonjol kiprahnya berasal dari desa Suraneggala Lor semasa generasi kakeknya Ki Konjen atau Ki Surapampu yang malang melintang sejak abad 19. Prakarsa Kisurapampu ini konon mendapat simpati dan disenangi oleh masyarakat luas termasuk perhatian dari Sultan Cirebon yaitu Pangeran Panembahan Ratu Giri Malaya (Panembahan Girilaya?), dan sering mendapat undangan untuk pentas di lingkungan keraton Kasepuhan bahkan konon seniman ini mendapat anugrah kebangsawanan bergelar Ki Ngabehi Kartawiguna. Generasi pertama wayang wong desa Suraneggala ini pada kiprahnya didukung pula oleh Ki kempung dan Ki Siwiyar yang memiliki kemampuan dalam pertunjukan wayang golek cepak dan wayang kulit sehingga menambah daya tarik pertunjukan dan digemari masyarakat pendukungnya. Generasi kedua yang tidak kalah populernya adalah dekade Ki Darmarum- ayah dari Ki Kandeg- yang didukung oleh Ki Kawentar seorang tokoh penari topeng asal  Ciluwung Paliman. Generasi Ketiga adalah pada masa Ki Kandeg (1950-1980-an) bersama beberapa seniman lain, seperti Ki Kamol, Ki Arwati, dan Ki Bodong  Karwati.  Pada masa ini menurut Ki Kandeg eksistensi wayang wong dapat bertahan disebabkan berkat kerjasama beberapa seniman mumpuni, seperti dalang wayang cepak, wayang kulit dan seniman topeng Cirebon. Bergabungnya seniman-seniman handal ini turut mempengaruhi kwalitas pertunjukan wayang wong, baik dari aspek karawitan, tari maupun aspek seni pedalangnnya.

MASA KRISIS (PENURUNAN ) WAYANG WONG CIREBON

                Selain di Desa Suraneggala Lor di Cirebon pada masa dahulu terdapat beberapa grup wayang wong yang tidak kalah populernya,  seperti di Kampung Gegesik, Kebon Blimbing, Kedawung Paltuding, Palimanan, hingga daerah Bongas  Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka yang merupakan keturunan dari Ki Wentar. Tempat-tempat inilah kemudian turut mewariskan kesenian wayang wong gaya Cirebonan ini pada keturunannya. Namun sangat disayangkan kantong-kantong seni ini lama kelamaan makin mengalami kemunduran bahkan telah lama tidak diketahui lagi kiprahnya. Sekitar tahun 1970-an penulis pernah melihat salah satu grup di daerah Bongas dipelopori oleh Ki Sana,  masih mengadakan latihan secara intens, yang terlibat seperti kebiasaan pada kesenian tradisi pada umunya adalah keluarga besar seniman tersebut.  Namun sangat disayangkan pada masa itu pementasan wayang wong sudah mulai jarang ada permintaan untuk pentas, sehingga mengendurkan idialisme seniman wayang wong untuk tetap hidup bertahan.  Pada Tahun 1990-an ditempat yang sama keturunan Ki Wentar yaitu Ki Sukarta pernah mencoba untuk membangun kembali eksistensi wayang wong dengan mendirikan sanggar yang didukung kalangan luar, namun sayang upaya inipun mengalami kegagalan hal ini disebabkan penyandang dana dari grup ini meninggal dunia.

                Didaerah Suranenggala setelah Ki Kandeg meninggal dunia, keberadaan wayang wong seolah-olah mengalami mati suri. Hal ini disebabkan keturunan Ki Kandeg tidak  mewarisi kemahiran dalam mengelola seni  wayang wong seperti orang tuanya, beberapa orang keturunan Ki Kandeg konon ada yang berprofesi sebagai pegawai dan guru, bahkan menjadi kepala sekolah, justru proses pewarisan ketrampilan wayang wong tersebut dilanjutkan oleh para murid-muridnya. Salah seorang murid Ki Kandeg yang dapat dikatakan mampu meneruskan kemampuan mengolah kesenian wayang wong tersebut adalah Sujana Priya.  Orang inilah yang  pada akhirnya memiliki kemamuan, tidak saja dalam menggarap wayang wong tapi juga ketrampilan mengolah karya seni kriya topeng dan seni ukir dikuasai versis seperti gurunya.  Pewarisan wayang wong  di desa Suranwggala Kidul ini tidak hanya semat-mata pada Sujana, namun ada beberapa orang yang pernah menjadi murid Ki Kandeg, diantaranya Ki Kamad, Ki Achmad Kadrawi dan lain-lain, namun kemampuan Sujana hingga kini masih bertahan dan dapat dilihat.

                  Kepiawaian Sujana dalam mengembangkan ketrampilan membuat topeng dan menari Wayang wong ini kemudian mendapat perhatian dari kalangan pemerintah baik tingkat daerah maupun profinsi Jawa Barat.  Sehingga  sekitar  tahun 2005 /2006  sanggar Purwagalih dikelolanya,  Bekerjasama dengan   Dinas pariwisata Profinsi Jawa Barat mengadakan pembinaan kesenian daerah, ibarat gayung bersambut proyek ini diarahkan kepada proses revitalisasi wayang wong gaya Cirebon.  Selama kurang lebih 6 bulan kegiatan ini berjalan, cikal bakal lahirnya seni wayang wong generasi baru ini bangkit kembali dengan format seni “kemasan”, atas kerjasama antara seniman pelaku wayang wong itu sendiri dengan para pembina kesenian yang ditugaskan oleh pemerintah Profinsi, yang sebagian besar berasal dari kalangan Akademisi yaitu para alumni Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung.  Kegairahan seniman wayang wong Cirebon pada saat itu seolah lahir kembali, apalagi peranan para lulusan intitusi seni ini dalam tugasnya berupaya menawarkan dan memberikan solusi proses garapan yang dilandasi oleh kaidah-kaidah pertunjukan yang sudah menjadi patokan atau kebiasaan seniman tersebut, namun dengan pendekatan konsep-konsep akademis sebagai bekal untuk dapat menggarap wayang wong Cirebon tersebut.

                  Pada tahun 2006 hasil dari pembinaan ini dipentaskan pertama kalinya di Taman Budaya Dago dengan tajuk Festival Kesenian Jawa Barat 2006, diselenggarakan oleh Disbudpar Profinsi Jawa barat bekerja sama dengan Puslitmas STSI Bandung dengan lakon Bambang Purwa Lumpita. Pementasan wayang wong ini mendapat sambutan mengembirakan, hal ini cukup beralasan karena sudah sejak lama keberadaan seni  mati suri setelah meninggalnya Ki Kandeg. Berkat kerja sama anatara seniman pelaku dengan kalangan akademis yang difasilatisi oleh instansi pemerintah-dalam hal ini Disbudpar Profinsi Jawa Barat- akhirnya upaya untuk merevitalisasi kesenian Wayang wong ini dapat dikatakan berhasil. Perkembangan setelah pementasan perdana tersebut, selanjutnya grup ini sering mendapat undangan untuk pentas dibeberapa tempat yaitu, di Keraton Kasepuhan, JCC Senayan Jakarta, Radio Ranggajati Cirebon, dan lain-lain. ( Oleh : waryo. S.Sn)