Artikel

TANGGAPAN DAN KRITIK TENTANG SENI PERTUNJUKAN

    Dibaca 3584 kali kesenian cirebon artikel

Pada saat saya melihat sebuah tontonan sebuah seni pertunjukan apakah itu Tari, Musik, Teater, Masres (Sandiwara Rakyat), Seni Rupa, Seni Pahat atau apa saja, maka saya selaku apresiator paling tidak akan menangkap pesan apa yang akan disampaikan oleh seniman penggarapnya. Dari tulisan ini saya akan mencoba memberikan tanggapan atau kritik terhadap jalannya sebuah pementasan Dramatari yang berjudul “ Runtagna Pajajaran karya seorang koreografer handal yaitu R.Yuyun Kusumah Dinata salah satu murid terbaik R.Tjetje Somantri seorang Saehu tari tokoh pembaharu Jawa Barat yang pernah menggondol Piagam Upakarti dari Bapak Presiden pertama R.I Bapak Ir.Soekarno, yang secara kebetulan pula saya termasuk penarinya yang mengusung pertunjukan dimaksud. Dari yang saya rasakan sebagai salah satu pemainnyya,yang tertangkap oleh saya  adanya sentuhan tanggung jawab moral yang secara apik digarap dalam sebuah konsep pertunjukan yang sangat apik, matang, baik dari penataan tata arias busananya, koreografinya, musik pendukungnya, lightingnya, pola pengadegan, tema, maupun topik yang disampaikannya seiring dengan kredibilatsnya yang sudah mapan sebagai salah satu Begawan Tari di Jawa Barat.

Tak berlebihan jika saya salah satu penari yang diuntungkan dari pementasan tersebut, karena banyak nilai-nilai yang didapatkan dari pengalaman pentas dimaksud. Tidak hanya saya mendapatkan suatu pembelajaran berharga, lebih dari itu pula hadirnya sebuah perenungan dari intuitif dan nilai empati yang didapatkan, paling tidak saya mencoba masuk ke ranah tanggapan atau ranah kritik yang akan saya apungkan sebagai bahan evaluasi diri dari pengalaman itu.


Tak bisa dipungkiri jika seseorang melihat jalannya suatu pertunjukan, maka pada akhir pementasan akan muncul perbedaan komentar dari penonton yang mengapresiasinya, ada yang menganggap biasa-biasa saja, ada yang antusias dan berdecak hebat, ada yang kecewa, ada yang acuh, bahkan ada juga yang larut dengan pertunjukannya sampai-sampai dia menangis karena merasa terharu dan sebagainya. Tanggapan ini menandakan bahwa tiap orang sebenarnya memiliki perbedaan tingkat emosional dan kepekaan dalam menyikapi suatu permasalahan. Tindakan yang dilakukannya bisa bersifat spontanitas dalam bentuk tepukan, teriakan, cemoohan, atau sanjungan, juga bentuk kehati-hatian pada saat dia memberikan tanggapan baik secara lisan maupun dalam bentuk tulisan.

Sebagai ilustrasi, pada saat kita mau menonton pertunjukan film di bioskop maka yang pertama kita lihat adalah judul filmnya, siapa bintangnya, siapa sutradaranya. Jika semua itu cocok dengan apa yang diinginkannya maka dia akan membeli karcis untuk menonton film dimaksud, jika tidak cocok maka dia akan melirik film lain di bioskop yang lain pula. Berbeda dengan melihat pertunjukan seperti Drama Tari, Teater, Musik, maka kerumitan signifikan akan sangat dirasakan untuk menanggapi dan mengkritik dari pertunjukan itu. Kompleksitas seperti siapa Koreografer /Sutradaranya, pemilihan Casting, Lighting, Tata Rias, Busana, Komposisi Musik, Komposisi Gerak, Proferty, Shetting, Tema, Topik, Judul, alur cerita, pola pengadegan, sampai kepada kebutuhan nilai estetika dan artistiknya.

Sebaliknya kedudukan apresiator-pun akan memunculkan penilaian yang berbeda-beda, si A bisa saja hanya menanggapi Tata Rias Busananya saja, si B mungkin hanya menanggapi tentang Alur Ceritanya saja, si C hanya menanggapi tentang geraknya saja, si D hanya menanggapi hanya sisi musiknya saja, dan sebagainya. Namun dari dinamika tanggapan-tanggapan atau kritik dari penonton atau si apresiator tersebut akan menjadi dinamis yang secara fokus diarahkan pada pertunjukan yang telah dilihatnya.

Memberi penilaian atau tanggapan dan kritik seni pada sebuah pertunjukan kesenian tentunya harus bersifat netral dan objektif artinya, apa adanya dan tidak boleh membeda-bedakan siapa yang menggarapnya. Karena dibalik sebuah kekaryaan, sehebat apapun penggarap pasti ada titik kelemahannya, mengingat interpretasi pemain pendukungnya yang kadar pemahamannya rendah untuk menjabarkan keinginan seorang Koreografer pertunjukan Tari atau Suitaradara dalam garapan film, Teater, Drama dan sebagainya.

Penilaian ini sering disebut dengan isitilah kritik, dan kritik itu sendiri secara keilmuan berkesenian dibedakan dalam tiga jenis yaitu : Kritik Pembeberan, Kritik Penghargaan, dan Kritik Penentuan :

Kritik Pembeberan, merupakan kritik yang membrikan informasi tentang masalah pementasan karya seni secara detail. Misalnya mulai dari pengarngn dengan naskahnya, tema dengan alur ceritanya, hubungannya dengan kewajaran atau kejanggalan bila dikaitkan dengan fakta kehidupan  sehari-hari.

Kritik Penghargaan, sifatnya apresiatif. Dan Kritik semacam ini dapat diberikan kepada seorang tokoh/pemeran secara individu atau secara kolektif, bentuknya dapat berupa sanjungan atau  kritikan. Kritik ini dibuat dengan alas an-alasan tertentu, seperti karena bagus dan menarik untuk ditanggapi atau dikomentari.

Kritk Penentuan, merupakan kritik evaluative. Biasanya tatkala seseorang setelah melihat sebuah pementasan, si pembuat kritik menanggapi dengan seksama. Misalnya ia berpendapat isi ceritanya tidak wajar atau tidak sesuai dengan alur pementasan yang seharusnya, atau apa yang terjadi dalam pementasannya tidak sesuai dengan harapan, sehingga ia berkeputusan untuk memberi tanggapan atau kritikan.

Dalam memberikan penilaian setelah melihat bentuk pementasan Tari, Dramatari Teater/Drama misalnya, ada tiga pendekatan yang dapat dipergunakan. Tiga pendekatan penulisan kritik tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Secara Akademis, kritik dengan pendekatan dari sisi teoritis. Kritik jenis ini seringb dilakukan oleh para sarjana seni, pengamat seni, dan budayawan;
  2. Secara Jurnalistis, kritik dengan pendekatan penulisan di media massa, dan ini sering dilakukan oleh wartawan, budayawan;
  3. c. Secara Praktis, kritik yang dibuat oleh orang awam maupun para seniman yang menggeluti cabang seni dengan menggunakan pendekatan teoritis dan praktis/sederhana. Misalnya dari penilaian praktis tersebut, dia menilai : Alur cerita 30 %, Karakter Tokoh, 40 %, Rias Busana 20 %, Tata Panggung 10 % , sehingga jumlah totalnya menjadi 100 %..

Dari semua pemaparan tentang tanggapan dan kritik dari jalannya sebuah pertunjukan seni, sangatlah penting untuk dilakukan, sehingga penentuan nilai garapan yang dipentaskan oleh seorang Koreografer, Komponis, atau seorang sutradara dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk menjaga, memelihara dan meningkatkan kembali  karyanya baik dari segi kuantitatif maupun dari segi kualitatifnya (semoga).(penulis: Wahyoe Koesoemah, S.Sn)