Selamat Datang di Website Resmi Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon

Dangdanggula, 13 Bait. Pupuh ini diawali oleh kalimat Bismillahi rakhman nirakhim. menceritakan lolosnya Walangsungsang putra Prabu Siliwangi, Raja Padjajaran, yang berkeinginan mencari agama Nabi Muhammad

Perjalanan hidup seorang individu dibedakan kedalam tingkatan-tingkatan tertentu, diantaranya adalah masa hamil, masa bayi, masa penyapihan, masa kanak-kanak, masa akil balig/remaja, masa sesudah menikah, masa tua, dan sebagainya.

Kepala Disporbudpar

kadis_dana.jpg

Gallery Video

Nujuh Bulan PDF Print E-mail

Upacara nujuh bulan biasanya dilakukan untuk anak pertama bagi si ibu atau anak pertama bagi si ayah. Upacara ini diselenggarakan dalam tiga tahap. Pertama, penentuan waktu pelaksanaan. Kedua, penyiapan sarana slametan, termasuk sesajian. Ketiga, pelaksanaan slametan.

Upacara nujuh bulan biasanya dilakukan pada tanggal yang mengandung angka tujuh dalam kalender Jawa, seperti 7 Legi, 17 Pon, atau 27 Wage, dalam usia kandungan tujuh bulan. Setelah waktu slametan sudah ditentukan, maka si pemangku hajat harus menyiapkan kebutuhan slametan. Kelengkapan sesajen (sajian) yang harus disiapkan meliputi :

  1. Tumpeng reko atau tumpeng jeneng lengkap dengan bekakak ayam (ayam panggang utuh 1 ekor)
  2. Rujak macam-macam buah-buahan
  3. Sega golong : satu bungkus nasi yang dalamnya diisi dengan ikan yang hidup golong-golong (bergerombol/manta), seperti ikan teri, petek dan tanjan atau nasi yang diletakkan pada trengggiling mentik (janur yang dilingkarkan)
  4. Bubur merah bubur putih
  5. Ketupat, lepet dan tangtang angin
  6. Pala kapendem, yaitu umbi-umbian seperti: uwi (umbi manis), ubi kayu, ubi rambat, talas, ganyong, kembili dan sagu
  7. Pisang raja satu sisir
  8. Sambel wurung atau bakal sambal seperti: terasi, cabe merah, garam
  9. Kinang wurung yaitu sekapur sirih

10.  Udud wurung yaitu tembakau dan daun kawung.

11.  Ikan Petek, tanjan dan selar yang dibakar.

12.  Dugan kelapa ijo yaitu kelapa muda yang kulitnya hijau.

13.  Kendi yang diisi air dan diberi tutup telur ayam.

14.  Wedangan, seperti air kopi, wedang gedang, wedang bajigur, teh bruk, bandrek, teh pahit, air putih dan wedang karah (air + santen + selasih/sekoteng)

15.  Beras putih 5 kati (3,5 kg)

16.  Cengkaruk, ialah nasi kering yang digoreng

17.  Tikar yang terbuat dari pandan

18.  Kembang warna pitu, yaitu tujuh macam bunga

19.  Pengurip ialah ayam jantan atau betina seekor

20.  Banyu suci sapamitran, ialah air dari sumur kuburan yang keramat atau sumur yang dikeramatkan (sumur tujuh)

21.  Air tujuh muara atau banyu tumbak.

Sementara sarana hajatan yang harus disediakan adalah :

  1. Nasi tumpeng.
  2. Bekakak ayam ialah ayam panggang utuh 1 ekor
  3. Nasi bungkus, tempat nasi berupa ceting (wadah nasi yang dibuat dari anyaman bambu)
  4. Sadi, takir tempat lauk pauk
  5. Ancak yang dibuat dari pelepah pisang dan anyaman bambu, diisi dengan berbagai makanan, kendi kecil yang diisi dengan air tape atau air gula, cuo/ tempat rujak, pisau-pisauan, dan takir daun kluing yang pertemuan kedua sisinya ditusuk dengan jarum dan diisi dengan gula batu
  6. Tebu ireng atau wulung 1 kerat.

Si pemangku hajat juga harus menyiapkan “bangunan” cungkup bersudut 6 atau 4 yang terbuat dari bambu untuk tempat mandi ibu hamil dan suaminya. Bagian atas cungkup dibuat seperti memolo mesjid, yang biasanya dengan menancapkan buah nenas, jantung pisang atau lainnya serta ditancapi juga bendera uang. Di tengah kesibukan menyiapkan perlengkapan slametan, pemangku hajat juga mengundang  ulama, sesepuh, bujangga/juru kidung, kerabat dan tetangga.

Slametan nujuh bulan biasa dilakukan pada pagi hari. Sementara pada malam hari sebelum hari itu diadakan melekan (begadang semalam suntuk) yang  secara tradisional menjadi kewajiban paman ibu hamil atau paman dari suami. “Sebenarnya” kegiatan ini dimaksudkan untuk menjaga jambangan berisi air tujuh sumur, bunga tujuh warna/macam dan perhiasan emas yang akan digunakan untuk memandikan ibu hamil pada keesokan harinya. Namun, melekan juga biasa diisi dengan pembacaan doa dan macapatan atau kekidungan semalam suntuk dengan lakon yang ditentukan. Memaca biasanya dilakukan oleh Dalang Tembang Macapat.

Ketika melekan atau memaca itu, Ki Pujangga akan menyampaikan nasihat kepada ibu hamil dan suaminya, yang bersumber dari ceritera “Nyi Murtasiyah” yang berbentuk puisi. Cerita itu antara lain memuat nasihat kepada istri yang sedang mengandung agar selalu patuh kepada suami dan bersabar merasakan beratnya kandungan, bersabar menahan kelainan-kelainan tubuhnya yang sekarang sudah berbadan dua. Ki Pujangga juga mengingatkan (ngertawara) sang suami agar mengetahui dan menghayati betapa sakitnya si istri dengan perut yang buncit itu, yang beberapa saat lagi akan melahirkan, “sewu lara dadi siji” (seribu rasa sakit menjadi satu), suatu perjuangan yang maha berat, yang menentukan antara hidup dan mati. Pepatah Cirebon mengatakan, istri yang sedang mengandung dan pada saatnya akan melahirkan itu kaya ungkang-ungkang luat, bagaikan duduk berjuntai di atas liang kubur, berhadapan dengan  “Lawang si Akherat”, yakni pintu pulang menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam hal ini diingatkan kepada suami agar lebih mengasihi istrinya sebagaimana sudah diperingatkan dan dinasehatkan oleh para sesepuh.

Keesokan harinya, kesibukan sudah berdenyut sejak dini hari. Pada upacara ini yang diundang adalah kyai, kerabat, handai tolan, para tetangga, orang tua-tua dan undangan lainnya. Persiapan upacara harus sudah disiapkan, seperti :

  1. Tempat mandi yang tadi malam telah dijaga semalam suntuk oleh paman ibu hamil atau paman sang suami, sekarang mulai ditata;
  2. Di dalam cungkuk tempat mandi ditempatkan dua kursi untuk duduk ibu hamil dan suaminya;
  3. Tempayan yang berisi air bunga dan diberi tambahan air kidungan tadi malam, juga disediakan gayung penyibak air;
  4. Blotong atau periuk besar yang berisi air bunga dan tujuh macam daun-daunan, uang logam sebanyak satu suku atau tiga ratus lima puluh rupiah, disiapkan;
  5. Kelapa gading yang sudah digambar wayang atau gambar Islami, tulisan huruf Jawa, Latin dan Arab serta tujuh kain untuk pesalin;
  6. Hidangan untuk hajatan sudah ditata, sebelah ujungnya ditaruh tumpeng dan bekakak ayam.

Setelah kesemuanya diatur dan ditata, semua hadirin sudah siap, maka dimulailah upacara ini. Pertama, tokoh agama atau kyai membacakan doa, dan diamini oleh semua yang hadir. Selanjutnya pembacaan kidung oleh bujangga (juru kidung). Kidung yang biasa dinyanyikan pada waktu hajat nujuh bulan adalah :

  1. Kidung “Tangis kinjeng”
  2. Kidung “Waringin Sungsang” pupuh Dangdanggula
  3. Kidung “Rumaksa ing wengi “ pupuh Dangdanggula
  4. Kidung “Sarah Sawan” pupuh Kinanti
  5. Kidung “Sesinggah” pupuh Pengkur
  6. Kidung “Tolak bala para lelembut atau mahkluk halus” pupuh Kasmarandana.

Selesai membaca doa dan kidung, hadirin makan bersama dan masing-masing dibagi berekat (bingkisan makanan). Berekat itu berisi satu bungkus nasi, satu takir limas dari daun pisang yang diisi lauk pauk, pontang limas dari daun kelapa (nyiur) yang diisi dengan bermacam-macam kue seperti: lapis, dodol, juwada pasar, wajit, pipis, bugis, koci, pipis sempora, apem, apem pasung, opak, rangginang, pisang, rujak kanistren yang diwadahi cuwo yaitu cobek kecil atau mangkok kecil yang dibuat dari tanah, pisau kecil, gunting kecil. Berekat itu kemudian diikat dengan daun kelapa atau lazim pula diwadahi dengan tempat nasi dari plastik atau kantong plastik. Selesai hajatan semuanya pulang, yang tertinggal hanya orang tua-tua yang akan memandikan ibu hamil dan suaminya.

Upacara mandi air bunga pada tahapan ini dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 7 pagi setelah malam harinya diadakan melekan dengan mendatangkan Dalang Tembang Macapat. Ibu hamil dan suaminya sudah duduk di kursi yang telah disediakan dan di pangkuan yang hamil ditaruh kelapa gading yang digambar tadi. Yang mula-mula menyirami ialah orang yang tertua yaitu nenek lelaki atau perempuan, atau orang yang dutuakan dengan uacapan-ucapan atau mendoakan:

Sing mulus mujur, sing slamet-slamet, sing waktune lahiran sing gampang-gangsar, bibite slamet anake slamet, slamet waluya jati, jati tumekaning waluya”.

Sesudah disirami atau diguyur, kelapa gading di pangkuan ibu hamil itu kemudian diambil oleh orang tua perempuan dan ibu hamil disuruh berdiri. Selanjutnya kelapa gading tadi dimasukkan ke dalam kain yang dikenakan ibu hamil dan dijatuhkan ke tanah sebagai harapan agar proses persalinan ibu hamil berjalan mudah.

Setelah itu disusul oleh semua keluarga turut memandikan ibu hamil dan suaminya. Setelah selesai, biasanya air bunga yang masih ada di tempayan itu menjadi rebutan anak-anak, juga remaja putri untuk mendapatkan “tuah” air tersebut.

Suami ibu hamil dengan celana yang masih basah, segera mengambil blotong yang berisi air bunga, daun-daunan dan uang logam dibawanya lari menuju perempatan jalan. Di sana blotong itu dibanting sekuat tenaga hingga pecah berkeping-keping. Uang logam yang berserakan menjadi rebutan anak-anak yang sedari tadi bergerombol membuntutinya. Ibu hamil pun kemudian dibawa masuk ke dalam rumah dan disuruh salin kain panjang sebanyak tujuh kali.

Sampai di sini jalannya upacara nujuh bulan sudah dianggap selesai.

DONGANE WONG MEMITU

Allohuma, ya Allah, mugi ngraksa panjenengan datang si jabang selaminipun wonten lebet wetengane si biyang, mugi paring waras datang si jabang. Namung panjenengan Gusti ingkang saged maringi waras. Mboten wanten tamba, kejawi tamba saking Panjenengan, tamba ingkang mboten bade nilar penyakit. Ya Allah pangeran kaula. mugi maringi rupa datang si jabang, kelawan rupa kang bagus, kelawan rupa kang ayu, lan mugi Gusti maringi atinipun si jabang, kelawan ati kang percaya dateng Allah lan utusane.

Allahuma, ya Allah Pangeran kula, mugi ngedalaken si jabang mangke waktunipun lahir, kelawan gampil lan wilujeng. Wilujeng putra lan ibune.

Kula nuhun dumateng panjenengan ya Allah, mugi si jabang didadosaken lare kang wutuh, lare kang sampurna, lan nggadahi akal ingkang limpad, akal ingkang cerdas, ingkang alim, ingkang saged ngamalaken elmune.

Duh Pangeran kula, mugi paring panjang umur dumateng si jabang. Waras badane, bagus rupane, bagus budi pekertine, bakti ning ibu bapa, bakti ning Pangeran lan utusane, dadi pangayomane rayat kang miskin, migunane kanggo nusa, bangsa lan agama, lan dipun paringi ceta lisan, enak suwarane kanggo maca Qur’an, Hadis tilarane para leluhur kang adi luhung.

Allahuma ya Allah, mugi-mugi si jabang lan ibune, manggiha rahayu, tebih saking pancabaya, slamet waluya jati, jati temune waluya, cukup sandang pangan, papan, slamet saking dunyane temeka ning akherat benjang.

Amin ya robal alamin. Wal hamdulillahi robil alamin.”