Photo Photo Photo Photo
Selamat Datang di Website Resmi Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon

Dangdanggula, 13 Bait. Pupuh ini diawali oleh kalimat Bismillahi rakhman nirakhim. menceritakan lolosnya Walangsungsang putra Prabu Siliwangi, Raja Padjajaran, yang berkeinginan mencari agama Nabi Muhammad

Perjalanan hidup seorang individu dibedakan kedalam tingkatan-tingkatan tertentu, diantaranya adalah masa hamil, masa bayi, masa penyapihan, masa kanak-kanak, masa akil balig/remaja, masa sesudah menikah, masa tua, dan sebagainya.

Gallery Video

Kurs IDR
Kurs Jual Beli
sumber: KlikBCA.com
Whois Counter

Sunatan

Sunatan atau khitanan adalah salah satu upacara penting bagi masyarakat Cirebon. Slametan ini merupakan pentasbihan seorang anak lelaki menjadi seorang muslim. Oleh karena itu, sunatan biasa dilakukan ketika anak sudah mampu melapalkan dua kalimat syahadat, yakni sekitar umur 6 - 7 tahun. Kendati sunatan tentu menyakitkan, namun semua anak lelaki pada usia itu menantikannya. Keinginan sunat mungkin timbul karena ia berharap akan mendapat uang cecep yang banyak. Namun tidak jarang pula, hasrat itu timbul karena risih atas cemoohan teman-teman mainnya.

Pelaku utama sunatan adalah orang tua anak, tukang lulur (perempuan), dukun sunat (laki-laki), sesepuh perempuan, sanak keluarga, khususnya uwa atau paman. Sarana upacara yang pokok adalah kain sarung, topong (kopiah), sandal dan ayam bela sepemanggang yang belum macek. Sementara penganan yang dihidangkan ragamnya tak jauh berbeda dengan slametan lainnya. Sekarang, terutama di kawasan perkotaan,  pelakunya mulai berubah. Tukang lulur sudah jarang kelihatan. Dukun sunat pun demikian. Tugasnya sudah mulai diambil alih oleh mantri atau dokter.

Penentuan hari baik untuk pelaksanaan sunatan biasanya dilakukan dengan petungan. Dan masyarakat pedesaan umum melakukannya selepas panen. Yang penting, hari pelaksanaan sunat bukan pada bulan puasa dan harus berbeda dengan hari puput tali pusar. Menurut kepercayaan masyarakat Cirebon, pelaksanaan hari sunat bersamaan dengan hari puput tali pusar dapat mendatangkan celaka, misalnya pendarahan, pingsan berulang-ulang, dan kemalangan lainnya.

Setelah hari baik untuk sunat ditentukan, maka orang tua segera menyiapkan segala perlengkapan yang dibutuhkan. Dan si anak pun akan segera memberitahukan hari yang membahagiakannya itu kepada teman-temannya, kakek dan neneknya, paman dan bibinya, uwanya dan para tetangganya. Menimpali khabar itu, tidak jarang kerabat dekat si anak kemudian menjanjikan akan mengadakan kaul, misalnya akan “mendudukkan”  anak di atas kepala kerbau, kambing atau rusa.

Seminggu menjelang hari sunat kesibukan sudah dimulai. Tukang lulur akan datang untuk melumuri sekujur tubuh si anak dengan tepung beras. Luluran tepung beras dilakukan selama 4 hari berturut-turut. Pada hari ke-5 – 7 luluran diteruskan dengan tepung beras dicampur kunyit. Dalam rentang waktu seminggu itu, si anak dilarang melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan peredaran darah, seperti lari dan gerak fisik lain yang menguras tenaga. Si anak pun disuruh   membawa pisau tumpul untuk menolak kuntilanak, yang tujuan praktisnya adalah untuk meratakan lulur agar meresap ke pori-pori kulitnya. Lulur itu harus dipertahankan selama seharian.

Pada hari ke-7 si anak disuruh berendam dalam jambangan. Tak perlu merendam sekujur tubuhnya, cukup pantat dan kemaluannya saja. Ketika  berendam biasanya dia akan ditemani oleh teman-temannya, baik lelaki maupun perempuan, sambil berseru “huu…huu…huu…”. Seruan itu dilakukan terus menerus dan hanya berhenti ketika mereka diberi makan oleh orang tua pengantin sunat. Dua – tiga jam, setelah ujung kemaluannya menguncup,   pengantin sunat diijinkan beranjak dari jambangan. Paman atau uwa laki-laki dari pihak ayah kemudian akan memandikannya, mengguyurnya minimal dengan 7 ember air. Selesai mandi, si anak didandani dengan mengenakan kain sarung dan baju baru yang sudah disiapkan sejak jauh-jauh hari. Selain itu, paman atau uwanya akan mengenakan ikat kepala (milik paman atau uwaknya itu) hingga menutup mata. Pengantin sunat diangkat ke tempat tertentu yang sudah disiapkan, kemudian dipangku oleh paman atau uwanya. Jika di antara kerabat dekat si anak ada yang kaul, maka di bawah kursi yang diduduki pengantin sunat akan ditaruh kepala kerbau, kambing atau lainnya, sesuai dengan nadar yang bersangkutan. Tempat sunat ini biasanya “disekat” dengan tikar pandan atau pagar betis dan bukan dengan kain (berbeda dengan tempat memandikan mayat), sehingga tidak terlalu terbuka.

Sementara itu, dukun sunat telah siap dengan pisau sunat dan penjepit. Diawali dengan mengucapkan salawat, dukun sunat kemudian menuntun si anak mengikrarkan dua kalimat syahadat, dan selanjutnya kemaluan si anak pun disunat.

Tidak jauh dari tempat itu, ayam bela sudah disiapkan untuk dipotong. Bersamaan dengan lepasnya ikut (kuncup kemaluan anak), orang-orang berseru secara berbarengan : “belaaa….!”, dan ayam bela pun disembelih.  Seruan “bela”  merupakan simbolisasi tumbal bagi kesialan dan kemalangan  si anak. Ayam bela ini kemudian dipanggang namun tidak sampai matang benar.

Potongan kuncup kemaluan atau ikut si anak ini kemudian dikubur di comberan dan dijaga kerabat dekat atau teman-temannya. Ikut jangan sampai ada yang membakar atau dibubuhi cabe. Menurut kepercayaan, jika ikut “diapa-apakan”, maka akan berpengaruh pada kondisi kemaluan si anak, misalnya membiru atau lama sembuh.

Setelah disunat pengantin sunat kemudian dibawa ke tempat duduk khusus. Salah seorang sesepuh perempuan  segera memeluk dan menyusuinya. Selanjutnya para kerabat memberinya uang pengbubungah atau hadiah lain agar anak menghentikan tangisnya.  Teman-temannya pun akan memberi buwuh (hadiah) berupa uang, baju, kain sarung bahkan rokok, dengan harapan kelak akan dibalas saat si teman itu disunat.

Ketika sudah matang, bekakak ayam bela pun segera dihidangkan untuk disantap bersama-sama. Ayam panggang ini dibagi 2; separuh untuk pengantin sunat, sisanya untuk teman-temannya, terutama yang telah menemaninya saat berendam.   Ayam panggang ini merupakan daging santapan “penutup” karena setelah itu anak sunat tidak diperbolehkan memakan daging dan ikan hingga luka pada kemaluannya sembuh. Anak sunat hanya diijinkan makan dengan lauk uyah bawang, uyah sanga dan sayur bening. Labu pun dipantangkan. Selain itu, anak sunat tidak diperbolehkan banyak bergerak, mendekati gong, menginjak dubang (ludah orang nginang), ampas sirih dan susur. Kemana pun dia pergi harus membawa tepak laler untuk mengusir lalat yang selalu mengerubunginya dan mengenakan cengkalak agar kemaluannya tidak menempel pada kain sarung yang dikenakannya.

Setelah anak disunat kemudian dilaksanakan upacara sedekah atau walimathul khitan, bisa siang atau malam hari. Dalam upacara itu segenap kerabat dan tetangga berkumpul untuk memanjatkan doa selamat dan tolak bala dibawah pimpinan seorang ahli agama. Penganan yang disajikan pada umumnya sama dengan hajatan lainnya.

Upacara sunatan bisa berlangsung lebih dari sehari, prosesinya pun bisa lebih meriah, tergantung kemampuan ekonomi pemangkunya. Kalangan berpunya kerap mengarak dahulu pengantin sunat ke tempat keramat dan kuburan leluhur   sebelum disunat. Dalam arak-arakan itu, pengantin sunat ada yang digendong, ada yang naik kuda, burok atau tunggangan lainnya. Dulu pengantin sunat anak orang kaya atau kalangan bangsawan diarak dengan menunggang garuda mina (tandu berupa hewan imajiner, perpaduan  burung garuda dengan ikan) yang ekornya bersisik dan bersirip. Arak-arakan ini biasanya diiringi dengan rombongan musik, seperti genjring santri, yang memukul alat-alat musik sambil berjalan mundur, menghadap ke pengantin sunat. Pada setiap perempatan jalan mereka berhenti untuk untuk mempertontonkan kepiawaian mereka.

Keramaian pada siang itu berlanjut hingga malam hari. Hiburan yang biasa dipergelarkan pada masa dahulu adalah wayang kulit. Sekarang jenis hiburan yang dipergelarkan lebih beragam; bisa sandiwara tradisional, orkes melayu (dangdut), orkes gambus atau organ tunggal, lengkap dengan penyanyi dan penarinya.

Saat pergelaran kesenian itu berlangsung biasanya diadakan temoan. Pengantin sunat didudukkan pada sebuah kursi di dekat panggung, di sampingnya disediakan sebuah baskom besar. Sanak keluarga, tetangga dan undangan lainnya kemudian akan memberi uang pengbubungah.

Dalam Babad Sukapura II (Nina H. Lubis, 1998: 201-203) disebutkan, bahwa pada masa lalu seorang anak laki-laki disunat pada umur 7 - 8 atau jika sudah tamat (khatam) membaca al-Quran. Akan tetapi, ada juga yang baru disunat setelah berumur 12 tahun. Kemegahan slametan sunatan di kalangan  ningrat Sunda pun digambarkan dalam Babad Sukapura II sebagai berikut.

Ketika Raden Tanuwangsa (Wratanubaya), Bupati Sukapura (1835-1854), akan mengkhitankan cucunya, tindakan pertama yang dilakukannya adalah memberitahu para cutak (wedana) tentang rencananya itu. Setelah ada pemberitahuan ini, para pejabat bawahan bupati dan rakyat umum menyumbang segala keperluan, seperti lauk-pauk, sayur-mayur, buah-buahan, ternak dan kayu bakar. Bupati kemudian menyuruh dua orang Jawa mengantar surat kepada Sultan Kasepuhan dan Bupati Cirebon yang isinya menyatakan bahwa Bupati Sukapura (sekarang Tasikmalaya) bermaksud meminjam teledek (ronggeng) untuk memeriahkan pesta khitanan cucunya. Kedua orang itu diberi uang bekal dan 40.000 buah sarang burung untuk dijual di Cirebon dan hasil penjualan nantinya dibelanjakan untuk keperluan pesta. Sultan Sepuh ternyata mengabulkan permintaan itu dan ia mengutus seorang pamagersari (abdi kraton) membawa seperangkat pakaian sunat dilengkapi seorang juru rias dan teledek yang diminta. Bupati Sukapura juga mengirim surat kepada Bupati Ciamis untuk meminjam orang-orang yang ahli dalam permainan atau kesenian. Rupanya bupati ini bermaksud mengadakan pesta yang meriah karena yang dikhitan ini adalah anak putrinya yang menikah dengan Bupati Garut. Hari baik untuk khitanan sudah dihitung dan segala keperluan pesta sudah lengkap. Kemudian dipasang tarub untuk tempat pertunjukkan dan tamu-tamu. Juga dibangun ubrug yaitu semacam bangunan terbuat dari bilik (anyaman irisan bambu yang tipis) untuk tempat memasak, menyiapkan hidangan, dan lain-lain. Dibangun pula pajagalan (tempat memotong ternak), tempat candoli (wanita pengurus bahan makanan), tempat menyimpan beras, dan tempat mengkhitan anak (karena khitanan dilangsungkan di tempat terbuka). Menurut adat istiadat Sunda yang berlaku pada waktu itu, sebelum melakukan segala sesuatu  yang berkaitan dengan upacara harus disediakan sesajen yang terdiri dari bermacam-macam makanan yang akan dihidangkan dalam pesta. Acara dilajutkan dengan membaca jampi-jampi untuk memohon ijin kepada para leluhur, sambil membakar kemenyan. Pada hari yang sudah ditentukan, cucu bupati yang akan dikhitan itu dilulur (diberi bedak dingin) oleh juru rias, kemudian dimandikan dan dikenakan baju bagus. Si anak kemudian dibawa ziarah ke makam leluhur para Bupati Sukapura dengan membawa bunga rampai, kemenyan, kendi, dan sepotong kayu cendana yang dibungkus. Lima atau tujuh hari kemudian dimulai ngaleunggeuh yang maksudnya yaitu mengundang roh-roh halus dengan cara memukul-mukul lesung, angklung dan bunyi-bunyian lainnya, juga menembakkan senapan. Cara ini sekaligus untuk memberitahuan orang lain agar datang ke pesta karena pesta secara diam-diam saja dianggap tidak baik menurut adat. Anak yang akan disunat kemudian dibawa ke tempat lesung, kepalanya dipayungi. Selanjutnya si anak disuruh menumbuk padi empat atau lima kali tumbukan dengan didampingi orang-orang tua. Si anak kemudian dibawa ke kolam pemandian dan dimandikan dengan air bunga, air beras, dan air kembang kelapa. Selesai mandi, si anak ditaburi beras kuning bercampur uang logam di pintu masuk ke rumah. Uang tersebut diperebutkan anak-anak yang sedang menonton. Gigi si anak kemudian dipangur oleh dukun bayi. Cucu bupati yang akan disunat itu dirias oleh juru rias dari Cirebon, kemudian diusung di atas pelaminan berhias dan diarak keliling kota dengan diiringi permainan dan bunyi-bunyian. Pada malam harinya diadakan pesta yang meriah. Berbagai permainan dan kesenian dipergelarkan di alun-alun. Tamu-tamu Bupati Sukapura dan Garut, baik yang berasal dari kalangan menak maupun pejabat Belanda setempat hadir dalam pesta. Mereka ikut menikmati tayuban, menari dengan ronggeng pilihan dari Cirebon yang bernama Nyi Rara Pucuk, Nyi Dewi Melok, dan Nyi Bokar. Dalam pesta yang berlangsung semalam suntuk itu dihidangkan minuman keras, sehingga banyak menak yang mabuk. Sementara itu, si anak yang akan dikhitan dimanjakan oleh para orang tua. Jampi-jampi  pun dibacakan oleh para orang tua yang khusus menjaga si anak agar terhindar dari bencana. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali si anak dibawa berendam di pemandian, baru kemudian disunat oleh dukun sunat. Selesai disunat, para kaum dan kerabat memberikan hadiah uang kepada si anak. Tamu-tamu kemudian dijamu makan-minum dengan berbagai hidangan.

Bila seorang anak menak dikhitan, biasanya ia mendapat nama baru yang diambil dari nama leluhur yang tinggi derajatnya dan murah rejekinya. Pemberian nama biasanya dibawakan dengan nembang (menyanyi), sambil menasihati si anak dihadapan sanak saudaranya. (Bila si anak sudah khatam Quran, biasanya pesta semakin mendapat pujian dari khalayak). Anak kerabat dekat bupati kadang-kadang ada yang ikut dikhitan bersama anak bupati.

Selanjutnya diceritakan pula, bahwa selesai pesta Bupati Sukapura menyampaikan ucapan terima kasih kepada Sultan Kasepuhan berupa empat ekor kerbau. Para pegawai dan rakyat yang ikut sibuk membantu pesta mendapat hadiah berupa  pakaian yang jenisnya disesuaikan dengan jabatan masing-masing, disamping mendapat jamuan makan di kabupaten

 
English Chinese (Simplified) French Indonesian Japanese
Kepala Disporbudpar
hj.hayat.jpg