Photo Photo Photo Photo
Selamat Datang di Website Resmi Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon

Dangdanggula, 13 Bait. Pupuh ini diawali oleh kalimat Bismillahi rakhman nirakhim. menceritakan lolosnya Walangsungsang putra Prabu Siliwangi, Raja Padjajaran, yang berkeinginan mencari agama Nabi Muhammad

Perjalanan hidup seorang individu dibedakan kedalam tingkatan-tingkatan tertentu, diantaranya adalah masa hamil, masa bayi, masa penyapihan, masa kanak-kanak, masa akil balig/remaja, masa sesudah menikah, masa tua, dan sebagainya.

Gallery Video

Kurs IDR
Kurs Jual Beli
sumber: KlikBCA.com
Whois Counter

Upacara Siklus Kehamilan Dalam Tradisi Masyarakat Cirebon

Dalam konsepsi tradisional masyarakat Cirebon, siklus kehamilan berlangsung selama 10 bulan menurut perhitungan kalender Jawa. Pada tiap bulan si jabang maupun ibu yang mengandungnya memiliki watek (karakteristik) sendiri.

Kandungan umur 1 bulan dinamakan eka padma sari. Eka berarti satu, padma berarti kembang, dan sari berarti bau wangi. Artinya, meski masih berupa cairan, si jabang (janin) umur 1 bulan kandungan menyukai wangi-wangian. Maka, si ibu yang mengandungnya pun cenderung menginginkan wangi-wangian.

Kandungan umur 2 bulan dinamakan dwi tirta martani. Dwi berarti dua, tirta berarti air, martani berarti getih/darah. Artinya, janin masih berupa air dan darah (segumpal darah) yang baru mencari tempat  dalam kandungan. Gejalanya, ketika yuni (segumpal darah) naik ke atas, si ibu akan merasakan pusing-pusing. Ketika yuni bergerak ke bawah, si ibu akan merasakan mual-mual. Karena pergerakan inilah, si ibu sudah mulai merasakan ngidam. Slametan yang diselenggarakan pada kandungan umur 2 bulan adalah sedekah toya lahang (air aren). Doa yang dipanjatkan pada slametan ini ditujukan kepada Nabi Idris.

Kandungan umur 3 bulan dinamakan tri walagnyana. Tri berarti tiga, walagnyana berarti terkumpulnya angen-angen. Si jabang dalam kandungan sudah mulai bergerak-gerak. Oleh karenanya, si ibu pun sudah meyakini kehamilannya. Slametan yang diselenggarakan pada kandungan umur 3 bulan adalah sedekah tumpeng jeneng. Doa yang dipanjatkan pada slametan ditujukan kepada Nabi Nuh AS.

Kandungan umur 4 bulan dinamakan catur candra kirana. Catur berarti empat, candra berarti bulan dan kirana berarti tulis. Si ibu dengan kandungan umur 4 bulan sudah yakin sedang mengandung. Slametan yang diselenggarakan pada kandungan umur 4 bulan adalah sedekah kupat lepet (ketupat beras ketan). Doa yang dipanjatkan pada slametan ini ditujukan kepada Nabi Ibrohim AS.

Kandungan umur 5 bulan dinamakan panca sura pagu. Panca berarti lima, sura berarti berani, dan pagu berarti kuat. Si ibu dengan kandungan umur 5 bulan cenderung tidak sabaran, segalanya ingin cepat diselesaikan dan mudah marah. Jadi, sang suami harus tanggap terhadap kemauan istrinya, karena sikap istrinya itu merupakan pembawaan si jabang. Slametan yang diselenggarakan pada kandungan umur 5 bulan adalah sedekah ketan punar (nasi kuning dari beras ketan yang diberi enten atau kelapa parut yang dimasak dengan gula merah). Doa yang dipanjatkan pada slametan ini ditujukan kepada Nabi Ismail AS.

Kandungan umur 6 bulan dinamakan sad guna wanara. Sad berarti enam, guna berarti pintu, dan wanara adalah nama bintang / kera. Si ibu dengan kandungan umur 6 bulan cenderung banyak maunya, dan segala permintaannya harus selalu dituruti. Kecenderungan ini merupakan akibat  pembawaan si jabang yang bertambah pintar karena telah mendapat roh. Slametan yang diselenggarakan pada kandungan umur 6 bulan adalah sedekah apem domba (serabi ambon). Doa yang dipanjatkan pada slametan ini ditujukan kepada Nabi Musa AS.

Kandungan umur 7 bulan dinamakan sapta kokila weka. Sapta berarti tujuh, kokila adalah nama burung, dan weka (paweweh) berarti suka memberi. Si ibu dengan kandungan umur 7 bulan cenderung banyak ngomong seperti burung ketilang/beo dan sangat menyukai buah-buahan. Kemauannya pun sering aneh-aneh, seperti minta makan rujak di pagi hari, minta buah-buahan yang tak lajim, dan sebagainya. Slametan yang diselenggarakan pada kandungan umur 7 bulan adalah sedekah rerujakan. Doa yang dipanjatkan pada slametan ini ditujukan kepada Nabi Dawud AS.

Kandungan umur 8 bulan dinamakan asta kuda manyura. Asta berarti delapan, kuda adalah kuda joget (ronggeng), dan manyura adalah burung merak. Si ibu dengan kandungan umur 8 bulan cenderung suka bersolek, dandan, memperlihatkan kecantikannya, seperti kuda atau burung merak. Slametan yang diselenggarakan pada kandungan umur 8 bulan adalah sedekah bubur lolos. Doa yang dipanjatkan pada slametan ini ditujukan kepada Nabi Sulaeman AS.

Kandungan umur 9 bulan dinamakan nawa abdi linuwih. Nawa berarti sembilan, abdi berarti kawula, dan linuwih adalah ratu (pimpinan). Si jabang pada kandungan umur 9 bulan sering menguak lawang si koari (alat kelamin ibu). Kondisi ini mendorong si ibu  tak mau diatur suami, dan suami harus tunduk pada kemauan istri. Slametan yang diselenggarakan pada kandungan umur 9 bulan adalah sedekah minyak. Doa yang dipanjatkan pada slametan ini ditujukan kepada Nabi Isa AS.

Kandungan umur 10 bulan dinamakan dasa kurnapa toya. Dasa berarti sepuluh, kurnapa berarti bangkai, dan toya adalah air. Si ibu dengan kandungan umur 10 bulan tampak gelimpang-gelimpung seperti bangkai di atas air, pasrah kepada yang menggerakkan. Si ibu tampak tidak bertenaga. Oleh karena itu, si ibu dengan kandungan umur 10 bulan disebut pula dasa (sepuluh) krama (jodo, gede) gopita (pati/ajal) atau dekat dengan kematian.

Dalam kasus tertentu, dan ini jarang terjadi, usia kehamilan ada pula yang mencapai 12 bulan atau ngebo (hamil kerbau). Jika sampai terjadi, maka mereka akan melakukan slametan nyuket. Pada acara ini si ibu hamil disuruh merangkak diam seperti kerbau berdiri, lehernya dililit dengan selendang dan ujungnya diikatkan pada kaki ranjang kemudian disuruh makan rumput. Jika sebelum upacara nyuket terjadi gerhana, maka punggung ibu hamil ditaburi abu dapur. Ibu hamil akan diusahakan melahirkan pada umur kandungan itu, jangan sampai umur kandungan mencapai 13 bulan karena dipercaya akan mendatangkan sial.

Pada masa lalu dalam penyelenggaraan upacara-upacara tersebut, permohonan atau doa kepada Penguasa Jagat biasanya disampaikan dengan kekidungan. Kidung adalah doa dan kemudian berkembang menjadi tembang atau macapat (maca papat-papat) yang biasa disebut juga sekar.  Bentuk syairnya masih berupa prosa bebas, seperti “hong, aum awignam astu, ..... “ dan seterusnya. Setelah dikemas oleh Sultan Agung dan direvisi oleh para wali, bentuk tembang Islami baru nampak jelas dengan judul lagu-lagunya (pupuh). Misalnya, pupuh kinanti, dhangdhanggula, sinom, kasmaran (asmarandana), dan lain-lain. Kidung yang masih kerap terdengar hingga sekarang adalah sekar alit. Syairnya biasanya bertemakan hal-ihwal siklus hidup manusia sejak dari kandungan hingga menemui ajal.  Bentuk kidung-kidungnya adalah :

  1. maskumambang, tema syairnya berisi keraguan, apakah janin dalam kandungan ibu berkelamin laki-laki atau perempuan.
  2. mijil, tema syairnya berkisar pada proses kelahiran.
  3. kinanti, tema syairnya berisi masalah pendidikan anak, baik secara formal maupun pendidikan yang melibatkan lingkungannya.
  4. sinom, tema syairnya berkisar pada kehidupan remaja yang mulai mengenal asmara (katresnan).
  5. asmarandhana, tema syairnya berkisar pada kehidupan asmara antar laki-laki dan perempuan dengan ragam permasalannya.
  6. dhangdhanggula, tema syairnya bertutur tentang upaya mencari ilmu, belajar agama, kehidupan rumah tangga, dan sebagainya untuk bekal hidup di dunia dan akhirat.
  7. durma, tema syairnya berkisar pada keraguan dalam kehidupan beragama (keyakinan).
  8. gambuh, yang berati uga iya uga embuh, tema syairnya berisi tentang kondisi lingkungan yang kerap mengecoh.
  9. pangkur, tema syairnya berkisar pada godaan-godaan setan yang berusaha menggoyahkan iman, sehingga manusia menjadi nyimpang dan mungkur (membelakangi).
  10. megatruk, tema syairnya berisi akhir perjalanan hidup manusia ketika menghadap Sang Pencipta.
  11. pupung atau pocong, tema syairnya tentang kematian manusia.

Setiap fase kehidupan si jabang dalam kandungan, mulai umur 1 sampai dengan 9 atau 10 bulan, selalu disertai dengan slametan. Sekarang, pada umumnya masyarakat melakukan slametan hanya untuk kandungan umur 4 bulan yang disebut ngupati atau nyipati dan 7 bulan yang disebut nujuh bulan, memitu atau ngrujaki. Slametan-slametan ini diselenggarakan dengan harapan, bahwa anak yang masih di dalam kandungan itu kelak, ketika menjadi penghuni alam padang, menjadi anak yang sempurna, baik fisik maupun bathinnya, menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, agama, negara dan masyarakat. Diperkirakan, upacara-upacara tradisional ini telah dipraktekkan sejak jaman Majapahit, berupa upacara pemujaan terhadap arwah nenek moyang dan Dewata Agung. Penyebar agama Islam yang datang dan berkembang kemudian tidak menghilangkan upacara ini, melainkan  memodifikasinya dengan ajaran-ajaran Islam.

 
English Chinese (Simplified) French Indonesian Japanese
Kepala Disporbudpar
hj.hayat.jpg