Selamat Datang di Website Resmi Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon

Dangdanggula, 13 Bait. Pupuh ini diawali oleh kalimat Bismillahi rakhman nirakhim. menceritakan lolosnya Walangsungsang putra Prabu Siliwangi, Raja Padjajaran, yang berkeinginan mencari agama Nabi Muhammad

Perjalanan hidup seorang individu dibedakan kedalam tingkatan-tingkatan tertentu, diantaranya adalah masa hamil, masa bayi, masa penyapihan, masa kanak-kanak, masa akil balig/remaja, masa sesudah menikah, masa tua, dan sebagainya.

Kepala Disporbudpar

kadis_dana.jpg

Gallery Video

MASRES DAN PERKEMBANGANNYA

Sebelum masyarakat Cirebon mengenal seni Masres, awalnya mereka lebih mengenal pertunjukkan Seni Reog Cirebon sebagai cikal bakal seni Masres. Kemudian sebagai akibat dari pengaruh sandiwara dengan mempergunakan layar dari bahan... Read more

TEATER TRADISIONAL SEBAGAI SUMBER PENCIP

Apakah bentuk kesenian yang baru harus jelas sumbernya? apakah sesuatu yang baru harus senantiasa bersumber dari yang telah lama ada? Dua pertanyaan di atas, kalau dijawab dalam konteks kreativitas berkesenian, akan... Read more

KEBANGKITAN SENI MODERN LAHAN PARIWISATA

Sekelumit perenungan tentang dunia kepariwisataan di dalam mempersiapkan aset atau potensi kepariwisataan yang ada di daerahnya masing-masing, lewat rumusan atau konsep pengkemasan dan promosi yang gencar, masih terus bergelut dengan... Read more

DILEMATIK POLA PEWARISAN SENI TRADISIONA

Punah, barangkali kalimat punah merupakan kalimat yang demikian akrab dan kental jika diarahkan terhadap keberadaan seni tradisi yang pernah hidup dan berkembang di negeri ini. Begitu pentingkah kata-kata punah untuk... Read more

“ BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERS

(Keadaan seni pertunjukan dewasa ini tidaklah dapat dikatakan menggembirakan. Di satu fihak, seni-seni etnik tradisional yang bermutu tinggi mengalami kemunduran bahkan kemusnahan. Di fihak lain seni-seni pertunjukan baru belum mendapat... Read more

Kultur Budaya

Dalam percakapan sehari-hari, konsep kebudayaan sering diartikan secara sempit sebagai sesuatu hasil karya manusia yang berbau keindahan, seperti kesusasteraan, berbagai ragam dan bentuk kesenian dan upacara adat serta bermacam-macam benda... Read more

Tarling

Tarling

Kesenian yang kemudian dikenal dengan nama Tarling,  pada awalnya hanya berupa permainan anak-anak muda di kala melepas lelah setelah seharian bekerja. Saat itu, pada masa akhir pendudukan Jepang dan memasuki... Read more

Topeng

Topeng

Topeng Cirebon, demikian sebutan yang dikenal di Jawa Barat, adalah salah satu genre tari yang berkembang di daerah pantai utara Jawa Barat, dari Cirebon sampai ke Banten. Genre tari ini... Read more

Kultur Budaya

Dalam percakapan sehari-hari, konsep kebudayaan sering diartikan secara sempit sebagai sesuatu hasil karya manusia yang berbau keindahan, seperti kesusasteraan, berbagai ragam dan bentuk kesenian dan upacara adat serta bermacam-macam benda dan artefak kuno, yang biasa disebut warisan budaya (cultural heritage). Kedua, kebudayaan diartikan secara luas, yang meliputi keseluruhan aspek kehidupan yang kompleks, termasuk di dalamnya sistem pengetahuan, kepercayaan, kesenian, sistem moral, sistem hukum, adat kebiasaan, dan segala kemampuan yang dimiliki manusia sebagai suatu anggota masyarakat.

Kedua pemahaman ini dapat menimbulkan implikasi yang berbeda dalam pengembangan kebudayaan sebagai sumberdaya pariwisata. Dengan mengartikan kebudayaan sebagai warisan budaya, maka peran kebudayaan dan masyarakat pendukungnya dalam pengembangan pariwisata cenderung dipandang sebagai daya tarik wisata; masyarakat dan kebudayaan lebih berfungsi sebagai “komoditas” bagi kepentingan pariwisata. Sementara jika diartikan secara luas, maka masyarakat pendukung suatu kebudayaan tidak lagi hanya sebagai tontonan wisatawan, tetapi semakin aktif mengambil peran-peran yang lebih berarti dalam pembangunan pariwisata. Namun demikian, dalam perkembangannya, penyelenggaraan kegiatan cultural heritage tourism ternyata tidak melulu memerlakukan kebudayaan dan masyarakat pendukungnya secara pasif. Demi keberlanjutan kegiatan pariwisata itu sendiri, pendekatan pembangunan melalui pemberdayaan dan peningkatan partisipasi masyarakat mulai menjadi alternatif dalam pembangunan pariwisata.

Daya tarik wisata warisan budaya dapat dibedakan kedalam unsur yang abstrak dan yang konkrit, yang dalam prakteknya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Warisan budaya yang konkrit merujuk pada bukti-bukti fisik kreativitas dan aktivitas manusia, seperti artefak, monumen, bangunan bersejarah, situs-situs, kota, dan landscape. Sementara warisan budaya yang bersifat abstrak merujuk pada cerita rakyat, tradisi, sejarah dan identitas suatu bangsa, misalnya upacara Nadran, Panjang Jimat, Sedekah Bumi, Barikan, Festival Keraton, dan acara-acara kebudayaan.

Dengan demikian, untuk mengembangkan warisan budaya menjadi objek/daya tarik wisata, kita harus memerhatikan beberapa signifikansi yang dikandungnya, yaitu nilai estetika, nilai sejarah, nilai keilmuan, nilai sosial, kelangkaan dan superlativitas (tertua, terpanjang, tertinggi, dan ter-ter lainnya). Karena wisata warisan budaya bersifat informatif, menekankan pada keaslian bentuk dan bahan, berorientasi masyarakat, sebagai laboratorium penelitian, perlindungan dan pemeliharaan, maka dalam pengembangan kegiatan wisata ini, warisan budaya tidak “dijual” sebagaimana adanya, melainkan harus didukung dengan fasilitas interpretasi, fasilitas penelitian, fasilitas pemeliharaan dan pelestarian serta dikelola dengan baik.

Warisan Budaya Cirebon

Dalam Babad Cerbon disebutkan, bahwa Cirebon merupakan kota yang telah terbentuk sejak abad ke-15. Dari sebuah desa nelayan yang tak begitu bermakna, Cirebon berkembang secara bertahap, dan pada abad ke-16 kota ini telah tumbuh menjadi ibukota kerajaan merdeka yang dilengkapi dengan keraton, mesjid, alun-alun, pasar, jaringan jalan darat dan air, pelabuhan, benteng yang melindungi areal sekitar 50 Ha, dan taman kerajaan yang dibangun pada dua abad kemudian (Singgih Tri Sulistiyono, 1994; Adriani Adisijanti, 2000). Kesibukan penduduk pada masa itu tidak lagi melulu memproduksi dan memerjualbelikan hasil laut, tetapi juga komoditi pertanian. Selain itu, mereka juga memproduksi dan memerjualbelikan bahan olahan dan barang-barang kerajinan berbahan tanah, keramik dan logam, serta telah terintegrasi dalam perdagangan antar negara.

Seiring dengan perkembangan kota, imigran Cina, Arab/Persia, India, Sunda, Jawa dan etnis lain kian bertambah, maka komposisi penduduk kota pun kian majemuk. Namun demikian, karena Kesultanan Cirebon - meski didirikan untuk menunjang syiar Islam- toleran terhadap kemajemukan ini, maka orang-orang Tionghoa dan etnis-etnis lain pun dapat melanjutkan gaya hidup yang telah mereka warisi. Bahkan interaksi yang intensif diantara mereka telah memberikan corak kemajemukan “tersendiri”.

Memasuki paruh ketiga abad ke-17, krisis mulai menjelang. Disharmoni antara Cirebon dengan Banten dan Mataram menimbulkan pembagian Cirebon menjadi Kesultanan Kanoman, Kasepuhan dan dua abad berikutnya lahir Keraton Kacirebonan. Pada abad ke-17 pula, Cirebon mulai bersinggungan dengan kepentingan bangsa-bangsa Eropa, yang kemudian diikuti depolitisasi dan demiliterisasi kesultanan-kesultanan di Cirebon. Bangsa-bangsa Eropa ini mulai menanamkan pengaruh, bahkan kemudian mengendalikan denyut kehidupan ekonomi politik. Dalam pengendalian bangsa Eropa, pada satu pihak, Cirebon semakin giat mengembangkan agroindustri, perdagangan internasional dan liberalisasi ekonomi, sehingga pada awal abad ke-20 Cirebon telah berkembang menjadi kota pelabuhan terbesar ke-4 di Pulau Jawa, setelah Jakarta, Surabaya dan Semarang. Dan pada tahun 1906 Cirebon ditetapkan sebagai kota praja. Pada pihak lain, determinisme (bangsa Eropa) tersebut telah menggerogoti peran keraton sebagai pusat kebudayaan dan syiar agama.

Perjalanan sejarah yang panjang itu telah memungkinkan Cirebon memiliki warisan budaya yang kaya dan beragam. Kemajemukan dan perjalanan hidup kota tua ini dapat ditelusuri dari peninggalan sejarah dan purbakala, kain batik, seni boga, seni pertunjukan, seni rupa dan arsitektur. Kebudayaan materi ini merupakan pengejawantahan ketika Hindu-Buddha memengaruhi kehidupan masyarakat; ketika Islam tumbuh dan berkembang; ketika imigran Cina, Arab dan India membentuk komunitas dan berinteraksi dengan warga kota lainnya; ketika orang-orang Eropa menanamkan pengaruh dan mengendalikan denyut kehidupan kota; dan ketika warga kota sebagai warga bangsa memerjuangkan dan menjalani alam kemerdekaan. Selain kebudayaan materi, kemajemukan ini nampak pada bahasa dan sastra serta sistem kepercayaan (kehidupan keagamaan). Meski merupakan salah satu pusat syiar Islam, selain muludan, masyarakat Cirebon juga menyelenggarakan upacara adat nadran, ngunjung, sedekah bumi, dan sebagainya.

Warisan budaya ini tidak hanya bermakna secara sosio-kultural bagi warga kota, tetapi juga merupakan daya tarik yang dapat dikembangkan menjadi cultural heritage tourism.

Pengelolaan Warisan Budaya Cirebon

Pemerintah Kota Cirebon menyadari akan kekayaan asset budaya ini. Salah satu implementasinya adalah penetapan Surat Keputusan Walikota Cirebon No. 19 tahun 2001 tentang Perlindungan Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya di Kota Cirebon. Sementara untuk memelihara gairah kehidupan spiritual (kesenian dan upacara adat), selain mendokumentasi, Pemerintah Kota juga berusaha memberikan fasilitasi kepada organisasi-organisasi kesenian, khususnya penggiat kesenian tradisional. Hampir setiap tahun pemerintah mengalokasikan bantuan dana stimulan dan melibatkan mereka pada event-event pameran dan pergelaran kesenian. Sementara untuk kepentingan pewarisan, “agen-agen” kebudayaan (misalnya, guru) dan kalangan generasi muda dilibatkan dalam pelatihan kesenian, bahasa dan sastra Cirebon.

Namun demikian, pelaksanaan ketentuan dan pengelolaan benda cagar budaya ini tidak semudah seperti yang diharapkan. Kendati telah berusaha mengendalikan dan mengawasi situs dan benda cagar budaya, kita juga dihadapkan pada masalah keterbatasan dan kelangkaan sumberdaya lahan serta dinamika ekonomi masyarakat. Di samping itu, karena keterbatasan dana, maka kegiatan pemeliharaan pun belum dapat mengatasi proses degradasi warisan budaya material itu.

Begitu pula dalam pengelolaan kehidupan berkesenian. Kemajuan industri hiburan ternyata berdampak negatif terhadap eksistensi seni tradisi, sehingga fasilitasi yang diberikan seperti kurang begitu berarti. Organisasi seni pertunjukan yang masih eksis pun tidak seluruhnya dapat menggelar “kreativitas” mereka secara berkala, yang dapat dinikmati kapan saja. Selain itu, mereka pun cenderung gamang “menghadirkan” seni tradisi pada situasi kekinian. Hal yang sama terjadi pula pada organisasi seni rupa/kriya. Hanya beberapa “pengrajin” saja yang nampak berkembang, bahkan ada yang kewalahan memenuhi permintaan pasar.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa memelihara kekayaan warisan budaya dan pemanfaatannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan pariwisata perlu pengelolaan yang komprehensif dan sungguh-sungguh, dengan keterlibatan pihak pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat dan dunia usaha secara sinergis dan berkelanjutan. Beberapa permasalahan dalam pengelolaan kebudayaan dapat diidentifikasi sebagai berikut :

  1. Warisan budaya material belum ditata dengan baik. Pengelolaannya (termasuk pemasaran) cenderung parsial. Begitu pula sistem gagasan, upacara-upacara tradisional dan kesenian masih banyak yang belum dikemas dengan baik dan dikembangkan lebih lanjut;
  2. Hubungan antara instansi pemerintah dengan swasta dalam pengelolaan warisan budaya kurang terjalin dengan baik, sehingga hubungan diantara mereka lebih bersifat etis ketimbang kontraktual;
  3. Hubungan antara instansi pemerintah, swasta dan masyarakat dalam pelestarian dan pengembangan warisan budaya kurang sinergis, sehingga pengelolaan (pemeliharaan dan pemanfaatan) warisan  budaya kurang optimal;
  4. Manajemen dan keterampilan pengrajin cinderamata masih terbatas, sehingga belum dapat memanfaatkan potensi pasar secara optimal dengan harga yang kompetitif;
  5. Pengetahuan, keterampilan dan apresiasi masyarakat serta aparat  terhadap kebudayaan cenderung terbatas, sehingga warisan budaya belum dimanfaatkan sebagaimana mestinya;

Persepsi masyarakat tentang kebudayaan, khususnya seni tradisi dan upacara tradisional, cenderung beragam bahkan “bertentangan”. Sementara kalangan menganggap seni tradisi dan upacara tradisional sebagai “jimat”. Kalangan lain menganggapnya sebagai asset yang perlu dikembangkan dan dimanfaatkan. Namun, ada pula kalangan yang menganggap seni tradisi dan upacara tradisional sebagai karya budaya yang berbau syirik, sehingga perlu ditinggalkan.