Photo Photo Photo Photo
Selamat Datang di Website Resmi Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon

Dangdanggula, 13 Bait. Pupuh ini diawali oleh kalimat Bismillahi rakhman nirakhim. menceritakan lolosnya Walangsungsang putra Prabu Siliwangi, Raja Padjajaran, yang berkeinginan mencari agama Nabi Muhammad

Perjalanan hidup seorang individu dibedakan kedalam tingkatan-tingkatan tertentu, diantaranya adalah masa hamil, masa bayi, masa penyapihan, masa kanak-kanak, masa akil balig/remaja, masa sesudah menikah, masa tua, dan sebagainya.

Gallery Video

Kurs IDR
Kurs Jual Beli
sumber: KlikBCA.com
Whois Counter

Terasi Cirebon

Diceritakan dahulu kala Pangeran Walangsungsang / Cakrabumi, istrinya Indangayu dan adiknya Dewi Rarasantang pergi ke kebon pesisir Lemahwungkuk dan menemukan sebuah rumah Kaki Tua yang bernama Ki Gedeng Alang Alang. Walangsungsang / Cakrabumi / Somadullah beserta istri dan adiknya beristirahat disana. Dan setelah datang waktunya, pada pagi hari Ahad walangsungsang / Cakrabumi / Somadullah memasuki hutan rwa belukar menebangi pepohonan besar dan kecil tiap hari. Hutan yang sudah lapang ia tanami palawija membanun perkebunan. Kaki Tua yang melihat hutan sudah menjadi perkebunan dengan tanaman palawija sangat senang sekali. Cakrabuana lalu disuruh menangkap ikan dan rebon, ia idberi jala, alat penangkap ikan dan perahu kecil. Tiap malam ia pergi menangkap ikan dan rebon (ebi).


Rajagaluh mengadakan pertemuan dengan pejabat-pejabat pemerintahan, seluruh para Bupati, Sentana mantra dan Gegedeng sudah berkumpul. Sang Prabu segera memanggil Ki Dipati Palimanan, Gedeng Kiban namanya. Sang Prabu berkata, “Hai Di Palimanan sekarang bawahan engkau, tanah pantai yang jadi pemukiman, banyak orang yang berkebun dan ada nelayan yang menangkap ikan dan rebon, aku lebih terasih kepada tumbukan ikan rebon, agar periksa sampai jelas dan ditetapkan pajak bagi nelayan rebon itu dalam setahun sepikul bubukan rebon yang sudah halus gelondongan.”


Ki Dipati mengucap sandika (siap menjalankan perintah), segera meninggalkan ruang sidang, memanggil tujuh orang mantri (ponggawa pepitu) dan mereka sudah menghadap kepadanya. Ki Dipati berkata, “Hai ponggawa pepitu, sekarang periksalah dukuh baru di pinggir pantai, ada berapa orangnya dan nelayan penangkap ikan rebon seyogyanya diberi ketetapan pajak tiap tahun sepikul bubukan rebon yang sudah halus gelondongan. Harap diperikasa dengan jelas, karena Sang Prabu terasih sekali kepada bubukan rebon yang sudah gelondongan.”


Ki Mantri pepitu mengucap sandika. Segera menghindar dari hadapannya, mereka terus berjalan menuju ke pantai.
Diceritakan Cakrabumi bersama sang istri dan sang adki sedang menumbuk rebon di lumping batu dengan hulu batu. Orang yang mengkulak rebon berebut saling mendahului, berdesak-desak sambil berceloteh “Oga age, geura age, geura bebek (cepat-cepatlah ditumbuk)!” jadi mashur pedukuhan baru itu disebut nama Grage. Tidak lama kemudian datanglah utusan Palimanan Mantri pepitu memeriksa pemukiman itu, sudah ada 346 orang, Ki Cakrabumi sudah bertemu dihadapan mereka. Berkata jubir Mantri pepitu, “Hai tukang penangkap rebon, oleh perintah Sang Prabu engkau diharuskan mengirim pajak tiap-tiap tahun satu pikul bubukan rebon gelondongan, karena Sang Prabu terasih sekali dan minta kejelasan bagaimana membikin terasi itu.”


Cakrabumi mengucap sandika. Adapun menangkapnya dengan jala tiap malam, diambilnya pagi-pagi. Rebon lalu diuyahi (digaremi) lalu diperas, dijemur, setelah kering lalu ditumbuk digelondongi. Adapun air perassannya dimasak dengan diberi bumbu-bumbu. Masakan perasan air rebon lebih enak, diberi nama petis blendrang.” Ki Mantri berkata, “Coba ingin tahu rasanya cai (air) rebon itu.” Cakrabumi segera menyuruh istrinya memasak air perasan rebon. Setelah masak lalu dihidangkan kepada Ki Mantri pepitu. Mereka lalu makan bersama dengan lauk pauk petis blendrang sambil saling berkata, bahwa cai (air) rebon lebih enak ketimbang gragenya (terasinya). Karena Ki Mantri pepitu mengumumkan kepada rakyat pemukiman/dedukuh baru itu, memberi nama Dukuh Cirebon, kala waktu tahun 1447 M.
Kata terasi diambil dari kata terasih, karena kala waktu itu Prabu Rajagaluh sangat terasih (menyukai) bubukan rebon yang sudah halus gelondongan.Makannya sejak saat itu bubukan rebon itu dinamakan terasi

 

Cinderamata

Di sudut Taman Gua Sunyaragi Kota Cirebon, berjejer kios yang menawarkan pernak-pernik berbagai aksesori sebagai kenang-kenangan bagi pengunjung. Cendera mata yang ditawarkan itu terdiri dari lukisan kaca mini, bandul kunci berupa topeng kecil, kerajinan wanita gelang akar, serta pernak-pernik lainnya begitu mengundang perhatian pengunjung situs purbakala tersebut.

Salah satu kerajinan berlabel Sanggar Alam Sunyaragi cukup mengundang perhatian. Para pemuda banyak menciptakan karya seni di sanggar berukuran 6 x 9 meter ini untuk memenuhi permintaan konsumen yang datang dari berbagai daerah. Di antaranya ada yang mengerjakan ukir topeng kecil khas Cirebon terbuat dari kayu. Mereka juga mengerjakan banyak ciri khas seni Cirebon lainnya seperti gapura yang terbuat dari kepingan kaca. “Kedua kerajinan ini cukup diminati para pengunjung, terutama dari kalangan pelajar,” tutur pimpinan Sanggar Alam Sunyaragi, Dian (34). Sanggar yang didirikannya melibatkan lima orang pekerja, sebagian merupakan anak putus sekolah.

 

Lukisan Kaca

SENI tradisi melukis dengan media kaca sebenarnya sudah berkembang beberapa abad yang lalu dan mengalami pasang surut hingga kemudian para senimannya menemukan beberapa gaya gambar kaca yang khas.

Konon, lukisan kaca ini berasal dari Cina yang dibawa oleh para pedagang ke Wilayah Cirebon. Namun, secara pasti tidak ada yang mengetahui sejarahnya. Di keraton dan beberapa rumah di Cirebon ditemukan gambar kaca yang didiuga dibuat awal abad ke-19.

Menurut Halimi, seorang pemerhati lukisan kaca Cirebon, tema dan gaya lukisan kaca Cirebon dipengaruhi budaya Cina, Islam serta cerita wayang. Pengaruh Cina sangat kuat lantaran sejak abad ke-16, Kota Udang ini telah disinggahi para pedangan dari Negeri Tirai Bambu yang tanpa sengaja telah memperkenalkan ragam seni kepada penduduk pribumi. Sehingga, timbul gagasan di kalangan perupa tradisional untuk membuat gambar di atas kaca dan menirunya.

Pengaruh Islam yang disebarkan para wali juga menjadi ciri dari lukisan kaca Cirebon. Bahkan setelah pengaruh Cina, gambar-gambar yang dihasilkan seniman tradisional selalu berhubungan dengan Islam, seperti gambar kabah, masjid dan kaligrafi berisi ayat-ayat Al Quran maupun hadist.

Adapun pengaruh cerita wayang berasal dari pertunjukan wayang yang diperagakan para wali untuk menyebarkan agama Islam. Kuatnya kepercayaan tokoh wayang yang baik, membuat para perajin lukisan kaca selalu menampilkan tokoh seperti Kresna, Arjuna, Rama, Lasmana dan lain-lain.

Berkembang
Senada dikatakan Muji, perajin lukisan Cirebon, lukisan kaca tak ubahnya sebuah karikatur yang dimuat pada sebuah surat kabar. Bedanya, karikatur bisa mencerminkan sikap, visi dan misi serta karakter sebuah surat kabar. Sementara, lukisan kaca murni pikiran sang pelukis yang acapkali dianggap agak kurang waras.

Muji menambahkan, corak dan gaya, termasuk tema, terus mengalami pertumbuhan pembaruan juga pergeseran. Namun, berangkat dari satu titik bernama kreativitas. Kreatif dalam mengolah, menyeleksi, menuangkan ide, mengeksekusi dalam teknik gambar yang prima. Kreativitas juga menjadikan lukisan kaca terus mengalami perkembangan.

Saat ini, tambah Muji, muncul semangat revivalitas (kebangkitan kembali) lukisan di atas kaca yang berkembang terengah-engah dan kembang-kempis karena kurangnya kegiatan pameran lukisan jenis ini dan minimnya promosi serta apresiasi.

Di balik selembar kaca, orang bisa menikmati keelokan garis, warna, pola hias yang memukau. Ada pula suasana segar lewat gambar-gambar yang lucu penuh humor dan sinis. Tapi, menyapa secara santun dengan kritik-kritik yang tepat.

 

Meubel Rotan

CIREBON seharusnya tak lagi hanya disebut sebagai kota udang, khususnya di wilayah III Cirebon. Pasalnya, yang justru berkembang pesat di sini bukan bisnis per-udang-an, tetapi mebel rotan. Lihat saja lima kabupaten di wilayah itu, yakni Kuningan, Majalengka, Indramayu, Cirebon, dan Kota Cirebon, yang nyaris di beberapa sudutnya dengan mudah dapat ditemukan perusahaan atau industri rotan rumahan.

Di antara hamparan sawah berdiri perusahaan-perusahaan mebel rotan yang dikelilingi tembok-tembok tinggi. Masuk lagi ke dalam jalan-jalan kecil, seperti di Desa Karangsari, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, pemandangan kegiatan pembuatan mebel rotan menjadi hal yang amat biasa.

Bisnis mebel rotan dan denyut Cirebon seakan tak terpisahkan. Kini, lebih dari 400.000 orang penduduk menggantungkan hidup dari mebel rotan. Walau kerajinan rotan bukan barang baru bagi masyarakat setempat, puncak kejayaan mebel rotan terjadi pada saat pemerintah menghentikan ekspor rotan asalan-bahan baku mebel rotan-tahun 1986.

Menurut data realisasi ekspor mebel rotan Cirebon saja-tidak termasuk kerajinan tangan yang umumnya berbahan baku limbah mebel rotan-dari tahun ke tahun grafiknya bergerak naik. Menurut catatan Asosiasi Industri Permebelan & Kerajinan Indonesia (Asmindo) Komisariat Daerah Cirebon yang dikutip dari sumber data Depperindag Kabupaten Cirebon tahun 1999 tercatat senilai 84,38 juta dollar AS, tahun 2000 menjadi Rp 91,55 juta dollar, tahun 2003 sebesar 101, 67 juta dollar, dan tahun 2004 sekitar 116,57 dollar AS.

Semua itu baru nilai ekspor mebel rotan yang berasal dari Cirebon dan tidak termasuk mebel rotan buatan Cirebon yang diekspor melalui Jakarta atau kota lainnya di Indonesia.

 

Manisan Cirebon

Toko Sinta terletak di Jalan Lemahwungkuk No. 37 Cirebon. Tidak jauh dari pasar tradisional dan Keraton Kanoman, merupakan toko yang menjual segala macam aneka oleh-oleh khas Cirebon.

Toko ini memiliki ciri tersendiri yaitu mengolah makanan rakyat dengan cara penggunaan teknologi modern sehingga terdapat nilai lebih dalam hal mutu, rasa, penyajian, dan penampilan kemasan dari setiap makanan yang dijualnya. Hal ini memberikan kesan bersih dan higienis. Maka tak heran jika harganya pun sedikit lebih mahal dibandingkan dengan toko-toko sejenis lainnya. Untuk pembelian dalam jumlah kecil Toko Sinta sudah menyediakan kemasan plastik dengan berat kira-kira 200 gram.

Adapun untuk manisannya, pengolahannya dilakukan sendiri. Buah-buahnya dipasok oleh para petani yang sudah menjadi langganan Toko Sinta selama bertahun-tahun. Hasilnya adalah manisan buah yang kualitasnya sangat baik. Jenis manisan buah yang terdapat di Toko Sinta antara lain manisan sirsak, manisan mangga, manisan anggur, manisan frambozen, manisan papaya serut, manisan pala kembang, manisan jahe, dan banyak lagi.

Selain itu terdapat pula manisan cair seperti manisan mangga, asinan mangga, manisan salak, manisan papaya. rnrnUntuk jenis makanan kering terdapat keripik melinjo, rangginang rasa keju, rangginang rasa jagung bakar, rangginang ebi, sempe jambu merah, sempe pisang, dan sempe putih, emping manis, emping asin, kerupuk ikan dan kerupuk udang.

Aneka sirop khas Cirebon dengan warna-warna yang memikat asli buatan toko tersebut antara lain sirop leci, mangga, jeruk nipis, dan nanas, selasih, jahe, pisang susu, dan frambozen. Sirop khas Cirebon lainnya yaitu Campolay dengan rasa mangga gedong, roozen roos, dan asam jeruk. Selain terkenal dengan manisan olahannya sendiri, Toko Sinta juga menjual berbagai panganan kecil lainnya seperti Kue Satu Kacang Hijau, kulit ceker ayam, teri belah goreng, ikan jambal, gula merah dan lain-lain.

 
More Articles...
English Chinese (Simplified) French Indonesian Japanese
Kepala Disporbudpar
hj.hayat.jpg